PROSIDING SEMASTEK 2023 “APPLIED SCIENCE, ENGINEERING, AND TECHNOLOGY” Vol. 2 No. 1 (2023) ISSN: 2963-8526 381 ANALISA DAMPAK PENERAPAN KONSEP GREEN BUILDING PADA KEPUTUSAN INVESTASI PADA GEDUNG PERKULIAHAN Nico Dian Permana 1) , Erna Tri Asmorowati 2) Diah Sarasanty 3) Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Majapahit E-mail: 1 permana12dian@gmail.com, 2 asmoro1221@gmail.com, 3 diahsarasanty@gmail.com Abstrak Green building dianggap sebagai solusi dalam rangka mengurangi dampak negatif bangunan pada lingkungan. Di Indonesia, penerapan green building masih berjalan lambat. Banyak orang meyakini bahwa membangun bangunan hijau memerlukan harga awal yang tinggi. Meskipun demikian, upaya demi menerapkan prinsip bangunan hijau harus terus didorong agar para pengembang dapat memasukkan prinsip-prinsip ini dalam perencanaan pembangunan mereka. Pengembang perlu memiliki landasan yang kuat untuk menilai apakah mengadopsi konsep green building membuktikan bahwa ini adalah pilihan investasi yang cerdas.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel yang memiliki dampak paling signifikan dalam pelaksanaan konsep green building dalam keputusan investasi pada bangunan gedung perkuliahan. Hasil analisis dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa salah satu konsep green building yang sangat berpengaruh terhadap investasi adalah "Pemasangan Biofilter" yang digunakan untuk mengelola memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah air kotor atau limbah. sehingga dapat diolah menjadi air bersih yang dapat digunakan kembali. Selanjutnya, dengan menggunakan metode NPV (Net Present Value), diperhitungkan bahwa proyek dengan masa pakai selama 5 tahun ke depan menghasilkan hasil positif, yang menunjukkan bahwa penerapan konsep green building adalah keputusan investasi yang dapat diterima. Kata Kunci : Green Building , Keputusan Investasi, Gedung Perkuliahan Pendahuluan Bangunan memainkan peran penting dalam menyumbang pada perubahan iklim dan masalah kerusakan lingkungan. Bidang pembangunan bangunan berperan dalam kontribusi emisi karbon yang signifikan. Data dari IEA (International Energy Agency, 2015) menunjukkan bahwa sektor pengembangan bangunan menyumbang sekitar 34% dari total emisi gas CO2, menjadikannya sebagai posisi kedua tertinggi setelah sektor Industri pembangkit listrik yang berhasil mencapai 36,4%. Penggunaan energi yang besar juga terjadi di sektor bangunan karena melibatkan berbagai kelompok yang terlibat dalam sebuah proyek pembangunan termasuk pemilik bangunan, perencana, dan pembangun pengelola, dan penghuni. Menurut Kementerian ESDM (2013), sektor rumah tangga di Indonesia menggunakan sekitar 29% dari total konsumsi energi, sementara sektor industri mendominasi dengan konsumsi mencapai 41%. [1] Globalnya, sektor infrastruktur dan pembangunan fisik dari bangunan-bangunan mengkonsumsi sekitar 60% dari bahan alam yang diperoleh dari permukaan Bumi. (Bribian dkk., 2011). Di Amerika Serikat, meskipun hanya menyumbang 4% dari total populasi dunia, konsumsi sumber daya mereka mencapai 25% dari keseluruhan sumber daya yang digunakan di seluruh dunia (Teller dan Bergman 2010). Sebagian besar dari sumber daya ini, kira-kira sekitar 60% menurut USGBC, digunakan dalam industri bangunan. Di wilayah Eropa, setiap orang secara rata- rata mengeluarkan sekitar 4,8 ton mineral per tahun untuk keperluan pembangunan (Wadel, 2011). Penggunaan terbatas dan tak terbarui mineral memiliki dampak negatif pada lingkungan dan dapat mengakibatkan konsekuensi serius bagi manusia. Di Amerika Serikat, sektor lingkungan yang dibangun berkontribusi sekitar 65% dari total konsumsi energi (USGBC), di Uni Eropa (UE), persentase tersebut mencapai 42% (Nelson 2002). Selain itu, emisi karbon dioksida (CO2) dari sektor pembangunan lingkungan menyumbang sekitar 35-40% dari total emisi di kedua wilayah tersebut (Nelson 2002). Peningkatan drastis dalam penggunaan sumber daya yang menyebabkan polusi dan emisi ini menekankan pentingnya penghematan energi dalam usaha untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Para ahli berupaya mengembangkan pendekatan atau teknik baru untuk menghemat energi dan menggunakan pemanfaatan sumber daya alam dengan efisien, dan dari sinilah muncul istilah yang merujuk pada bangunan yang ramah lingkungan atau green