48 LANTING Journal of Architecture, Volume 3, Nomor 1, Februari 2014, Halaman 48-62 ISSN 2089-8916 EKSISTENSI DAN PREFERENSI BERMUKIM DI RUMAH LANTING Indah Mutia, Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat mutia07@gmail.com Dahliani Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat lily.unlambjm@gmail.com Abstrak Rumah lanting merupakan hunian terapung di atas sungai, bangunan ini tidak hanya sebagai sebuah warisan budaya tapi merupakan bentuk adaptasi hunian yang masih sangat relevan dengan kondisi kota Banjarmasin saat ini dengan morfologi kota dan pasang surut air sungainya. Keberadaan rumah lanting saat ini jauh berkurang, karena batang kayu (log) yang berfungsi sebagai struktur pondasi sulit ditemukan lagi, namun di beberapa kawasan sebagian penduduk kota masih memilih tinggal di rumah lanting. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi rumah lanting sebagai salah satu hunian vernakular di tepian sungai dan menganalisis preferensi bermukim penghuninya. Penelitian dilakukan dengan metode case study research (penelitian deskriptif dan eksploratif). Populasi yang dipilih adalah rumah lanting yang terdapat di sepanjang sungai Martapura, pusat kota Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukan, preferensi bermukim di rumah lanting disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kedekatan dengan tempat kerja, tersedianya fasilitas umum yang baik (lokasi strategis), adanya hubungan kekeluargaan yang erat dengan tetangga (satu asal daerah), harga bangunan murah dan tidak perlu membeli tanah, serta dekat dengan sumber air/ sungai sehingga mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kata kunci: Rumah Lanting, Sungai Martapura, Preferensi bermukim, Banjarmasin Abstract Lanting is a traditional floating house that located along the river of Banjarmasin. This typology of housing is not merely a cultural asset, but a form of building adaptation that still relevant to the morphology of the city and the fluctuation of water level. The number of floating houses has reduced significantly due to the short of materials (timber log) for foundation. However, in some area, Lanting still exists and people prefer to live in Lanting. This paper is aimed at measuring the existence of Lanting as a type of vernacular dwellings along the riverbank and understanding the housing preference from the dwellers point of view. The research was conducted with case study method (descriptive and explorative). Three clusters of Lanting along the Martapura River at the center of Banjarmasin city are chosen, namely Seberang Masjid, Pasar Lama and Sungai Baru district.The results show that people preference to live in Lanting is influenced by some factors, those are: the closeness to work, good public facilities at the strategic location, family bonds (neighbours), affordable price (no need to buy land) and abundant water to fulfill everyday needs. Key words: Lanting, floating house, Martapura River, housing preference, Banjarmasin PENDAHULUAN Kota Banjarmasin berada di cekungan Sungai Barito. Daerah ini terletak di bawah permukaan air laut rata-rata 0,16 m (dpl) dengan tingkat kemiringan lereng 0%-2%. Kota ini memiliki bentang alam yang relatif landai sehingga terbentuk kawasan lahan basah berupa rawa dan banyak terdapat sungai. Dengan melihat kondisi morfologi kota Banjarmasin yang memiliki banyak sungai besar maupun kecil, maka adanya rumah lanting yang terapung sangatlah sesuai karena fleksibel terhadap perubahan muka air, dibandingkan rumah panggung yang tumbuh di sepanjang tepian sungai. Tetapi keberadaan rumah lanting saat ini mulai berkurang, karena batang (log) yang berfungsi sebagai struktur pondasi sulit ditemukan lagi. Walaupun berkurang, sebagian rumah lanting masih bertahan dengan minimnya struktur. Oleh karena itu, perlu diketahui keberlanjutan rumah lanting