Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ISSN : 1907-8153 (Print) ISSN : 2549-0567 (Online) Vol. XVI No. 1, Juni 2021 DOI: https://doi.org/10.32382/medkes.v16i1.2005 69 FAKTOR RISIKO PENYAKIT DEKOMPRESI PADA NELAYAN PENYELAM DI PULAU BARRANG LOMPO Risk Factors of Decompression Sickness in Divers in Barrang Lompo Island Dian Rezki Wijaya, Ranti Ekasari, Lilis Widiastuty, Zil Fadhilah Arranury, Tri Addya Karini Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar *wijayadianrezki@gmail.com ABSTRAK Penyakit dekompresi merupakan kelainan atau penyakit yang diakibatkan terjadinya pelepasan dan meningkatnya gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan dikarenakan penurunan tekanan yang sering dialami nelayan penyelam. Gejala yang ditimbulkan yaitu pusing, nyeri sendi, lumpuh bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo. Penelitian ini menggunakan rancangan Case Control Study. Populasi penelitian yaitu semua nelayan penyelam berusia 15-64 tahun baik menderita maupun tidak menderita penyakit dekompresi dengan subjek penelitian sebanyak 47 kasus dan 94 kontrol yang diperoleh dengan cara accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman menyelam (OR=2,641; Cl 95%=1,285-5,428), frekuensi menyelam (OR=4,067; Cl 95%=1,939-8,531) dan lama menyelam (OR=3,872; Cl 95%=1,657-9,052) merupakan faktor risiko kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo. Disarankan nelayan penyelam dan seluruh anggota yang ikut dalam pencarian tangkapan perlu untuk menyusun rencana penyelaman sesuai dengan prosedur terkait kedalaman, frekuensi dan lama menyelam untuk mengurangi kejadian penyakit dekompresi Kata kunci : dekompresi, faktor risiko, penyelam ABSTRACT Decompression sickness is a disorder or disease caused by the release and increase of gas bubbles from the dissolved phase in blood or tissue due to the pressure drop that is often experienced by diving fishermen. Symptoms include dizziness, joint pain, paralysis, and even death. This study aimed to determine the risk factors of decompression disease in divers in Barrang Lompo Island. This study used a Case-Control Study design. The study population was all divers with 15-64 years of age, either suffering or not suffering decompression sickness. The research subjects were 47 cases and 94 controls obtained by accidental sampling. The results showed that the depth of diving (OR = 2.641; Cl 95% = 1.285-5.428), frequency of diving (OR = 4.067; Cl 95% = 1.939-8.531), and length of diving (OR = 3.872; Cl 95% = 1.657-9.052) were the risk factors of the decompression disease incidence on divers in Barrang Lompo Island. It is suggested to divers and all members who participate in the search to prepare a dive plan according to procedures related to depth, frequency, and duration of dives to reduce the incidence of decompression sickness. Keywords : decompression, risk factors, divers PENDAHULUAN Penyakit dekompresi merupakan kelainan atau penyakit yang diakibatkan terjadinya pelepasan dan meningkatnya gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan dikarenakan penurunan tekanan (Vann et al., 2011). Penyakit ini masih jarang ditemui bagi masyarakat umum, namun hal ini menjadi perhatian khusus bagi penyelam (militer, komersial dan rekreasi) (Howle et al., 2017). Insiden penyakit dekompresi di Kepulauan Hawai dan pulau-pulau di Asia Pasifik sekitar 1 – 35 kejadian per 1000 penyelaman (Hall, 2014). Sedangkan beban tahunan kejadian penyakit dekompresi di Denmark diperoleh sebanyak 14 kasus. Gejala yang paling sering terjadi adalah paesthesia (50%), nyeri (42%) dan vertigo (40%) (Juhl et al., 2016). Di Indonesia, penyakit dekompresi sering dialami oleh nelayan penyelam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan (2012) pada 251 responden penyelam di 9 provinsi di Indonesia, keluhan yang sering dialami antara lain 21,2% pusing atau sakit kepala, 12,6% lelah, 12,5% pendengaran berkurang, 10,8% nyeri sendi, 10,2% pendarahan hidung, 9,7% sakit dada atau sesak, 6,4% penglihatan berkurang, 6% bercak merah di kulit, 5,6% gigitan binatang, 3,2% lumpuh dan 1,7% hilang kesadaran. Salah satu upaya yang dilakukan Vietnam untuk mencegah penyakit dekompresi yaitu dengan melakukan pelatihan dan perawatan menggunakan metode In Water Recompression (IWR). Hasil ini menunjukkan bahwa dengan mengurangi durasi dan kedalaman menyelam dapat menurunkan kejadian penyakit dekompresi