POTENSI SATWA LIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA NANTU PROVINSI GORONTALO Marini Susanti Hamidun 1) , Dewi Wahyuni Baderan 1) , Meilinda Lestari Modjo 2) 1 Jurusan Biologi Fakultas MIPA, Universitas Negeri Gorontalo 2 Jurusan Pariwisata Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo email: marinish70@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi satwa liar untuk pengembangan ekowisata di kawasan Suaka Margasatwa Nantu di Provinsi Gorontalo. Kawasan Suaka Margasatwa Nantu merupakan hutan hujan tropis yang memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Pengumpulan data merupakan gabungan metode terkonsentrasi dan metode perjumpaan. Metode terkonsentrasi dilakukan pada lokasi salt-lick yaitu kubangan lumpur bergaram tempat berkumpulnya satwa-satwa untuk mencari makan dan berendam. Sedangkan metode perjumpaan dilakukan pada jalur tracking, baik perjumpaan secara langsung, maupun tidak langsung yang berdasarkan suara, jejak, sarang, bekas makan, kotoran, dan goresan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengidentifikasi setiap jenis satwa yang dijumpai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan SM Nantu tercatat 20 jenis satwa, 5 spesies diantaranya bersifat endemik dan dilindungi, serta 56 jenis burung, 25 spesies diantaranya bersifat dilindungi dan endemik. Kata kunci : suaka margasatwa nantu, satwa endemik, salt-lick PENDAHULUAN Kawasan konservasi Suaka Margasatwa Nantu merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi perlindungan, pengawetan sumber daya alam dan budaya secara global, yang memberikan nilai bagi perlindungan habitat alam beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya, serta memelihara keseimbangan lingkungan sekitarnya, yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Tujuan pengelolaan di atas dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) aspek utama yaitu: konservasi, penelitian, pendidikan, dan kepariwisataan. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan konservasi yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa, dengan fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa beserta ekosistemnya dan sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Secara administratif, SM Nantu terletak di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Gorontalo Utara. Pertama kali ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa pada tahun 1999 dengan luas 31.215 Ha. Kawasan ini kemudian diperluas menjadi 51.507,33 Ha dengan SK Menhut No.325/Menhut-II/2010. SM Nantu merupakan bagian dari bio-geografi Wallacea yang kaya akan keanekaragaman hayati, zona campuran antara fauna Asia dan Australia. Kawasan ini juga merupakan tempat terbaik bagi satwa endemik, khususnya babi rusa di daratan Sulawesi, karena memiliki kubangan air panas yang mengandung sulfur bergaram (salt lick). Paradigma baru pengelolaan kawasan konservasi bertujuan untuk mengurangi ketergantungan dana pengelolaan dari pihak luar dan melakukan konservasi dengan biaya sendiri. Ini dapat dilakukan melalui pengembangan pemanfaatan berbagai potensi kawasan dan mampu mengarahkan pada orientasi bisnis yang dilakukan dalam koridor-koridor pemanfaatan yang menjamin kelestariannya. Ekowisata merupakan konsep operasional dari konsep pembangunan berkelanjutan, yang merupakan kegiatan konservasi yang dapat menjembatani kepentingan pemerintah dalam