1 PERANCANGAN AUDIO VISUAL DALAM VIDEO KLIP PUISI ANAK BANGSA Ivana Christine WIdjaja 1 , Ani Wijayanti Suhartono 2 , Alvin Raditya 3 1 Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra, Surabaya. Email: Ivanaiph2@gmail.com ABSTRAK Perancangan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan rendahnya eksistensi puisi di era globalisasi dibandingkan dengan eksistensinya di tahun 40-90an. Hal ini dikarenakan anak muda jaman sekarang cenderung lebih suka mengikuti teknologi, lebih suka menonton atau membaca di media internet, sehingga puisi yang adalah seni verbal tidak menarik bagi anak muda pada umumnya. Tak hanya itu, bahasa yang digunakan dalam frase puisi menjadi penyebab penting. Bahasa yang digunakan dalam puisi cenderung susah dimengerti sehingga pembaca tidak dapat menikmati seni verbal tersebut. Oleh karena itu, diciptakan sebuah perancangan untuk memperkenalkan puisi kembali di era globalisasi menggunakan media baru yaitu media audio visual berupa video klip. Kata kunci : Puisi, Video Puisi, Video Klip, Audio Visual ABSTRACT This design was motivated by problems of lack of existence of poetry in the age of globalization compared to existence in the year 40-90an. This is because young people today tend to prefer to follow the technology, prefer watching or reading on the internet, so the poetry does not appeal to young people in general. Not only that, the language used in the phrase poetry becomes important cause. The language used in poetry tend to be difficult to understand so the reader can not enjoy the verbal art. Therefore, created a design to introduce poetry back in the era of globalization using new media, namely audio visual media such as video clips. Keywords: Poem, Poem Video, Video Clips, Audio Visual Pendahuluan Eksistensi puisi di Indonesia semakin menipis memasuki era globalisasi, dibandingkan dengan keberadaannya di tahun 1930 sampai 1990-an, dimana karya sastra puisi mulai menurun. Dan di tahun-tahun tersebut, para sastrawan memiliki sebutan di setiap era- nya. Seperti angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa), disebut sebagai angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945 disebut sebagai angkatan Pendobrak dengan tokoh utamanya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku , dan angakatn 1966 disebut juga angkatan Orde Lama dengan tokoh utamanya Dr. Taufik Ismail. Berdasarkan periode angkatan, H.B Jassin berpendapat pembagian angkatan tersebut dikatagorikan berdasarkan zaman, hal ini dikarenakan penciptaan hasil karya sastra juga dipengaruhi oleh perkembangan masa. Dengan kata lain dapat diketahui bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa selalu mengalami perkembangan dan setiap angkatan memiliki kekhasan yang membedakan dengan angkatan sebelumnya. Ajeng Aristiana, SS, Dosen Sastra Indonesia UNIMUS dan Mahasiswa Pascasarjana UNDIP (2015), menyatakan bahwa era globalisasi sangat mempengaruhi eksistensi karya sastra di Indonesia, termasuk juga karya tulis puisi. Era globalisasi dipengaruhi oleh dampak luar negeri yang memiliki budaya dan pola hidup yang berbeda dengan Indonesia. Apa yang dianggap tabu di Indonesia bisa menjadi hal yang biasa di luar negeri, contohnya saja pernikahan sesama jenis yang kurang diterima di Indonesia tetapi sekarang sudah dilegalkan di negara Amerika. Pengaruh tersebut datang melalui media televisi, film, lagu, dan lainnya. Bahasa yang terkandung di dalamnya mempengaruhi pola hidup masyarakat Indonesia, khususnya anak muda yang mudah sekali terpengaruh dunia. Dikenalnya istilah dan bahasa baru yang datang dari luar negeri menyebabkan semakin tipisnya eksistensi sastra