p-ISSN: 2301-6949 Power Elektronik : Jurnal Orang Elektro, Vol.10, No.2, 2021. e-ISSN : 2715-5064 35 Idris Afandi: Analisis Pengujian Kapasitas Baterai Analisis Pengujian Kapasitas Baterai 110 Volt Group 2 (Sistem 500 kV) GITET Mandirancan Idris Afandi 1 *), Rahmat Hidayat 2 , dan Insani Abdi Bangsa 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang, Karawang 1,2,3 Jln. HS. Ronggo Waluyo, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41361, Indonesia email: 1 idris.afandi17016@student.unsika.ac.id, 2 rahmat.hidayat@staff.unsika.ac.id, 3 iabdi.bangsa@ft.unsika.ac.id Abstract Battery is a DC system device, its existence is very important in the world of electricity to maintain the stability of the DC system. Battery function in Extra High Voltage Substation (GITET) as a backup to supply DC device components such as relays, PMS (Disconnecting Switch), PMT (Voltage Breaker), and SCADATEL telecommunication devices. In the event of blackout, the rectifier does not get a power supply whose function is to convert the AC to DC power current to meet the needs of the DC device lsitrik supply remains active and working, so that the battery that replaces the role of the rectifier to maintain the stability of the DC system until the repair is complete. To maintain the stability and feasibility of battery function, routinely conducted tests on batteries carried out once every 2 years. This paper will compare the data of test results conducted in 2018 and 2020. From the results of the comparison data obtained the function of the state of the battery. Testing the battery capacity through 4 stages, floating is a battery in a full charger does not receive and emits current under normal circumstances the battery is connected to the rectifier. Equalizing aims to equalize and level the voltage value on each battery cell. Dischaerge Battery is a battery testing process to obtain a total efficiency capacity value (Ah) of the battery. When the battery is discharged large, the next step is boosting to restore the voltage value at a normal state (floating) 1.40-1.44 volts. Keywords Total Efficiency Capacity, Floating, Equalizing, Boosting, Battery Emptying Abstrak Baterai merupakan perangkat sistem DC, keberadaannya sangat penting di dunia kelistrikan untuk menjaga kestabilan sistem DC. Fungsi baterai di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) sebagai cadangan untuk menyuplai komponen perangkat DC seperti relai, PMS (Disconnecting Switch), PMT (Pemutus Tegangan), dan perangkat telekomunikasi SCADATEL. Apabila terjadi blackout, maka rectifier tidak mendapatkan pasokan listrik yang fungsinya mengubah arus listrik AC menjadi DC untuk memenuhi kebutuhan pasokan lsitrik perangkat DC tetap aktif dan bekerja, sehingga baterai yang menggantikan peran rectifier untuk menjaga kestabilan sistem DC sampai perbaikan selesai. Untuk menjaga kestabilan dan kelayakan fungsi baterai maka secara rutin dilakukan pengujian terhadap baterai yang dilaksanakan 2 tahun sekali. Penulisan ini akan membandingkan data hasil pengujian yang dilaksanakan pada tahun 2018 dan tahun 2020. Dari hasil data pembanding didapatkan fungsi keadaan baterai. Pengujian kapasitas baterai melalui 4 tahapan yakni floating merupakan baterai dalam keadaan full charger tidak menerima dan mengeluarkan arus pada keadaan normal baterai terhubung dengan rectifier. Equalizing bertujuan untuk menyamakan dan meratakan nilai tegangan pada tiap sel baterai. Proses pengosongan baterai (Dischaerge Battery) merupakan proses pengujian baterai untuk mendapatkan nilai kapasitas efesiensi total (Ah) baterai. Ketika baterai mengalami pengosongan besar maka langkah selanjutnya dilakukan boosting untuk mengembalikan nilai tegangan pada keadaan normal (floating) 1.40-1.44 volt. Kata Kunci Kapasitas Efesiensi Total, Floating, Equalizing, Boosting, Pengosongan Baterai I. PENDAHULUAN Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) merupakan suatu sistem instalasi listrik berperan sebagai transmitter dengan susunan dan rangkaian sejumlah komponen yang menempati lokasi tertentu yang berfungsi untuk menerima atau menyalurkan tenaga listrik, menaikkan atau menurunkan tegangan yang sesuai dengan settingan agar terjadi kestabilan dan tetap handal dalam proses menunjang keandalan sumber tenaga listrik serta berfungsi sebagai switching atau pensaklaran pada sistem tenaga listrik [1]. Dalam penggunaaan tenaga listrik terdapat dua macam sumber tenaga untuk kontrol di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi, yakni sumber arus searah (DC) dan sumber arus bolak-balik (AC). Sumber daya sistem untuk kontrol harus mempunyai kehandalan dan kestabilan yang baik. Sistem DC pada gardu induk terdiri dari rectifier untuk mengkonversi arus AC menjadi arus DC dan baterai. Peranan sistem DC yakni baterai di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi sangat penting seperti penggunaan motor penggerak pada PMS (Pemutus Tegangan), PMT (Disconnecting Switch), SCADATEL, dan relai. Untuk menjaga kestabilan sistem DC maka secara rutin dilakukan pengujian terhadap baterai untuk mengetahui kapasitas efesiensi total (Ah) yang digunakan sebagai parameter untuk mensuplai ke perangkat DC dengan arus maksimal dan total waktu yang digunakan ketika terjadi perbaikan atau anomali pada sistem catu daya AC. Pengujian baterai yang dilakukan merupakan agenda rutin dilakukan selama 2 tahun sekali. Untuk pemeliharaan harian dapat dilakukan pemeriksaan secara visual (penglihatan), sedangkan pemeliharaan bulanan dilakukan dengan memeriksa tegangan dan arus baterai. Perbandingan hasil data pengujian baterai 2 tahunan yakni studi kasus tahun 2018 dan 2020 yang mendasari penulisan ini sehingga diketahui nilai kapasitas efesiensi total (Ah) pertahunnya apakah mengalami penurunan atau stabil nilainya, serta didapatkan tegangan per sel baterai saat menggunakan metode pengisian floating, equalizing, boosting dan pengosongan baterai. *) penulis korespondensi: Idris Afandi Email: idris.afandi17016@student.unsika.ac.id II. PENELITIAN YANG TERKAIT Penelitain sebelumnya memberikan gambaran sebagai bahan referensi untuk penelitian ini, adapun penulisan ini mempunyai perbedaan atau inovasi dalam membandingkan data saat penetilian dilakukan tahun 2020 dengan data