Bandar Maulana Jurnal Sejarah Kebudayaan Vol. 28, No. 2, Oktober 2023 https://e-journal.usd.ac.id/index.php/BandarMaulana 53 MASYARAKAT ISTIMEWA DALAM FILM-FILM PENDEK PANIRADYA KAISTIMEWAN YOGYAKARTA Emmanuel Kurniawan Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Indonesia Email : noel.kurniawan@yahoo.com ABSTRAK Sejak dibentuk melalui Perdais pada 2018, Lembaga Paniradya Kaistimewan Yogyakarta telah mensponsori berbagai produksi film pendek lokal sekaligus mengumpulkan film-film yang diproduksi dinas-dinas terkait tahun-tahun sebelumnya yang dibuat melalui dana keistimewaan. Walaupun tujuan formal film-film tersebut adalah mengkampanyekan keistimewaan masyarakat Yogya, namun di sana-sini muncul dinamika dan kegelisahan masyarakat yang terselip atau sengaja diselipkan oleh filmmaker terkait permasalahan aktual seperti ekonomi, politik, hingga identitas. Paniradya Kaistimewan tampak berusaha menggunakan film sebagai sarana pedagogi publik yang membuat pedagogi kian politis dan politik menjadi pedagogik. Sehingga, film-film tersebut di satu sisi menunjukkan tujuan dan manfaat "formal" sesuai dengan konsep keistimewaan Yogyakarta yang dipahami; tetapi di sisi lain menggambarkan kegelisahan yang justru mempertanyakan kemanusiaan seperti apakah yang sedang dibentuk di masyarakat. Tulisan ini berusaha menjabarkan kegelisahan tersebut dalam konteks poshumanisme sekaligus melihat hubungannya dengan objek-objek yang menantang kemanusiaan yang “istimewa”, serta mengulik strategi yang ditawarkan oleh filmmaker. Metode yang digunakan adalah analisis konten teks atas film-film fiksi pendek Paniradya Kaistimewan. Hasilnya adalah bahwa keistimewaan kemanusiaan masyarakat Yogyakarta masih erat dikaitkan dengan norma-norma lokal dan tradisi, sedangkan daerah luar dan modernitas dipandang secara peyoratif. Eksotisme seakan menjadi pembenaran atas pilihan tersebut. Kata kunci: dana keistimewaan, film pendek, kajian film, keistimewaan Yogyakarta, pedagogi publik ABSTRACT Established in 2018, the Paniradya Kaistimewan has sponsored various local short film productions and collected films produced by government offices in previous years which were funded through Yogyakarta Uniqueness Funds. Even though these films tend to campaign for the uniqueness of the society of Yogyakarta, there are dynamics and anxieties that are inserted, intentionally or not, by the filmmakers regarding actual problems such as economics, politics, and identity. Paniradya Kaistimewan seems to use films as a means of public pedagogy which makes pedagogy more political and politics more pedagogic. These films show "formal" aims by the common concept of Yogyakarta's uniqueness; but on the other hand, they question what kind of humanity is being formed in the society. This article attempts to explain it in the context of post-humanism while looking at its relationship with objects that challenge "uniqueness" humanity, and exploring the strategies offered by filmmakers. The method used is a semiotic content analysis. The result is that the human features