32 JKGT VOL. 5, NO.1, July (2023) 32-34, DOI : 10.25105/jkgt.v5i1.16767 (Tinjauan Pustaka) Pengaruh ekstrak propolis (trigona sp.) yang dilarutkan dalam saliva buatan terhadap pertumbuhan candida albicans Nadya Callista Ludy 1 , Dewi Priandini 2 1 Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia. 2 Bagian Ilmu Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta Indonesia Email : dewipriandini@trisakti.ac.id ABSTRACT Background: Xerostomia often occurs in the elderly and can be overcome by administering artificial saliva. Xerostomia is closely related to the incidence of oral candidiasis. Candida albicans is the main fungal species that causes oral candidiasis. To minimize the risk of oral candidiasis in patients with xerostomia, it is necessary to add antifungal agents to artificial saliva. Propolis extract (Trigona Sp.) contains antifungal compounds which are expected to inhibit the growth of Candida albicans. Objective: To determine the effect of adding propolis extract with artificial saliva on the growth of Candida albicans. Method: In vitro laboratory experiment with a post test only control group design. The test solutions used were propolis extract (Trigona Sp.) 15.625 mg/ml, 31.25 mg/ml, 62.5 mg/ml, 125 mg/ml and 250 mg/ml, nystatin as a positive control, and artificial saliva as a negative control. Antifungal test was carried out by disc diffusion method. Results: Propolis extract (Trigona Sp.) added with artificial saliva showed an inhibition zone start from concentration of 15.625mg/ml until 250mg/ml. The highest inhibition zone is at concentration of 62.5mg/ml. Conclusion: Propolis extract (Trigona Sp.) added with artificial saliva can inhibit the growth of Candida albicans. Keywords: oral candidiasis, propolis extract (Trigona Sp.), xerostomia LATAR BELAKANG Xerostomia atau kondisi mulut kering merupakan keluhan yang sering ditemukan pada praktek dokter gigi. Menurut International Dental Federation, orang dewasa berusia 40-50 tahun atau lebih mengalami penurunan objektif aliran saliva sebanyak 50% dari populasi dan meningkat hingga 70% pada populasi usia 70 tahun atau lebih. Saliva mempunyai peran penting dalam homeostasis oral karena saliva mengandung protein antimikroba seperti lisozim, laktoperoksidase, imunoglobulin, histatin dan laktoferin. Kandungan tersebut terbukti dapat menghambat adhesi oral dari Candida albicans.(1),(2) Maka dari itu berkurangnya laju aliran saliva dapat mengubah mikrobiota mulut dan meningkatkan risiko kandidiasis oral.(2) Pada manusia, spesies kandida yang paling umum ditemukan pada mukosa mulut yang sehat dan pada kandidiasis oral adalah Candida albicans, karena sifat perlekatannya dan tingkat patogenisitas yang lebih tinggi.(3) Untuk mengatasi kandidiasis oral yang disebabkan oleh hipofungsi kelenjar saliva, pengobatan antijamur saja tidak cukup karena tidak dapat mengatasi penyebab utama. (3),(4) Saliva buatan merupakan salah satu terapi simptomatik bagi penderita xerostomia yang mengandung beberapa zat aktif yang menyerupai saliva asli. Penambahan saliva buatan dengan agen antijamur berfungsi untuk meminimalisir infeksi oportunistik dari hiposalivasi yaitu kandidiasis oral.(4) Beberapa pilihan obat antijamur seperti amfoterisin B, itrakonazol, dan lain-lain, banyak dilaporkan menimbulkan efek samping tertentu dan mudah berinteraksi dengan obat lain. Sehingga diperlukan obat alternatif yang memiliki potensi aktivitas antijamur dengan efek samping yang minimal.(5) Salah satu bahan alami yang minim efek samping yaitu propolis. Propolis mengandung senyawa aktif yang mempunyai efek antijamur yaitu flavonoid, fenol dan tanin.(6) Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh penambahan propolis dalam saliva buatan terhadap pertumbuhan Candida albicans. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan cara eksperimental laboratoris secara in vitro dengan rancangan penelitian post test only control group design untuk melihat efek antijamur dari penambahan ekstrak etanol propolis dalam saliva buatan terhadap pertumbuhan Candida albicans. Lokasi penelitian ini dilakukan di Laboratorium Microbiology Center of Research and Education (MiCORE) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti. Sampel penelitian menggunakan Ekstrak etanol propolis diencerkan dengan saliva buatan sehingga didapatkan ekstrak dengan konsentrasi 15,625mg/ml, 31,25mg/ml, 62,5mg/ml, 125mg/ml, dan 250mg/ml. Kontrol positif berupa nistatin dan kontrol negatif berupa saliva buatan. Untuk melakukan uji zona hambat jamur, ambil suspensi jamur dengan menggunakan spreader kemudian lewatkan secara merata pada media SDA. Lalu, masukan kertas cakram yang sudah direndam dalam ekstrak propolis dengan masing-masing konsentrasi, kontrol negatif yaitu saliva buatan, serta kontrol positif yaitu nistatin. Kemudian, inkubasi media SDA tersebut pada suhu 37°C selama 48 jam. Setelah 48 jam, cawan petri dikeluarkan dari inkubator dan lihat adanya daya hambat yang ditandai dengan timbulnya zona bening di sekitar sumuran ekstrak propolis. Selanjutnya, daya hambat diukur menggunakan jangka sorong dengan menggunakan rumus (diameter horizontal + diameter vertikal) dibagi 2 lalu masukkan perhitungan ke dalam tabel. HASIL PENELITIAN Pengukuran zona hambat MIC (Minimum Inhibitory Concentration) menggunakan metode difusi cakram dan dilakukan 4 kali pengulangan. Pada setiap cakram berisi ekstrak propolis Trigona Sp. Dengan konsentrasi 15,625mg/ml, 31,25mg/ml, 62,5mg/ml, 125mg/ml, 250mg/ml, kontrol negatif saliva buatan, dan kontrol positif nistatin. Efektivitas antijamur ekstrak propolis Trigona Sp. Dapat dilihat melalui terbentuknya zona bening disekitar cakram yang diberikan ekstrak propolis