WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373 Volume 4, Nomor 1 Hal: 82-88 Juni 2016 82 BIOMASSA DAN KARBON POHON DI SEKITAR DANAU TAMBING PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL LORE LINDU DESA SEDOA KECAMATAN LORE UTARA KABUPATEN POSO Marjan 1 , Wardah 2 , Abdul Hapid 2 Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako Jl. Soekarno-Hatta Km. 9 Palu, Sulawesi Tengah 94118 1 Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Korespondensi: Ijhan.3xit@gmail.com 2 Staf Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Abstract Forest is an absorber of carbon that began to be a spotlight when the earth facing greenhouse effect. The greenhouse effect can be an increase of air temperature or commonly named global warming. The global warming is caused by the concentration improvement of the greenhouse in atmosphere where the improvement affects the change of radiation balanced so that the earth temperature increase. This research aims at identifying the number of biomass and tree carbon around Tambing Lake in Lore Lindu National Park. This research was conducted in Tambing Lake area in Lore Lindu National Park Sedoa Village, Lore Utara Sub-district Poso Regency for three months started from February to April 2014. The estimation of tree biomass is using indirect method or allometric equation built in TNLL area. The result of this research revealed that the total of biomass on tree diameter ≥ 30 cm on the lake buffer is 653 ton/ha and 72 ton/ha for diameter tree ≤ 5 cm, for diameter tree ≥ 30 cm outside lake buffer is 793 ton/ha and 120 ton/ha to diameter ≤ 5 cm. While the total content of carbon inside lake buffer to diameter tree ≥ 30 cm is 286 ton/ha and to diameter tree ≤ 5 cm is 32 ton/ha. The total content of carbon outside the lake buffer to diameter tree ≥ 30 cm is 356 ton/ha and to diameter tree ≤ 5 cm is 54 ton/ha. The total average of tree biomass around Tambing Lake is 810 ton/ha and the average of tree carbon is 364,5 ton/ha. Key words: Biomass, Carbon, Tree, Tambing Lake PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) walaupun membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mengembalikan hutan pada keadaan semula. Oleh karena itu perlu dijaga dan dikelola dengan arif dan bijaksana. Pada mulanya pemanfaatan sumber daya hutan hanya dilihat dari segi hasil kayunya saja. Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini hutan bukan hanya berfungsi sebagai penghasil kayu, tetapi juga sebagai penghasil jasa lingkungan. (Lukito dan Rohmatiah, 2013). Hutan merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan lainnya. Melalui proses fotosintesis, CO 2 di udara diserap oleh tanaman dan diubah menjadi karbohidrat, kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan akhirnya ditimbun dalam tubuh tanaman berupa daun, batang, ranting, bunga dan buah. (Asmoro, 2011). Peranan hutan sebagai penyimpan dan penyerap karbon sangat penting dalam rangka mengatasi masalah efek gas rumah kaca (GRK) yang mengakibatkan pemanasan global. Salah satu penyumbang emisi GRK adalah karbondioksida (CO 2 ), yang berkontribusi sebesar 55% dari keseluruhan peningkatan pemanasan global. Dengan demikian, maka emisi dan penyerapan CO di atmosfer harus mendapat perhatian yang lebih besar (Yuniawati dkk, 2011). Perubahan iklim global diyakini memiliki dampak yang luas pada berbagai aspek kehidupan manusia di dunia. Perubahan iklim dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah