MODEL PEMBELAJARAN SAINS DI TAMAN KANAK-KANAK DENGAN BERMAIN SAMBIL BELAJAR Dwi Yulianti 1 , Wiyanto 2 , Sri S. Dewanti H. 3 1,2 FMIPA, 3 PGTK FIP Universitas Negeri Semarang, Jl Raya Sekaran Gunung Pati Kota Semarang 50229 e-mail : yulifis04@yahoo.com Abstract: Instructional Model of Science Based on Playing Games at Kindergartens . The study investi- gated the effectiveness of a science instructional model for kindergarten based on learning by playing games. It was aimed at increasing cognitive, affective and psycho-motor learning outcomes. Action research was conducted in two cycles, each of which involved planning, implementing, observing, and reflecting. The result of the study showed that science instructional model using games can increase the students achievements in cognitive, affective and psycho-motoric aspects. Abstrak: Model Pembelajaran Sains di Taman Kanak-kanak dengan Bermain Sambil Belajar. Penelitian ini bertujuan mengungkap keberhasilan model pembelajaran sains di Taman Kanak-kanak ber- dasarkan “bermain sambil belajar” dalam meningkatkan hasil belajar aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus; mas- ing-masing siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasilnya menun- jukkan bahwa model pembelajaran sains di Taman Kanak-kanak yang menggunakan prinsip bermain sambil belajar dapat meningkatkan hasil belajar sains yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psiko- motor. Kata Kunci: pembelajaran sains, bermain sambil belajar Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Taman Kanak-kanak (TK)/Roudlotul Athfal (RA) tahun 2004 mengalami kendala, khususnya pengembangan kognitif dengan kompetensi dasar anak yaitu mampu mengenal berbagai konsep sains sederhana. Hasil pe- nelitian Yulianti (2007) pada 100 guru dari 222 guru Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal di kota Semarang, 80% berpendapat bahwa implemen- tasi pelaksanaan KBK 2004 mengalami kendala, yaitu 80% mengalami kendala strategi pembelajaran sains, 80% mengalami kendala sistem penilaian pem- belajaran sains, dan 78% menyusun skenario pembe- lajaran sains dengan bermain. Jika dilihat dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa ada masalah pem- belajaran sains di Taman Kanak-kanak yang harus segera diselesaikan Taman Kanak-kanak sebagai salah satu bentuk pendidikan prasekolah menyediakan program pendi- dikan anak usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar (PP RI No. 27 tahun 1990). Secara yuridis, Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini (PAUD) di jalur pendidikan formal. Ditinjau dari psikologi perkembangan, usia prasekolah merupakan masa yang menentukan bagi perkembang- an anak pada tahapan perkembangan selanjutnya. Pada masa ini anak-anak mulai dapat belajar dengan meng- gunakan pikiran, anak mampu mengingat kembali simbol-simbol dan membayangkan benda yang tidak nampak secara fisik. Masa usia dini juga disebut masa emas perkembangan anak (golden age) karena pada masa ini anak mulai peka atau sensitif untuk mene- rima berbagai upaya pengembangan. Masa peka yang dimaksud adalah masa terjadinya pematangan fungsi- fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi (rangsangan) yang diberikan oleh lingkungan. Anak usia TK adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimali- sasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa, motorik dan sosio emosional). Oleh karena itu, kegiatan pembela- jaran pada anak harus senantiasa berorientsi kepada kebutuhan anak. Dalam KBK 2004 disebutkan pula, tujuan bidang pengembangan kemampuan dasar kognitif adalah untuk 434