Hayati, Maret 2002, hlm. 1-4 Vol. 9, No. 1 ISSN 0854-8587 Isolasi dan Seleksi Galur Bradyrhizobium japonicum Asal Tanah Gambut Isolation and Selection of Bradyrhizobium japonicum Isolated from Peat Soils SAERI SAGIMAN ‡ , ISWANDI ANAS * , GUNAWAN DJAJAKIRANA Faperta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680 Diterima 15 April 2001/Disetujui 29 Oktober 2001 Soybean is a crop requiring high nitrogen for its growth. Part of its requirement could be supplied through symbiotic relationship with nitrogen fixing bacteria i.e. Bradyrhizobium japonicum. However, the properties of peat could inhibit the development of bacteria especially if the bacterial inoculants are not adaptive to peat soils. Based on these problems this research was conducted to evaluate the effectiveness of B. japonicum isolated from peat soils as inoculation material to increase the growth and yield of soybean. Root nodules of soybean grown in the greenhouse on peat soils collected from nine locations in Districts of Sambas and Pontianak, West Kalimantan Province were used as sources of B. japonicum isolates. Soybean cultivation in these locations had never received any B. japonicum inoculation treatment. Sixty isolates of B. japonicum were isolated and twenty of the isolates were tested for their ability to fix atmospheric nitrogen. Based on nitrogen fixing capacity, the best five isolates were E5, SN1-2, D4, JK3 and BK4. This study showed that some local isolates of B. japonicum from peat soil could be developed further as inoculant for soybean production in peat soils. ___________________________________________________________________________ _________________ ‡ Alamat kini: Faperta, Universitas Tanjungpura, Jalan A. Yani, Pontianak 78124. * Penulis untuk korespondensi, Tel. +62-251-629360, Fax. +62-251- 629358, E-mail: aiswandi@indo.net.id PENDAHULUAN Luas tanah gambut di Kalimantan Barat ada sekitar 4.6 juta ha dan mencapai 31.4 persen luas daratan (Soekardi & Hidayat 1994). Sebagian lahan gambut tersebut telah digunakan untuk pemukiman transmigrasi. Sehubungan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai maka lahan gambut dapat dijadikan lokasi pengembangan kedelai. Penelitian kedelai di tanah gambut sudah dilakukan antara lain oleh Setiadi (1991) dan Sagiman dan Pujianto (1995), namun informasi mengenai pemanfaatan bakteri bintil akar yang diisolasi dari tanah gambut untuk meningkatkan produksi kedelai masih belum memadai. Kedelai merupakan tanaman yang membutuhkan banyak nitrogen. Bradyrhizobium japonicum yang efektif dapat memenuhi 50-75% dari kebutuhan N kedelai (Pasaribu et al. 1989). Gambut merupakan tanah yang kaya bahan organik, namun N yang tersedia bagi tanaman masih rendah. Hal ini dicirikan oleh tingginya nisbah C/N. Hambatan penerapan inokulasi B. japonicum pada tanah gambut ialah tanah gambut memiliki pH yang rendah sehingga dapat menyebabkan kegagalan inokulasi. Oleh karena itu, upaya mencari B. japonicum yang mampu beradaptasi pada tanah gambut penting dilakukan. B. japonicum yang tumbuh lambat umumnya memiliki reaksi basa sehingga tahan pada tanah yang masam (Munns & Franco 1981, Somasegaran & Hoben 1994). Keyser dan Li (1992) dan Simanungkalit et al. (1995) menyatakan bahwa galur lokal B. japonicum lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan di tempat pengambilan galur. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan galur B. japonicum asal tanah gambut yang memiliki efektivitas yang tinggi. Galur yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan inokulan untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah gambut. BAHAN DAN METODE Isolasi Bradyrhizobium japonicum. Galur B. japonicum diisolasi dari 58 contoh tanah yang berasal dari 9 lokasi penanaman kedelai di tanah gambut di Kabupaten Pontianak dan Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Tanah (pH 4.0) ditanami kedelai ‘Willis’ di rumah kaca dan isolasi langsung dilakukan dari bintil akar yang diperoleh. Dua tanaman per pot dipelihara sampai umur 30 hari setelah tanam (HST) dan perpindahan bakteri bintil akar dari tanah satu ke tanah lainnya diusahakan tidak terjadi. Isolasi bakteri menggunakan metode Somasegaran dan Hoben (1994). Permukaan bintil akar didesinfeksi dengan Na-hipoklorit dan alkohol 90%, selanjutnya dibilas dengan air steril. Bintil akar yang telah didesinfeksi permukaannya, digerus dalam cawan porselin kemudian digoreskan pada cawan petri yang berisi media yeast manitol agar (YMA) dengan merah kongo atau YMA dengan biru bromtimol (BBT) dan diinkubasi pada suhu ruang. Untuk kultur cair digunakan yeast manitol broth (YMB) (Somasegaran & Hoben 1994).