JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi 23, 1 (2023): 381-386 DOI: 10.33087/jiubj.v23i1.3158 http://ji.unbari.ac.id/index.php/ilmiah 381 Prospek dan Tantangan Agroedutourism di Moosa Edufarm Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat Imam Malik Tarigan*, James Hellyward, Budi Rahayu Tanama Putri Universitas Andalas Universitas Udayana *Correspondence email: tariganmamski@gmail.com Abstrak. Mengembangkan Agroedutourism perlu melihat prospek dan tantangan kedepan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis prospek dan tantangan agroedutourism di moosa edufarm kabupaten solok provinsi sumatera barat. Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara kepada pihak pengelola tersebut. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini yaitu dalam pengelolaan agroedutourism untuk perkandangan sapi dengan ukuran kandang dewasa yang saat ini maksimal menampung ternak 31.5 ekor atau 31.5 ST. Hal ini masih menunjukkan prospek dalam pengembangan ternak sapi kedepannya. Dalam hal daya dukung hijauan pakan ternak (KPPTR) Efektif, menunjukkan bahwa peningkatan populasi sapi di moosa tidak dapat dilakukan karna bernilai negatif (-) 24.14ST berdasarkan kebutuhan BK. Hal ini dikarenakan lahan hijauan rumput yang dikelola mandiri oleh Moosa Edufarm hanya 0.49 ha sedangkan jumlah populasi riil ST yakni 32.25. Hal ini akan menjadi sebuah tantangan kedepan bagi pengelola. Selain itu tantangan dalam pengelolaan agroedutoruism di Moosa Edufarm yakni adanya wabah penyakit yang menyerang pada manusia dan ternak sapi, pemasaran sapi wagyu yang hanya dapat dilakukan pada kalangan tertentu (konsumen menengah keatas). Kata kunci: Prospek dan Tantangan; Agroedutourism; Moosa Edufarm. Abstract. Developing Agroedutourism needs to look at the prospects and challenges ahead. The purpose of this study is to analyze the prospects and challenges of agroedutourism in moosa edufarm solok district of west sumatra province. This research was conducted by field observations and interviews with the management. Further the data obtained are analyzed descriptively. The results of this study are in the management of agroedutourism for cattle farming with adult pen sizes which currently accommodate a maximum of 31.5 heads or 31.5 ST livestock. This still shows prospects in the development of cattle in the future. In terms of the carrying capacity of animal feed forage (KPPTR) Effective, it shows that the increase in cattle population in moosa cannot be done because it is negative (-) 24.14ST based on BK needs. This is because the grass forage land managed independently by Moosa Edufarm is only 0.49 ha while the total real population of ST is 32.25. This will be a challenge going forward for managers. In addition, the challenges in managing agroedutoruism in Moosa Edufarm are the outbreak of diseases that attack humans and cattle, the marketing of wagyu cattle which can only be done to certain groups (middle and upper consumers). Keywords: Prospects and Challenges; Agroedutourism; Moosa Edufarm PENDAHULUAN Kabupaten Solok memiliki sebuah destinasi wisata edukasi yang dikembangkan oleh swasta yaitu Moosa Edufarm. Moosa Edufarm salah satu destinasi wisata yang fokus pada wisata edukasi peternakan yang berada di Lubuk Selasih Kabupaten Solok. Menurut (Bhuiyan et.al 2010) Kegiatan wisata dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan pendidikan tertentu yang bertujuan untuk merubah aspek kognitif, pengetahuan partisipatif, ketrampilan dan perilaku pembelajar. Moosa Edufarm memiliki daya tarik wisata berupa mengembangkan peternakan 2 bangsa sapi yakni Sapi Wagyu dan Sapi Frisien Holstein. Moosa Edufarm salah satu pionir dalam pengembangan Sapi Wagyu dan Sapi Frisien Holstein dengan konsep Wisata Edukasi. Selain itu, salah satu yang menjadikan Moosa Edufarm sebagai tempat berpotensi dikembangkan yaitu terletak di lokasi yang sejuk dengan rata-rata suhu 20ÂșC dan memiliki pemandangan yang masih asri. Adanya potensi lingkungan sejuk memungkinkan untuk kenyamanan bagi kebutuhan suhu lingkungan oleh ternak sapi FH dan wagyu. Agrowisata dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang menghasilkan pendapatan yang