JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 12, No. 3 (2022), 2337-3520 (2301-928X Print) H35 Abstrak— Indonesia hampir memiliki sekitar 159 jenis bambu dari 1.500 spesies yang ada di dunia, dan 88 diantaranya merupakan spesies endemik Indonesia. Salah satu bambu yang cukup populer sebagai kerajinan tangan di Indonesia adalah bambu Ori (Bambusa arundinacea) dan juga bambu Apus (Gigantochloa apus). Anyaman bambu di Indonesia memiliki beberapa macam jenis dan teknik. Dari berbagai banyak macam anyamanbambu dapat dikembangkan menjadi produk yang kreatif dengan beragam kebutuhan, seperti pembuatan lampion, tikar, pembatas dinding, sarang burung dan juga peralatan rumah tangga. Di desa Kedamean, kabupaten Gresikterdapat banyak pengrajin bambu tradisional yang kurang diperhatikan pemerintah kabupaten Gresik padahal produk yang dihasilkan rapi dan kuat, tetapi belum bisa bersaing bila dilihat dari segi desain. Hasil dari pengamatan peneliti para pengrajin bambu kedamean Gresik belum bisa bersaing karena menggunakan teknik tradisional yang turun temurun. Berdasarkan hasil observasi, para pengrajin bambu banyak menggunakan bambu Ori yang banyak ditemukan didaerah gresik dan sekitarnya. Karakteristik bambu Ori yang kuat dan awet namun memiliki jarak antar ros yang pendek sehingga menjadi hambatan bagi pengrajin menjadikan bambu Ori sebagai produk kerajinan tangan dan ini menjadi tantangan bagi peneliti. Penelitian ini ingin memberikan ide dan terobosan terhadap masalah UKM pengrajin bambu yang berada di daerah Kabupaten Gresik dengan mengenalkan teknik baru melalui metodedesign thinkinguntuk menghasilkan produk lighting decoration yang memiliki gaya konsep desain yang baru.Berdasarkan hasil eksperimentasi didapatkan kesimpulan bahwa dengan menggunakan teknik yang baru dengan menggunakan bambu Ori; bambu khas Kedamean, dapat dihasilkan desain produk lighting decoration yang lebih beragam dan kompetitif. Kata Kunci— lighting decoration, bambu, wicker, kedamean. I. PENDAHULUAN ENURUT Nurhaya Baniyamin 2019, desain berkelanjutan mengacu pada saling ketergantungan antara lingkungan binaan dan alam; penggunaan energi, tanah, dan sumber daya alam lainnya yang terbatas secara efisien; peningkatan komunitas; dan pembinaan kesejahteraan fisik dan emosional. Ada peningkatan yang stabil dalam pengetahuan dan minat tentang bambu sebagai desain berkelanjutan di industri ini. Promosi dalam desain yang berkelanjutan dapat meningkatkan permintaan lokal untuk produk baru dan lebih inovatif, sehingga mendorong investasi domestik dan asing. Investasi baru sedang dicari dan dikembangkan untuk pengembangan bambu dan rantai nilai serta sumber dayanya seperti di perkebunan. [1] Purwito, 2008 menyatakan bahwa bambu adalah tanaman berjenis rumput – rumputan yang memiliki ruas dan rongga pada bagian batangnya, Bambu juga dapat di sebut Giant Grass (rumput raksasa). Bambu memiliki sekitar 75 genus terdiri dari 1.500 spesies bambu di seluruh dunia. Dibandingkan negara-negara di Asia, Indonesia paling banyak memiliki spesies bambu. Indonesia hampir memiliki sekitar 159 jenis bambu dari 1.500 spesies yang ada di dunia, dan 88 diantaranya merupakan spesies endemik Indonesia. Salah satu bambu yang cukup populer di Indonesia adalah bambu Ori (Bambusa arundinacea) dan juga bambu Apus (Gigantochloa apus). Keduanya cukup banyak di tanam di Indonesia karena memiliki serat yang panjang dan tidak mudah patah, sehingga banyak digunakan untuk barang kegiatan sehari - hari. [2] Menurut Rebecca Reubens, 2010 menyebutkan bahwa bambu memiliki potensi untuk memainkan peran penting dalam menghasilkan sumber pendapatan dan pekerjaan yang terbarukan dan berkelanjutan dan menyediakan pilihan mata pencaharian ramah lingkungan yang layak bagi produsen dan pengolah bambu yang miskin, seperti komunitas bambu tradisional di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Hal ini mudah tersedia bagi masyarakat miskin di lingkungan alam mereka, dan dalam beberapa kasus bahkan pekarangan mereka, dan dapat dengan mudah diproses oleh mereka termasuk kelompok produsen yang terpinggirkan seperti perempuan, masyarakat terbelakang dan suku. Pengembangan usaha berbasis bambu membutuhkan modal, bahan baku dan investasi alat dan mesin yang rendah dibandingkan dengan usaha mikro kecil dan menengah lainnya[3]. Berikut adalah contoh hasil produk pengrajin bambu Kedamean Gresik yang dapat dilihat pada Gambar 1. Anyaman bambu di Indonesia memiliki beberapa jenis dan teknik. Dari segi jenisnya yaitu anyaman datar, anyaman tiga dimensi, dan macrame. Dari segi tekniknya yaitu, anyaman tunggal, anyaman bilik, anyaman teratai, anyaman bunga cengkih, anyaman 3 sumbu, dan anyaman 4 sumbu. Menurut Xiao JianHua, 2001 keuntungan dari pengembangan produk Experimen Lighting Decoration Berbahan Anyaman Bambu dengan Studi Kasus UKM Pengerajin Bambu Daerah Kedamean Gresik Sigit Firdaus Prayogiˡ, Agatha Dinarah Sri Rumestri², dan Azis Ashari³ 1 Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya 2 Intitut Teknologi Telkom Purwokerto e-mail: sigit@stts.edu , agatha@ittelkom-pwt.ac.id M Gambar 1. Hasil Produk pengrajin bambu Kedamean Gresik.