179 Prabaningrum, L dan Moekasan, TK : Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan... J. Hort. 24(2):179-188, 2014 Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama Pada Budidaya Cabai Merah di Dataran Tinggi (Pest and Disease Management On Hot Pepper Cultivation in High Land) Prabaningrum, L dan Moekasan, TK Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Parahu No. 517, Lembang, Bandung Barat 40791 E-mail : laksminiwati@yahoo.co.id Naskah diterima tanggal 4 Maret 2014 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 16 April 2014 ABSTRAK. Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih merupakan salah satu kendala utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi, sejak fase vegetatif hingga generatif. Oleh karena itu pengelolaan OPT selalu diupayakan guna menekan kehilangan hasil panen. Penelitian mengenai pengelolaan OPT utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) sejak April hingga Oktober 2011. Tujuannya ialah menguji pengaruh penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik pada budidaya tiga varietas cabai merah terhadap serangan OPT, penggunaan pestisida, dan produksi cabai merah. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Macam perlakuan yang diuji adalah : (A) sistem tanam : di dalam rumah kasa (a1) dan di lahan terbuka (a2); (B) kombinasi varietas dan penggunaan mulsa plastik : Tanjung 2 + mulsa plastik (b1), Wibawa + mulsa plastik (b2), Hot Beauty + mulsa plastik (b3), Tanjung 2 tanpa mulsa plastik (b4), Wibawa tanpa mulsa plastik (b5), dan Hot Beauty tanpa mulsa plastik (b6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penggunaan rumah kasa pada budidaya cabai merah mampu menekan serangan OPT dan penggunaan pestisida dengan hasil panen lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik mampu menekan kerusakan tanaman oleh serangan trips, (3) varietas Wibawa yang ditanam di dalam rumah kasa menggunakan mulsa plastik berproduksi tertinggi. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik dapat direkomendasikan untuk pengelolaan OPT cabai merah di dataran tinggi. Katakunci: Organisme pengganggu tumbuhan; Rumah kasa; Mulsa plastik; Cabai merah (Capsicum annuum); Dataran tinggi ABSTRACT. Pest and disease still be constraints in hot pepper cultivation in high land, from vegetative until generative phases of plant growth. Therefore, pest and disease management is always done to minimize crop loss. Study on pest and disease management in hot pepper cultivation in high land was carried out at Margahayu Research Garden, Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl.), West Java, from April to October 2011. The aims of the experiment were to test the effect of the use of netting house and plastic mulch in three varieties of hot pepper cultivation on infestation of pest and disease, the use of pesticide and and harvest yield. The experiment used split plot design with three replications. The treatments tested were : (A) planting system : in netting house (a1) and in open feld (a2), (B) combination of variety and plastic mulch : Tanjung 2 + plastic mulch (b1), Wibawa + plastic mulch (b2), Hot Beauty + plastic mulch (b3), Tanjung 2 without plastic mulch (b4), Wibawa without plastic mulch (b5), and Hot Beauty without plastic mulch (b6). Result showed that: (1) the use of netting house able to suppress pest and disease infestation and reduce application of pesticide with the yield higher than the yield in open feld, (2) combination of netting house and plastic mulch able to suppress plant damage due to thrips, and (3) the yield of Wibawa cultivated in netting house and used plastic mulch was the highest. Implication of the result is the use of netting house and plastic mulch is recommended for pest and disease management in hot pepper cultivation in high land. Keywords: Pest and disease; Netting house; Plastic mulch; Hot pepper (Capsicum annuum); High land Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih menjadi salah satu kendala utama pada budidaya cabai merah. Sejak fase vegetatif hingga fase generatif, tanaman cabai merah selalu mendapat serangan OPT. Setiawati et al. (2008), Dibiyantoro & Sanjaya (2001) melaporkan bahwa pada tahun 1980 - 1990 trips mulai menjadi ancaman pada budidaya cabai merah di dataran rendah. Hama yang menyerang daun muda ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil sekitar 23%. Hasil survei yang dilakukan oleh Adiyoga et al. (1996) di Jawa Barat menunjukkan bahwa petani menempatkan ulat grayak (Spodoptera litura) dan trips sebagai OPT utama pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan ialah penyakit antraknos (Colletotrichum spp.) dan penyakit virus. Menurut Gunaeni & Wulandari (2010), kehilangan hasil akibat serangan penyakit virus CMV berkisar antara 18,3 – 98,6%. Serangan hama ulat buah Helicoverpa armigera mengakibatkan kehilangan hasil hingga 60% (Setiawati et al. 2011), sementara penyakit antraknos dapat menyebabkan kerusakan buah hingga 100% (Suryaningsih & Suhardi 1993). Sejak awal 2003 terjadi epidemi serangan virus gemini pada pertanaman cabai merah di berbagai daerah di Indonesia, yang mengakibatkan panen cabai merah mengalami gagal panen, sehingga harga cabai merah melonjak, sementara petani merugi milyaran rupiah (Duriat 2008, Setiawati et al. 2007). Beberapa penelitian untuk mendapatkan komponen teknologi pengendalian OPT telah banyak dilakukan. Soetiarso et al. (1999) serta Gunaeni & Wulandari brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Hortikultura