Sad Tanti: Rakyat dalam bingkai budaya politik... 185 Jurnal Visi Komunikasi Volume 13, No. 02, November 2014: 185 - 199 RAKYAT DALAM BINGKAI BUDAYA POLITIK KONTEMPORER Dewi Sad Tanti Universitas Mercu Buana e-mail: dstanti@gmail.com Abstract : Each political party or figure Indonesian leader of the party or non- party represents the interests of diverse nature. The condition is triggered by the polarization of the political parties with different ideological background , programs , and offer alignments to the people. The interesting thing , every action figure Indonesian leaders are constantly behalf of the people . The issue is where the real people are represented by political parties in Indonesia ? Is alignments framework prominent leader of the dominant or only limited mobilization articulate the needs of real people ? By using social semiotic analysis , the study outlines the cultural meaning action figures leaders of Indonesia on behalf of the people and the establishment of contemporary political culture in the cover photo to see their Facebook social media Keywords: discourse, people, political culture Abstrak : Setiap partai politik atau tokoh pemimpin Indonesia dari partai atau non partai mewakili berbagai kepentingan yang beraneka ragam. Kondisi itu dipicu oleh polarisasi partai-partai politik dengan aneka latar ideologi, program, dan tawaran keberpihakan kepada rakyat. Hal yang menarik, setiap aksi tokoh pemimpin Indonesia tersebut senantiasa mengatasnamakan rakyat. Persoalannya rakyat mana sesungguhnya yang diwakili oleh partai politik yang ada di Indonesia? Apakah kerangka keberpihakan tokoh pemimpin dominan hanya sebatas mobilisasi ataukah mengartikulasikan kepentingan rakyat sesungguhnya? Dengan menggunakan analisis semiotik sosial, kajian ini mencoba menjabarkan makna kultural aksi para tokoh pemimpin Indonesia yang mengatasnamakan rakyat dan pembentukan budaya politik kontemporer di tampilan foto sampul media sosial Facebook mereka. Kata kunci: wacana, rakyat, budaya politik. PENDAHULUAN Suasana menjelang bulan April semakin terasa, khususnya tanggal 9 April saat Indonesia menyelenggarakan Pemilu. Setiap partai politik mewakili berbagai kepentingan yang beraneka ragam. Kondisi itu dipicu oleh polarisasi partai-partai politik dengan aneka latar ideologi, program, dan tawaran keberpihakan kepada rakyat. Keberagaman partai, keberagaman latar belakang politisi atau tokoh pemimpinnya dan ditambah dengan ragam media Komunikasi Politik terkadang membuat praktik politik semakin tidak mudah di pahami. Belum lagi tujuan politik yang berkaitan dengan kekuasaan, di manakah keputusan politik bisa dianalisis dari aspek aspek-aspek keberhasilan proses demokrasi dan kesejahteraan rakyat? Hal yang menarik, iklan politik sebagai bentuk kampanye politik menggunakan media social baik twitter atau facebook . Media social digunakan oleh para tokoh pemimpin Indonesia dari partai politik atau non partai (belum dicalonkan oleh partai politik tertentu) .