1 MENYIBAK FAJAR NASIONALISME INDONESIA Oleh: Dewi Yuliati * 1. Pendahuluan Nasionalisme dapat dipahami dari sudut pandang antropologi dan politik. Dalam dimensi antropologi, nasionalisme dipandang sebagai sistem budaya yang mencakup kesetiaan, komitmen, emosi, perasaan kepada bangsa dan negara, dan rasa memiliki bangsa dan negara itu. Dalam dimensi ini, Benedict Anderson mengatakan bahwa nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan beradaulat yang dibayangkan (imagined communities). Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined communities sebab suatu komunitas tidak mungkin mengenal seluruh warganya, tidak mungkin saling bertemu, atau saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki gambaran atau bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan ( Benedict Anderson, 1983: 15). Karena komitmen dan keinginan untuk mengikatkan diri dalam komunitas bangsa ini, dapat muncul kesetiaan yang tinggi pada nation state (negara kebangsaan). Bahkan, banyak warga suatu negara kebangsaan rela mengorbankan jiwa-raga untuk membela bangsa dan negara mereka. Senada dengan Benedict Anderson, Ernest Renan mengatakan bahwa unsur utama dalam pembentukan suatu bangsa adalah le desir deāetre ensemble (keinginan untuk bersatu). (Taufik Abdullah, 2001: 49). Abdoel Moeis, seorang tokoh Sarekat Islam, pada tahun 1917 telah mengartikan nasionalisme sebagai perasaan cinta kepada bangsa dan tanah air, yang diungkapkannya pada harian Sinar Djawa, 25 Oktober 1917 sebagai berikut: Kalaoe kita mengingat akan nasib boeroeknja tanah air dan bangsa kita, jang beratoes tahoen selaloe berada dalam koengkoengan orang lain sadja, maka brdebarlah dada, timboellah soeatoe perasaan jang menggojang segala oerat saraf kita, perasaan kasihan kepada bangsa dan tanah air itoe (Sinar Djawa, 25 Oktober 1917). * Dewi Yuliati adalah dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang. Makalah ini dipresentasikan dalam Sarasehan Sejarah Regional Daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Pondok Tingal Magelang, 23 Mei 2009.