201 Korespondensi: ikanoersyamsiana@polinema.ac.id a) Prodi Teknik Listrik, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No.9, Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Malang, Indonesia ELPOSYS: Jurnal Sistem Kelistrikan Vol.10 No.3, ISSN: 2407-232X, E-ISSN: 2407-2338 1. Pendahuluan Kebutuhan energi saat ini terus meningkat. Meluasnya penggunaan perangkat elektronik seperti peralatan teknologi informasi, elektronika daya seperti drive kecepatan variabel (ASD), pengontrol logika yang dapat diprogram (PLC), dan lampu hemat energi telah menyebabkan perubahan total dalam sifat beban listrik [1]. Dengan demikian kebutuhan akan tenaga listrik akan meningkat tetapi jumlah tenaga listrik yang disediakan cenderung tetap. Dalam konteks sistem kelistrikan, pernyataan tersebut dapat diartikan sebagai perhatian terhadap kemampuan sistem untuk menyediakan energi listrik yang cukup sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin[2][3]. Saat ini kebutuhan listrik sangat besar, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri. Keandalan energi menjadi kunci utama kepuasan pelanggan. Beberapa penyebab terganggunya keandalan energi salah satunya disebabkan oleh rugi-rugi daya. Sedangkan rugi-rugi daya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: panjang kabel pada suatu jaringan distribusi menyebabkan rugi- rugi daya akibat panas yang ditimbulkan. Penyediaan tenaga listrik dengan mutu dan kontinuitas yang handal merupakan langkah yang ditujukan untuk meningkatkan kebutuhan tenaga listrik, sehingga pasokan listrik dan pengoperasian jaringan distribusi menjadi lebih ekonomis [4][5]. Masalah terpenting dalam jaringan listrik adalah kualitas daya. Kualitas daya listrik sangat penting untuk diperhatikan, semakin tinggi efektivitas penggunaan beban maka semakin tinggi pula efisiensinya [6]. Sistem jaringan listrik dikatakan seimbang jika beban pada masing-masing fasa terdistribusi (fasa R, fasa S, dan fasa T) sama besarnya dan membentuk sudut 120° satu sama lain [7]. Meningkatnya kebutuhan tenaga listrik mengakibatkan masalah ketidakseimbangan beban listrik dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik. Pada sistem distribusi mensuplai berbagai pelanggan, antara lain dengan beban satu fasa, dua fasa, dan tiga fasa. yang tidak seimbang menjadi lebih besar [8]. Dalam sistem 3 fasa 4 kawat dimana penyebab ketidakseimbangan beban adalah karena distribusi beban yang tidak merata [9][10]. Ketidakseimbangan beban mengakibatkan timbulnya arus netral (IN) pada sistem 3 fasa 4 kawat, dalam kondisi seimbang arus netral harus sama dengan nol [11]. Arus netral akan menyebabkan rugi-rugi pada kabel distribusi sehingga mengurangi konsumsi dayanya [12]. Ketidakseimbangan beban mengakibatkan rugi-rugi yang dapat berdampak pada pengoperasian dan effisiensi sampe dapat mengurangi umur dari trafo itu sendiri, sehingga kehandalan trafo menjadi menurun [13][14]. Semakin besar ketidakseimbangan beban, semakin besar nilai arus netral. Arus netral yang tinggi dapat menyebabkan kelebihan beban pada transformator, panas berlebih, dan kegagalan pada saluran netralnya [15][16]. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pembebanan pada trafo ini seimbang atau tidak, jika tidak maka akan dilakukan rekomendasi penyeimbangan. Load balancing merupakan upaya untuk mengefektifkan gardu distribusi agar arus dapat terserap sepenuhnya oleh pelanggan. Balancing load adalah salah satu upaya untuk menyeimbangkan jaringan pada sistem tenaga listrik [17]. Hal ini diperuntukkan agar nantinya jaringan tenaga listrik dapat digunakan seoptimal mungkin, sehingga rugi-rugi daya dapat berkurang[18][19]. Untuk mengetahui apakah suatu beban seimbang atau tidak, dapat didasarkan pada standar yang ada. Menurut standar IEEE 446-1995, persentase unbalance load yang diperbolehkan adalah 5-20%[20]. Jika persentase beban tidak seimbang melebihi standar, maka diperlukan penyeimbangan agar berada dalam batas normal standar beban tidak seimbang, dan jika persentase beban tidak seimbang berada pada batas standar normal, maka diperlukan juga penyeimbangan agar beban tidak seimbang. beban menjadi seimbang. Proses penyeimbangan dapat dilakukan dengan mengurangi/menambah beban atau menyelaraskan beban antar fasa karena beban yang tidak seimbang dapat menurunkan efisiensi transformator. Balancing Load Outgoing Transformator 2 di Politeknik Negeri Malang Ika Noer Syamsiana *a) , Ir. Budi Eko Prasetyo a) , Harry Hassidiqi a) , Salsha Faradilla Firdaus a) (Artikel diterima : September 2023, direvisi Oktober 2023) Abstract: In an electric power system, power quality is a major problem. One of the problems is load imbalance. According to IEEE (Institute of electrical and electronic engineer) number 446-1995 for load unbalance the limit value ranges from 5% to 20% on all phases. The monitoring panel system is useful for facilitating monitoring of power quality in real time so that the efficiency of electrical energy can be maintained. The object of this research is the load on Outgoing Transformer 2 at State Polytechnic of Malang. Measurements were carried out for 7 days. On Friday the average unbalanced load value is 6.75% with a neutral current of 34.4 A and conductor losses of 0.071 kW, while for 6 days it is classified as a balanced load with an average of 3.54-4.76% with neutral current of 10.5-24.6 A and conductor losses of 0.007-0.036 kW. So according to the IEEE standard std 446-1995 the Unbalance load value does not meet the standard on Friday, which exceeds the minimum standard of 5%. To get balanced loading results, it is necessary to carry out load balancing actions, namely by means of balancing. The recommendation for balancing is to move from phase R to phase S of 4.043 A and phase T of 2.695 A. After balancing, the % unbalanced load is obtained with an average of 3%, meaning that this load is classified as balanced with a neutral current of 13.44 A and losses conductor 0.014 kW. Keyword: Power quality, unbalance load, balancing