MEMBANGUN DIGITAL LIBRARY: SUATU PENGALAMAN UPT PERPUSTAKAAN IPB 1 Oleh Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc 2 Pendahuluan Perpustakaan digital merupakan suatu tuntutan dalam perkembangan layanan perpustakaan saat ini. Oleh karena itu pengembangan ke arah itu mau tidak mau harus diikuti. Jika tidak maka perpustakaan itu akan ditinggal oleh penggunanya. Dengan infrastruktur yang semakin “murah” dan SDM yang semakin banyak yang menguasai teknologi komputer dan komunikasi, maka sebenarnya jalan ke arah perpustakaan digital ini semakin terbuka. Sengaja saya katakan infrastruktur “murah” disini dimaksudkan bahwa untuk merealisasikan mimpi membangun perpustakaan digital kita tidak harus berpikir bahwa kita harus membeli teknologi komputer yang paling mutakhir (misalnya saat ini membeli pentium IV). Namun cukup membeli hardware yang sesuai dengan kebutuhan kita. Misalnya untuk keperluan katalog online kita cukup menggunakan komputer dengan spesifikasi 80486 yang saat ini harganya paling tinggi hanya 1 juta per unit (bandingkan dengan komputer pentium IV yang mencapai 6 juta). SDM di perpustakaan semakin banyak yang menguasai teknologi komputer dan komunikasi dapat kita manfaatkan secara maksimal. Barangkali di perpustakaan kita tidak memiliki SDM seperti itu, namun kita bisa “share” dengan perpustakaan lain. Kita bisa minta bantuan perpustakaan lain atau paling tidak kita bisa belajar ke perpustakaan lain untuk dapat menguasai teknologi ini. Pengalaman Perpustakaan IPB Perpustakaan IPB pada mulanya sama dengan perpustakaan lain yaitu tidak punya sumberdaya yang mendukung. Pada awal 1990an Perpustakaan IPB hanya memiliki 1 unit komputer 80286 yang sudah bekas, dan beberapa “bangkai” komputer XT (8087). SDM yang menguasai teknologi komputer baik hardware maupun software sangat terbatas. Namun demikian segelintir pustakawan memiliki cita-cita untuk menerapkan otomasi di perpustakaan. Mulailah segelintir pustakawan tersebut mengutak-atik bangkai komputer XT. Dari 4 unit bangkai, sesudah dikannibal menghasilkan dua unit komputer yang bekerja kembali. Pada saat perkembangan teknologi komputer sudah mencapai pentium IV, maka Perpustakaan IPB justeru mencari komputer bekas 80486 dan pentium 166 yang dapat dibeli dengan harga cuma 1 juta sampai 1,5 juta. Mengapa? Karena Perpustakaan IPB sadar bahwa perpustakaan tidak akan dapat melakukan otomasi jika peralatannya harus yang paling mutakhir. Alokasi anggaran perpustakaan tidak akan pernah bisa membeli komputer yang diinginkan. Selain itu segelintir pustakawan itu mulai mengutak-atik CDS/ISIS. Berbekal kemampuan programming (seadanya) yang dimiliki, dan bekal pelatihan CDS/ISIS (salah 1 Disampaikan pada pertemuan tahunan ke 3 IDLN di Bandung tanggal 11 – 13 April 2002 2 Kepala UPT Perpustakaan IPB