12 e-ISSN : 2621-5934 p-ISSN : 2621-7112 SUBMISSION 26 Pemetaan Bahan Baku dan Analisis Teknoekonomi Biodiesel dari Kelapa Sawit Tri Yuni Hendrawati 1,* dan Anwar Ilmar Ramadhan 2 1 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jakarta, Indonesia 2 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jakarta, Indonesia Abstrak. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan pembangkitan tenaga listrik. Biodiesel salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak mempunyai efek terhadap kesehatan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dapat menurunkan emisi bila dibandingkan dengan minyak diesel. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan bahan baku dan analisis teknoekonomi produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit. Metode penelitian yang digunakan untuk pemetaan bahan baku dengan pengolahan data kuantitatif dari data sekunder dan pemilihan protitasnya dengan AHP. Berdasarkan analisis AHP dan kondisi obyektif maka hasil pemilihan bahan baku biodiesel yang potensial berdasarkan prioritas terbaik di tingkat Nasional adalah kelapa sawit. Hasil analisis teknoekonomi layak dari sisi kelayakan finansial pada kapasitas produksi biodiesel sawit sebesar 100.000 ton/tahun atau 300 ton/hari. Dengan tingkat konversi 98%, jumlah CPO yang dibutuhkan oleh pabrik biodiesel ini adalah sebanyak 102.041 ton/tahun atau 306 ton/hari. Kebutuhan CPO sebesar itu disuplai dari kebun sawit dengan luasan 19.254 ha. Kebutuhan investasi Rp 312.281.574.733,-, dengan kriteria kelayakan Net B/C (Benefit/Cost) 1,51; IRR (Internal Rate of Return) lebih besar dari 12% yaitu 23,26%; NPV (Net Present Value) positif Rp 180.442.308.382,-; Pay Back Period (PBP) pada tahun ke 6,66 tahun dan HPP (Harga Pokok Produksi) biodiesel sebesar Rp 6.938,- /kg ≅ Rp 6.938,- /liter. Dengan HPP sebesar Rp 6.938,- /kg ditetapkan harga jual biodiesel sawit sebesar Rp 8.000,-/kg. Kata kunci—teknoekonomi; biodiesel; sawit; AHP; HPP 1. PENDAHULUAN Pengembangan bioenergi di dalam negeri merupakan hal yang mendesak untuk direalisasikan. Ketersediaan energi fosil dalam negeri yang semakin menipis menjadikan pengembangan bioenergi merupakan prioritas utama yang harus dilakukan demi terjaganya kesinambungan ketersediaan energi dalam negeri. Sebagai negara agraris di kawasan tropis, Indonesia memiliki berbagai jenis sumber bahan baku nabati yang dapat diolah menjadi biofuel. Namun demikian dari sekian banyak potensi sumber bahan baku nabati yang ada, baru beberapa tumbuhan saja yang sudah dimanfaatkan untuk keperluan komersial seperti kelapa sawit, kelapa, kacang-kacangan, tebu, aren dan singkong. Sementara sebagian besar tanaman yang lain belum termanfaatkan, bahkan belum pernah digali potensinya [1,2]. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi di dunia namun sampai saat ini masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar minyak di sektor transportasi dan energi. Kenaikan harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini memberi dampak yang besar pada perekonomian nasional, terutama dengan adanya kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan pembangkitan tenaga listrik. Dalam jangka panjang impor BBM ini akan makin mendominasi penyediaan energi nasional apabila tidak ada kebijakan pemerintah untuk melaksanakan penganekaragaman energi dengan memanfaatkan energi terbaharukan dan lain-lain. Biodiesel salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak mempunyai efek terhadap kesehatan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dapat menurunkan emisi bila dibandingkan dengan minyak diesel [3,4]. Biodiesel terbuat dari minyak nabati yang berasal dari sumber daya yang dapat diperbaharui. Beberapa bahan baku untuk pembuatan biodiesel antara lain kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, jarak pagar, tebu dan beberapa jenis tumbuhan lainnya [5,6]. Dari beberapa bahan baku tersebut di Indonesia yang punya prospek * Corresponding author: yuni.hendrawati@ftumj.ac.id