35 Tiga Pelukis Potret Wajah Kepala Negara (Mikke Susanto, Lono L. Simatupang dan Timbul Haryono) TIGA PELUKIS POTRET WAJAH KEPALA NEGARA PASCA PRESIDEN SUKARNO DI ISTANA KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA Mikke Susanto, Lono L. Simatupang dan Timbul Haryono 1 Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Jalan Parangtritis Km 6,5 Yogyakarta Email: dan_mikke@yahoo.com Abstrak Kepala negara adalah representasi bangsa. Karenanya, setiap kepala negara memiliki keistimewaan untuk diabadikan, baik pada sebidang kanvas maupun selembar foto secara resmi. Lukisan potret menjadi pilihan yang menarik, tidak hanya berfungsi sebagai penghias dinding istana, tetapi juga memiliki fungsi lainnya yang bersifat sosial maupun personal. Pada era Presiden Sukarno terdapat jabatan pelukis istana. Setelah era berganti, tradisi itu tidak ada lagi. Istana akhirnya memesan lukisan-lukisan potret pada tiga pelukis potret di luar istana: IB Said, Soetarjo, dan Warso Susilo. Artikel tentang riwayat para pelukis istana telah ditulis dalam sejumlah buku dan artikel, namun tidak dengan ketiga pelukis ini. Padahal mereka melukis wajah para kepala negara sejak 1960-an hingga dekade pertama 2000. Artikel ini ingin membahas keberadaan dan proses kreatif mereka melalui pendekatan sejarah. Di samping itu tulisan ini juga ingin mengetahui sejauh mana nilai-nilai karya yang dihasilkannya. Kesimpulannya cukup mengejutkan, mereka melukis dan mendudukan lukisan potret bukan sebagai karya pribadi. Inilah potret presiden pesanan, dimana pelukis hanya menjalani tugas sebagai instrumen mimetik atas realitas, bukan interpretator. Karya seninya, meskipun bersifat potret formal kepala negara, juga memiliki arti penting bagi wacana politik dan kekuasaan. Kata kunci: lukisan, potret, presiden, kepala negara THREE PORTRAITURE PAINTERS OF THE LEADER OF THE STATE AFTER SUKARNO’S ERA IN PRESIDENTIAL PALACE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA Abstract Head of state is a nation’s representation. Therefore, every president has the privilege of being immortalized, both on a canvas and photography. Portrait painting becomes an interesting option, not only serves as a decoration, but also have social and personal functions. President Sukarno had three court painters. After that era, this tradition no longer exists. The Palace ordered portraits on three portrait painters: IB Said, Soetarjo, and Warso Susilo. Research about the history of the court painters have been written in a number of books and articles, but not with these three painters, though they painted from the 1960s to the frst decade of 2000. This article wants to discuss their existence and creative process through historical approach. In addition, this paper also wants to know the extent to which the value of the work it produces. The conclusion, they paint and portrait paintings portraiture not as a personal work. The painter only serves as a mimetic instrument of reality, not an interpreter. His artwork, although a formal or state portrait, also has signifcance for discourse of political and power. Keywords: painting, portrait, president, leader of state 1 Artikel ini merupakan bagian dari disertasi penulis, dikembangkan dari Bab 2 yang membahas perihal sejarah koleksi istana presiden. Disertasi yang bertajuk “Penguatan Indikator-indikator Penetapan Harga pada Panduan Penilaian Koleksi Karya Seni Istana Kepresidenan Republik Indonesia”, dibimbing oleh dua promotor, yakni Dr. Lono Lastoro Simatupang dan Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. pada Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (PSPSR UGM) Yogyakarta, 2018.