JURNAL TEKNIK ITS Vol. 11, No. 3, (2022) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F146 Abstrak—Metanol merupakan suatu senyawa yang saat ini memiliki peran penting pada ekonomi global sebagai bahan baku yang banyak dibutuhkan di industri kimia. Pada tahun 2020, permintaan metanol global mencatatkan pertumbuhan yang positif yaitu mencapai 102,162 juta. Adapun di Indonesia, melalui Peraturan Menteri ESDM No. 12 tahun 2015 yang menetapkan intensifikasi pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain juga turut membuka peluang besar untuk industri metanol dalam pemenuhan bahan bakunya. Pabrik ini direncanakan beroperasi dengan kapasitas produksi sebesar 850.000 ton/tahun Methanol Grade AA dan berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, yang didukung dengan program pemerintah yaitu pembangunan kawasan industri di Teluk Bintuni. Pabrik metanol direncanakan didirikan di atas lahan seluas 50 ha, mulai beroperasi pada tahun 2026 dengan masa konstruksi selama 2 tahun dan beroperasi selama 15 tahun. Adapun proses produksi metanol ini terbagi menjadi tiga tahapan utama yaitu proses produksi syngas dengan combined reforming SMR-ATR, proses sintesis metanol dengan licensor dari Mitsubishi, dan proses pemurnian produk metanol dengan sistem distilasi 2 tahap. Bahan baku utama yang digunakan dalam produksi metanol ini antara lain gas alam, steam, dan oksigen. Modal yang digunakan diasumsikan berasal dari modal sendiri sebesar 20% dan modal dari pinjaman bank sebesar 80%. Pabrik metanol ini memerlukan nilai (Capital Expenditures) sebesar Rp 5.965.780.276.477 dan nilai OPEX (Operating Expenditures) sebesar Rp 4.663.728.797.936. Berdasarkan analisis ekonomi yang dilakukan, diperoleh BEP sebesar 38,26%, nilai NPV sebesar Rp 5.460.221.976.667. Selain itu, diperoleh nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,2% dengan bunga bank sebesar 4,75%, dan Pay Out Time (POT) yang dibutuhkan adalah selama 5 tahun 5 bulan. Sehingga berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Pabrik Metanol dari Gas Alam layak untuk didirikan. Kata Kunci—Bintuni, Gas Alam, Metanol, Mitsubishi. I. PENDAHULUAN ETANOL merupakan suatu senyawa yang saat ini memiliki peran penting pada ekonomi global sebagai bahan baku yang banyak dibutuhkan di industri kimia yang digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti pembuatan formaldehid, bahan perekat, bahan pengawet, dan bahan bakar. Pada pasar global, permintaan metanol terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dihimpun dari MMSA, didapatkan pertumbuhan demand metanol berdasarkan kategori produk turunannya seperti asam asetat, formaldehid, MTBE, MMA, dan sebagainya sebagai berikut. Permintaan pasar metanol global terus bertumbuh dengan CAGR (Compound Annually Growth Rate) sebesar 5,2 %. Pada tahun 2019, demand metanol dunia memiliki jumlah sebesar 98,3 juta ton. Pada saat pandemi tahun 2020, permintaan metanol juga mencatatkan pertumbuhan yang positif menjadi sebesar 102,162 juta ton dan diperkirakan juga pada tahun 2021, permintaan metanol tetap akan meningkat hingga menyentuh angka 110,213 juta ton. Data ekspor dan impor metanol di Indonesia tertera pada Tabel 1. Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Saat ini, kebutuhan metanol meningkat seiiring program pemerintah untuk produksi biodiesel guna mengurangi ketergantungan impor gas oil. Namun, produksi metanol di Indonesia masih hanya dipenuhi dari PT Kaltim Methanol Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 660.000 ton/tahun. Berdasarkan data tersebut, diproyeksikan nilai supply-demand metanol di Indonesia pada tahun 2026 sebagai berikut. Pada tahun 2026, jumlah impor metanol diperkirakan sebesar 5.102.550,48 ton, sehingga dapat menjadi peluang pasar bagi industri metanol di Indonesia. Proyeksi supply- demand metanol di Indonesia tertera pada Tabel 2. Kapasitas pabrik metanol yang akan dibangun ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Aspek pertama adalah kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM No. 12 tahun 2015 yang menetapkan intensifikasi pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain dengan metanol sendiri merupakan salah satu bahan bakunya. Melalui kebijakan ini kebutuhan metanol diperkirakan masih akan mengalami peningkatan hingga 5,5 juta ton pada tahun 2026 [1]. Aspek yang kedua adalah rencana pembangunan kawasan industri berbasis pupuk dan petrokimia di Teluk Bintuni. Aspek ketiga adalah bahan baku pembuatan metanol di Teluk Bintuni yang relatif melimpah dengan pemerintah memastikan alokasi gas sebesar 90 MMSCFD. Bersamaan dengan rencana pemerintah saat ini yang ingin mengurangi impor, sehingga ditentukan kapasitas pabrik metanol yang akan dibangun sebesar 850.000 ton/tahun yang beroperasi selama 330 hari kerja setiap tahunnya dengan bahan baku gas alam yang digunakan sebesar 70 MMSCFD. Spesifikasi Gas Pra Desain Pabrik Metanol dari Gas Alam Pratama Tegar Parderio, Angga Dwi Dharmawan, Gede Wibawa, dan Annas Wiguno Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) email: gwibawa@chem-eng.its.ac.id M Tabel 1. Data ekspor dan impor metanol di Indonesia Tahun Impor (Ton) Ekspor (Ton) 2011 275.947,0 476.837,0 2012 261.866,0 438.741,0 2013 341.455,0 486.817,0 2014 557.361,7 404.151,9 2015 219.413,8 422.884,2 2016 436.987,8 384.933,7 2017 350.026,1 335.007,9 2018 699.945,9 307.366,3 2019 773.651,4 292.694,3 2020 840.408,3 246.269,5 Tabel 2. Proyeksi supply-demand metanol di Indonesia Produksi (Ton) Konsumsi (Ton) Ekspor (Ton) Impor (Ton) 660.000 5.500.000,00 162.550,5 5.102.550,48 Tabel 3. Spesifikasi Gas Alam Sebagai Bahan Baku Metanol Komposisi Nilai (%) Teluk Bintuni Kutai Banyuasin CH 4 89 87,13 85,57 C 2 H 6 5,73 3,56 4,11 C 3 H 8 1,21 1,85 2,59 C 4+ 0 0,93 1,08 N 2 1,87 0,13 0 CO 2 2,18 6,4 6,65