Jurnal Teknik Sipil ITP Vol. 7 No.2 Juli 2020 P-ISSN 2354-8452 E-ISSN 2614-414X 65 DOI: 10.21063/JTS.2020.V702.03 http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/ Manajemen Kecepatan dan Jarak Aman Antar Kendaraan Berdasarkan Perbedaan Kecepatan Kendaraan yang Berjalan Beriringan Don Gaspar Noesaku da Costa 1* , Oktovianus Edvict Semiun 1 , dan Ardi Liufeto 2 1 Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandira Jl. San Juan No.1 Penfui Timur, Kupang, NTT, Indonesia 2 Komunitas Ilmiah Mahasiswa ”Traffic Safety”, Pusat Studi Transportasi, Fak. Teknik Universitas Katolik Widya Mandira Jl. San Juan No.1 Penfui Timur, Kupang, NTT, Indonesia Email: dnoesaku@gmail.com Dikirim: 9 April 2020 Direvisi: 22 Mei 2020 Diterima: 2 Juli 2020 ABSTRAK Pilihan kecepatan yang tidak sesuai sudah terbukti menjadi faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama pada segmen jalan berisiko seperti simpang tak bersinyal, jalan menurun dan lainnya. Sejumlah penelitian terdahulu telah melaporkan bahwa peluang kecelakaan pengendara sepeda motor di persimpangan prioritas dipengaruhi oleh tidak saja pilihan kecepatan saat memasuki area persimpangan dan kemampuan pengereman pengendara arus mayor namun juga pilihan celah penyeberangan kritis pengedara jalan minor. Studi ini bertujuan untuk menentukan peluang kecelakaan tipe tabrak belakang kendaraan yang berjalan beriringan di jalan mayor akibat pilihan celah penyeberangan kritis pengendara jalan minor. Untuk itu survei kecepatan dan jarak antar kendaraan serta celah penyeberangan kritis dilakukan dengan menggunakan kamera video. Selanjutnya, peluang kecelakaan tipe tabrak belakang disimulasikan berdasarkan perbedaan kemampuan pengereman pengendara sepeda motor yang diperoleh dari hasil penelitian terkait terdahulu. Diketahui bahwa hampir tidak terdapat perbedaan kecepatan antara kendaraan yang berjalan beriringan sehingga dari hasil simulasi terindikasi kuat bahwa peluang tabrak belakang sangat ditentukan oleh perbedaan kemampuan pengereman pengendara. Hal itu berarti bahwa diperlukan upaya terstruktur dan sistematis untuk memperbaiki kemampuan pengereman pengemudi dan perilaku berkeselamatan di jalan. Kata kunci: batas kecepatan, kemampuan pengereman, tabrak belakang 1. PENDAHULUAN Pengelolaan risiko kecelakaan merupakan salah satu prioritas kebijakan nasional sebagaimana tertuang di dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan Indonesia 2011-2035 (Pemerintah Republik Indonesia, 2011). Dari sejumlah kebijakan dasar pengelolaan risiko kecelakaan tersebut, aspek manajemen kecepatan merupakan salah satu bidang pengelolaan yang dianggap strategis (da Costa et al., 2017). Sehubungan dengan hal tersebut, terlihat bahwa sejumlah agenda pengelolaan kecepatan semisal pembatasan kecepatan maksimum melalui penyediaan fasilitas perlengkapan jalan maupun kampanye keselamatan lalu lintas terus digalakkan. Namun demikian, dari hasil penelitian terdahulu maupun dari hasil obervasi visual di jalan raya terlihat sejumlah fenomena menarik berikut ini; 1) penempatan rambu batas kecepatan di ruas jalan tidak disesuaikan dengan kondisi lingkungan jalan namun berdasarkan klasifikasi fungsional jalan sehingga area rawan konflik seperti simpang tak bersinyal tidak dilengkapi dengan rambu dimaksud; 2) walaupun terdapat rambu pembatas kecepatan namun pilihan kecepatan di area persimpangan tetap tinggi (da Costa et al., 2016a); 3) tidak semua pengemudi memperlambat kecepatan kendaraan saat memasuki area persimpangan, bahkan meningkatkannya (Susanto et al., 2019); 4) pengendara sepeda motor cenderung tidak memperhatikan jarak aman antar kendaraan saat berjalan beriringan (Wedagama, 2017) sehingga meningkatkan risiko kecelakaan. Studi ini difokuskan pada penilaian peluang terjadinya kecelakaan akibat pilihan kecepatan dan/atau jarak antar kendaraan yang berjalan beriringan. Hal tersebut dipicu oleh sejumlah laporan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa pengendara sepeda motor memiliki kecenderungan yang tinggi untuk terlibat dalam kecelakaan baik akibat pilihan kecepatan dan jarak aman antar kendaraan (Wedagama, 2017) maupun akibat perbedaan kemampuan pengeremannya (da Costa et al., 2018a). Hasil simulasi terhadap