115 © 2022, Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP © 2022 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 20 Issue 1 (2022) : 115-126 ISSN 1829-8907 Identifikasi dan Pencegahan Daerah Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Berbasis Sistem Informasi Geografis Di Kalimantan Barat Tamas Faiz Dicelebica, Aji Ali Akbar , dan Dian Rahayu Jati Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak 78124, Kalimantan Barat. Indonesia. ABSTRAK Kalimantan Barat memiliki potensi bencana kebakaran hutan dan lahan gambut yang tinggi karena banyaknya titik api dan jenis lahan gambut yang mudah terbakar pada musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan dan menentukan kecenderungan titik pamas dan mengidentifikasi dan mencegah kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan gambut dengan data hotspot, peta curah hujan, peta tutupan lahan, peta kesatuan hidrologis gambut, dan peta cekungan air tanah menggunakan Sistem Informasi Geografis atau SIG. Metode overlap digunakan untuk menganalisis kecenderungan titik panas sedangkan Overlay dan Scoring digunakan untuk mengidentifikasi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan. Setelah dilakukan analisis titik panas, terdapat kecenderungan curah hujan pada kelas curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun dengan 2.192 kejadian. Perubahan tutupan lahan di kawasan hutan mengalami penurunan sebesar 7,96%. Peningkatan tutupan lahan di kawasan non- hutan sebesar 11,26%, mempengaruhi potensi dan kecenderungan titik api dan bencana kebakaran hutan dan lahan. Kubu Raya memiliki tingkat kerawanan bencana kebakaran pada kelas sangat rawan dengan luasan 0,26%, dan Kapuas Hulu memiliki tingkat kerawanan bencana kebakaran pada kelas tidak rawan dengan luas 0,19%. Kabupaten Ketapang merupakan daerah dengan tingkat pencegahan tertinggi, dengan luas cekungan airtanah sebesar 26,46%. Kata kunci: Rawan Kebakaran, Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Titik Panas, Cekungan Air tanah Sistem Informasi Geografis, ABSTRACT West Kalimantan has a high potential for forest and peatland fire disasters due to the high number of hotspots and the type of peatland which burns easily during the dry season. The purpose of this research is to map and determine the trend of hotspots and areas prone to forest and peatland fires and prevent them with hotspot data, rainfall maps, land cover maps, maps of peat hydrological units, and maps of groundwater basins using Geographic Information Systems or GIS. The overlap method is used to analyze the trend of hotspots; meanwhile, Overlay and Scoring are used to identify areas prone to forest and land fires in this research. After analyzing the hotspots, there is a tendency for rainfall with a class of 1,500-3,000mm/year with 2,192 events. Land cover change in forested areas decreased by 7.96%. It increased land cover in non-forest areas by 11.26%, affecting the potential and tendency of hotspots and forest and land fire disasters. Kubu Raya has a fire disaster vulnerability level in the very vulnerable class with an area of 0.26%, and Kapuas Hulu has a fire disaster vulnerability level in the non-prone class with an area of 0.19%. Ketapang Regency is the area with the highest prevention rate, with a groundwater basin area of 26.46%. Keywords: Fire Disaster Vulnerability, Forest and Peatland Fire Disasters, Hotspots, Groundwater Basins, Geographic Information Systems, Citation: Dicelebica, T.F., Akbar, A.A., dan Rahayu, Dian Jati. (2022). Identifikasi dan Pencegahan Daerah Rawan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(1),115-126; doi:10.14710/jil.20.1.115-126 1. Pendahuluan Bencana kebakaran hutan dan lahan atau dapat disingkat (karhutla) terjadi setiap tahun di Indonesia, hal ini di latarbelakangi adanya kebutuhan penggunaan lahan masyarakat yang terus bertambah untuk pertanian maupun permukiman (Hoscilo dkk., 2011). Penyebab dari kebakaran hutan dan lahan khususnya pada lahan gambut ini terjadi karena alih fungsi lahan, sebagian besar menjadi perkebunan kelapa sawit. Sekitar 90% proporsi tutupan lahan, Penulis email korespondensi: aji.ali.akbar.2011@gmail.com sebagian hutan (primer, bekas tebangan, dan lahan pertanian) mengalami perubahan fungsi lahan (Carlson dkk., 2013). Selama lima tahun terakhir, Kalimantan Barat menjadi daerah yang sering terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut. Hal ini dikarenakan Provinsi Kalimantan Barat yang terletak di pulau Kalimantan merupakan pulau yang memiliki jenis lahan gambut selain pulau Sumatera dan Papua.. Provinsi ini merupakan daerah yang dilalui garis khatulistiwa dan