663 | Konferensi Nasional Bahasa Arab VI (KONASBARA) 2020 ANTUSIAS MAHASISWA BAHASA ARAB DALAM MENGIKUTI MUKTAMAR ITHLA VIII DAN KEMAH BAHASA ARAB Zulfhaa Amir dan Ilham Fatkhu Romadhon UIN Alauddin Makassar, Universitas Negeri Malang zulfhaa22@gmail.com Abstrak ITHLA (Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab Nasional) setiap tahunnya mengadakan Muktamar dan Kemah Bahasa Arab. Muktamar ITHLA VIII dan Kemah Bahasa Arab Internasional 2019 diadakan di Jakarta. Dalam rentetan acara ini, akan diisi dengan berbagai macam agenda antara lain : Seminar Bahasa Arab Internasional, Focused Group Discussion (FGD), Perlombaan bahasa Arab seperti Debat bahasa Arab, Ghna’ Araby, Musabaqah Qira’atul Qutub, dan lain sebagainya. Dengan adanya banyak kegiatan dalam acara ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antusias mahasiswa bahasa Arab dalam mengikuti muktamar ITHLA VIII dan Kemah Bahasa Arab. Metode yang dilakukan melalui survey menggunakan fasilitas google form. Hasil penelitian menjelaskan bahwa bahwa 88 % menunjukkan sangat antusias sekali, 2 % menunjukkan sangat antusias, 10 % menunjukkan cukup antusias, dan 0 % untuk kategori tidak antusias dan tidak sangat antusias. Kata Kunci: Antusias, Mahasiswa Bahasa Arab, Kemah Bahasa Arab PENDAHULUAN Bahasa Arab sebagai bahasa internasional yang dipelajari di berbagai negara, mempunyai peran strategis sebagai menjadi salah satu elemen kemajuan sebuah negara, khususnya dalam kemajuan ekonomi dan pendidikan suatu negara. Munculnya pasar masyarakat ekonomi Asean (MEA) dan Internasional secara menyeluruh serta berbagai scholarship pendidikan internasional merupakan peluang nyata dalam menjadikan bahasa Arab sebagai aset dan investasi. Selain itu, Akan tetapi menurut pengamatan di beberapa program studi Pendidikan Bahasa Arab maupun sastra Arab, dan jurusan Terjemah bahwa (1) pengajaran bahasa Arab masih banyak yang menggunakan metode konvensional sehingga timbul kurangnya pengaplikasian ilmu kebahahasaaraban atas teori di kelas, (2) kurang minatnya mahasiswa terhadap bahasa Arab daripada bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Prancis, Jerman, Mandarin dan sebagainnya (Mawadda : 2016), (3) Lemahnya pemahaman dan ketrampilan berbahasa Arab khususnya dalam kemampuan produktif mahasiswa, (4) Interaksi antara mahasiswa dan pendidik sebatas di kelas saja sehingga tidak menambah pengetahuan yang lebih mendalam dan tidak merubah perilaku pada mahasiswa, (5) Minimnya wadah pengembang potensi mahasiswa dalam hal keilmuan dan