RIZAL et al.: Kualitas semen beku domba Garut dalam berbagai konsentrasi gliserol 194 Kualitas Semen Beku Domba Garut dalam Berbagai Konsentrasi Gliserol MUHAMMAD RIZAL 1 , M.R. TOELIHERE 2 , T.L. YUSUF 2 , B. PURWANTARA 2 , dan P. SITUMORANG 3 1 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233 2 Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga 16680 3 Laboratorium Fisiologi Reproduksi, Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221, Bogor 16002, Indonesia (Diterima dewan redaksi 29 Nopember 2002) ABSTRACT RIZAL, M., M. R. TOELIHERE, T. L. YUSUF, B. PURWANTARA and P. SITUMORANG. 2003. Quality of Garut ram frozen semen in various glycerol concentrations. JITV 7(3): 194-199. Semen was collected once a week using artificial vagina from four mature Garut rams. Immediately after initial evaluation, semen was divided into three parts and diluted with tris extender containing 3% (G 3 ), 5% (G 5 ), and 7% (G 7 ) glycerol, respectively, each with the concentration of 100 million motile sperm 0.25 ml -1 . Semen was loaded in 0.25 ml mini straws, and equilibrated at 5 0 C for three hours, then frozen and stored in liquid nitrogen container. Results indicated that percentages of post thawing motility and live sperm for G 5 (40 and 50.50%) were significantly higher than G 3 (32.50 and 45.33%) (P<0.05), but not significantly different with G 7 (39.17 and 47.67%) (P>0.05). Percentages of post thawing intact acrosomal and plasma membrane for G 5 (42.67 and 43.17%) were significantly higher than G 3 (36.17 and 38.17%) (P<0.05), but not significantly different with G 7 (38 and 39.83%) (P>0.05). In conclusion, concentration of 5% glycerol is the optimal dose in maintaining frozen semen quality of Garut rams. Key words: Glycerol concentrations, frozen semen, Garut ram ABSTRAK RIZAL, M., M. R. TOELIHERE, T. L. YUSUF, B. PURWANTARA dan P. SITUMORANG. 2003. Kualitas semen beku domba Garut dalam berbagai konsentrasi gliserol. JITV 7(3): 194-199. Semen ditampung dari empat pejantan domba Garut satu kali dalam satu minggu menggunakan vagina buatan. Segera setelah dievaluasi, semen dibagi ke dalam tiga buah tabung reaksi dan masing-masing diencerkan dengan pengencer tris yang mengandung gliserol 3% (G 3 ), 5% (G 5 ), dan 7% (G 7 ). Semen dikemas di dalam straw mini (0,25 ml) dengan dosis 100 juta sperma motil, kemudian diekuilibrasi pada suhu 5 0 C selama tiga jam dan dibekukan serta disimpan di dalam tabung N 2 cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap setelah thawing, persentase motilitas dan hidup perlakuan G 5 (40 dan 50,5%) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan G 3 (32,5 dan 45,33%) (P<0,05), tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan G 7 (39,17 dan 47,67%) (P>0,05). Hasil yang sama juga ditunjukkan pada parameter persentase TAU dan MPU. Pada tahap setelah thawing, persentase TAU dan MPU perlakuan G 5 (42,67 dan 43,17%) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan G 3 (36,17 dan 38,17%) (P<0,05), tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan dengan G 7 (38 dan 39,83%) (P>0,05). Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 5% gliserol merupakan dosis yang optimal dalam mempertahankan kualitas semen beku domba Garut. Kata kunci: Konsentrasi gliserol, semen beku, domba Garut PENDAHULUAN Saat ini keberhasilan program inseminasi buatan (IB) yang menggunakan semen beku pada ternak termasuk domba belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya angka kebuntingan adalah kualitas semen beku yang digunakan. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembuatan semen beku terdapat beberapa perlakuan yang sebenarnya tidak menguntungkan bagi upaya mempertahankan kualitas sperma. Pada proses pembuatan semen beku, akibat perlakuan suhu yang sangat rendah (sekitar -196 0 C) akan terbentuk kristal-kristal es dan perubahan konsentrasi elektrolit yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel. Guna mengurangi efek yang tidak menguntungkan bagi sperma ini, di dalam pengencer harus ditambahkan senyawa krioprotektan. Jenis krioprotektan yang baik dan sudah sangat lazim digunakan dalam proses pembekuan semen adalah gliserol. Gliserol berfungsi memodifikasi pembentukan kristal es melalui pencegahan peningkatan konsentrasi elektrolit di atas efek yang membahayakan dalam medium (KUMAR et al., 1992) serta mencegah pengumpulan molekul H 2 O dan kristalisasi es pada daerah titik beku larutan (MAZUR, 1980). Sementara itu, menurut HOLT (2000a) selain berfungsi sebagai senyawa krioprotektan, gliserol juga menjadi salah satu