H.6 Prosiding SNST ke-10 Tahun 2019 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim 31 PEMANFAATAN CANGKANG KERANG DARAH SEBAGAI CAMPURAN AGREGAT BETON TAHAN AIR LAUT Yusril Hardian, Ahmad Alvin Nuha, Bagas Prayustiko dan Agus Bambang S Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang JL. Pawiyatan Luhur, Bendan Dhuwur, Semarang * Email: yusrilhardian@gmail.com Abstrak Beton tahan air laut harus memiliki kerapatan dan proteksi katodik untuk mencegah kerusakan material dari korosi. CaO merupakan katalis heterogen yang mampu bertahan dari korosi. Dalam penelitian ini menggunakan Kulit kerang darah sebagai campuran beton tahan air laut, karena memiliki kandungan CaO sebesar 36,25 %. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan perencanaan mix desaign beton mengacu pada SNI 03-2834-2000, nilai faktor air semen yang digunakan sebesar 0,45 sesuai SNI 03-2914-1992 menghasilkan perbandingan semen:pasir:kerikil sebesar 1:1,9:2,8 dengan kuat tekan rencana 18,625 MPa. Untuk mengetahui pengaruh gradasi butir agregat halus 2,45 mm dan 4,75 mm dengan prosentase cangkang kerang sebesar 5%, 7,5%, 10%, serta pengaruh perendaman beton di air laut dan air tawar terhadap kuat tekan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, kuat tekan optimum sebesar 420 N atau 23,78 MPa dengan campuran 5% dan gradasi 4,75 mm pada perendaman air tawar. sementara untuk pengujian kuat tekan beton perendaman air laut, diperoleh kuat tekan optimum sebesar 380 KN atau 21,15 MPa dengan campuran 10% dan gradasi 2,45mm. Kata kunci: Beton, Cangkang Kerang, kuat tekan. 1. PENDAHULUAN Lingkungan Laut Berdasarkan UNCLOS (1982) yang diratifikasikan oleh Indonesia dengan UU. No.17 Tahun 1985, total luas wilayah di Indonesia adalah 5,9 Juta km 2 dengan wilayah laut sebesar 3,2 Juta km 2 yakni lebih besar daripada daratan. Dalam usaha memajukan sektor kelautan dan perikanan, pada tahun 2018 Kementrian Perhubungan Republik Indonesia telah menambah tol laut menjadi 15 trayek atau rute. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1990). Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut Menurut Lyman dan Fleming kandungan air laut yaitu: NaCl (68,1%), HgCl 2 (14,4%), NaSO4 (11,4%), KCl (3,9%), CaCl2 (3,2%), NaHCO3 (0,3%), KBr (0,3%), lain-lain (0,1%). Kandungan garam – garam sodium tersebut menjadi unsur yang sangat berbahaya apabila bergabung dengan campuran beton (Nugraha, 2007). Beton Beton adalah campuran antara semen, agregat dan air yang dicampur sampai homogen dan mengeras dalam waktu tertentu (Mulyono, 2000). Parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah kualitas semen, proporsi semen terhadap campuran, kekuatan dan kebersihan agregat, interaksi atau adhesi antar pasta semen dengan agregat, pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton (Nawy, 1985). Agregat Agregat adalah suatu deposit atau modifikasi terbentuk melalui proses geologi. Butir-butir agregat dapat bersifat kurang kuat karena dua hal, yaitu terdiri dari bahan yang lemah atau terdiri dari partikel yang kuat tetapi tidak baik dalam hal pengikatan (interlocking), dan porositas yang besar dapat mempengaruhi keuletan yang menentukan ketahanan terhadap beban kejut (Indira , dkk., 2017). Guna mencapai hasil yang terbaik untuk campuran beton, maka agregat harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah diatur dalam SNI 03-1968-1990 yakni ukuran maksimum agregat halus adalah tertahan ayakan 4,8 mm. Sementara agregat kasar agregat yang terdiri dari butir- butir dengan besar lebih dari 5 mm.