Inovasi pengolahan kerupuk (Safinta Nurindra Rahmadhia) | 807 2020 Seminar Nasional Hasil Pengabdian kepada Masyarakat; e-ISSN: 2686-2964 Seminar Nasional Hasil Pengabdian kepada Masyarakat 21 November 2020, Hal. 807-812 e-ISSN: 2686-2964 Inovasi pengolahan kerupuk lidah buaya (Aloe vera) di Desa Wareng, Kabupaten Gunungkidul Safinta Nurindra Rahmadhia, Son Ali Akbar, Anton Yudhana Universitas Ahmad Dahlan, Jl. Ringroad Selatan, Kragilan, Tamanan, Kec. Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55191 Email: safinta.rahmadhia@tp.uad.ac.id ABSTRAK Sebagian besar warga Desa Wareng memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya untuk bercocok tanam. Tanaman yang ditanam oleh warga beraneka ragam khususnya tanaman pangan berupa buah dan sayur. Jenis tanaman yang ditanam warga diantaranya tomat, cabai, terong, bayam, lidah buaya, daun bawang, jeruk, sawo, dan lain-lain. Selain tanaman buah dan sayur, warga Desa Wareng juga menanam rempah-rempah seperti jahe merah, kunyit, kencur, dan lain-lain. Warga Desa Wareng memanfaatkan hasil panen mereka untuk dikonsumsi sendiri dan dijual ke masyarakat. Namun pada saat panen raya harga komoditas akan menurun sehingga kebanyakan warga merugi. Salah satu hasil panen warga yang melimpah yaitu lidah buaya. Berdasarkan permasalahan warga Desa Wareng, Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) ini memberikan solusi berupa inovasi pengolahan bahan pangan terutama lidah buaya untuk meningkatkan nilai ekonomisnya. Lidah buaya akan diolah menjadi produk pangan yaitu kerupuk. Pemilihan kerupuk sebagai inovasi olahan pangan berbasis lidah buaya dikarenakan kerupuk merupakan produk dengan kadar air rendah sehingga memiliki umur simpan yang lama. Selain itu kerupuk juga banyak digemari oleh warga Indonesia dan mudah dalam pembuatannya. Kerupuk dengan bahan lidah buaya memiliki keunggulan dibandingkan kerupuk biasa karena lidah buaya mengandung senyawa antioksidan dan antimikrobia. Dampak dari PPM ini adalah warga Desa Wareng dapat menambah inovasi produk dari hasil kebunnya serta dapat meningkatkan nilai perekonomiannya. Kata kunci: Inovasi pangan, kerupuk, lidah buaya ABSTRACT Most of the people of Wareng Village use their traditional house yards to grow crops. The plants planted by the residents are varied, especially fruits and vegetables. The types of crops planted by the residents include tomatoes, chilies, eggplant, spinach, aloe vera, leeks, oranges, sapodilla, and others. Apart from fruit and vegetable crops, the people of Wareng Village also plant spices such as red ginger, turmeric, galangal, and others. Wareng villagers use their harvest for their own consumption and sell to the community. However, at the time of the main harvest, commodity prices will decline so the residents suffer losses. One of the residents' abundant crops is aloe vera. Based on the problems of the residents of Wareng Village, Peogram Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) provides a solution in the form of food