Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 2 No. 2 Desember 2017 ISSN 2527-5542 1 ANALISIS TINGKAT FASILITAS PEDESTRIAN DI KAWASAN PUSAT PERBELANJAAN KOTA SURABAYA Blima Oktaviastuti 1 , Handika Setya Wijaya 2 , dan Yoseph B. Narwadan 3 1 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang 2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang 3 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Malang E-mail: blima.oktaviastuti@unitri.ac.id, handikaunitri@gmail.com, narwadan.aken@gmail.com ABSTRAK: Tulisan ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik pejalan kaki di kawasan pusat perbelanjaan kota surabaya; (2) mengetahui kondisi geometri fasilitas pejalan kaki di kawasan pusat perbelanjaan kota surabaya; (3)mengetahui tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki di pusat perbelanjaan kota Surabaya. Metode penelitian ini mencakup beberapa tahap yaitu survey lokasi penelitian, kemudian pengumpulan data jumlah pejalan kaki yang menggunakan trotoar, mencatat hasil dilakukan tiap 15 menit, pengukuran kecepatan berjalan pejalan kaki, survey kondisi geometri dan penyebaran kuesioner tentang identitas, maksud, tujuan, waktu dan jarak pejalan kaki. Analisis data yang dilakukan yaitu untuk memperoleh hasil karakteristik pejalan kaki, kondisi geometri dan tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pejalan kaki di kawasan perbelanjaan Kota Surabaya didominasi oleh perempuan, dengan umur antara 21-30 tahun dengan pekerjaan paling banyak mahasiswa, sehingga hanya memperoleh pendapatan kurang dari Rp500.000,00 . Pejalan kaki menggunakan trotoar untuk berbelanja atau pun sekedar jalan jalan-jalan, dengan tujuan terbanyak ruko dan mall. Pejalan kaki menggunakan trotoar pada jarak yang dekat, dan menggunakan trotoar dominan pada siang dan sore. Arus rata-rata pada hari hari minggu yaitu 6,239 org/m/min dan hari kamis yaitu 3,878 org/m/min. Kecepatan rata-rata waktu berjalan di kawasan pusat perbelanjaan kota Surabaya yaitu 103,548 m/min. Kondisi Geometri tentang lebar trotoar, rata-rata di trotoar kawasan pusat perbelanjaan kota surabaya yaitu 2,5 m. Jenis Penutup trotoar didominasi dengan penutup lantai jenis batu ampyang. Tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki di kawasan pusat perbelanjaan kota Surabaya mempunyai tingkat pelayanan rata-rata A berdasarkan arus, ruang dan rasio. Sesuai dengan petunjuk perencanaan trotoar NO.007/T/BNKT/1990, minimal tingkat pelayan fasilitas pejalan kaki serendah-rendahnya adalah C, sehingga trotoar di kawasan pusat perbelanjaan kota Surabaya sudah memenuhi standar minimal tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki. Keywords : tingkat pelayanan, fasilitas pejalan kaki, pusat perbelanjaan. 1. PENDAHULUAN Transportasi adalah suatu pergerakan yang dapat berupa pergerakan manusia, barang, dan informasi dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, dan cepat sesuai dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Perkembangan transportasi saat ini meningkat dengan pesat, peningkatan ini seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk serta berkembangnya daerah-daerah baru. Salah satu unsur yang memerlukan perhatian dalam proses rekayasa lalu lintas di daerah perkotaan adalah ketersediaan fasilitas pejalan kaki (available of pedestrian facility). Umumnya di daerah pemukiman (urban area) dan di kawasan pusat bisnis dan perdagangan (central of business district), jalur pejalan kaki (pedestrian lane) mewakili bagian yang sering mengalami konflik dengan arus lalu lintas kendaraan, berakibat pada hal penundaan arus lalu lintas dan tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi. Fasilitas pejalan kaki terdiri dari trotoar, zebra cross, pelican cross, jembatan penyebarangan dan trowongan penyebrangan (Direktorat Jendral Bina Marga No:011/TBt/1995:76). Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas, yang khusus digunakan untuk pejalan kaki. Perlu tidaknya trotoar sangat tergantung dari volume pejalan kaki dan lalu litas, yang menggunakan jalan tersebut (Sukirman, 1995:4). Pejalan kaki merupakan bagian dari sistem transportasi, yang tidak kalah penting dengan transportasi lainnya. Kawasan pusat perbelanjaan kota merupakan daerah tingkat permintaan tinggi, sehingga banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas pejalan kaki. Banyak sekali fasilitas pejalan kaki berubah fungsi, terutama di kota-kota berpenduduk padat. Perubahan fungsi antara lain menjadi tempat berjualan, parkir, dll. Kota Surabaya dengan tingkat dinamika mobilitas penduduk yang cukup tinggi, seringkali menunjukan gejala konflik antara pejalan kaki dan arus lalu lintas kendaraan, apalagi ditambah dengan fasilitas bagi pejalan kaki (trotoar) yang tidak memadai, disamping trotoar tersebut berubah fungsi sebagai area pedagang kaki lima (PKL) secara tidak langsung juga menyebabkan pejalan kaki harus rela berjalan pada jalur yang tidak semestinya dan tidak dapat menjamin keamanan serta keselamatan diri pejalan kaki tersebut. Permasalahan yang diperoleh dari observasi awal yaitu, peneliti memilih kawasan pusat perbelanjaan kota surabaya, karena banyak terjadi perubahan fungsi fasilitas pejalan kaki terjadi di kawasan tersebut. Kawasan tersebut merupakan daerah dengan penggunaan fasilitas pejalan kaki tinggi, karena banyak pejalan kaki yang menggunakan fasilitas untuk melakukan aktifitas mobilisasi. Banyaknya pejalan kaki di domisasi oleh adanya Pusat Grosir Surabaya (PGS), Victory Toys, dan Dupak Grosir yang menjual berbagai macam barang. Sampai sekarang masih banyak PKL yang berjualan di trotoar, dan tukang becak yang sering parkir di trotoar. kebanyakan di dominasi di jalan Raya Dupak Raya, Jalan Gundih dan Jalan Cepu. Trotoar Jalan Gundih, fungsi kawasan merupakan campuran antara fungsi kawasan jasa dan perdagangan. Deretan toko dan mall mengakibatkan kapasitas pejalan brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Online Universitas Madura