Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.15 No.1 Tahun 2015 Dampak Acfta (Asean-China Free Trade Area) Terhadap Perdagangan Buah Jeruk Lokal di Indonesia (Impact of ACFTA (Asean-China Free Trade Area) On Trade Local Citrus Indonesia) PENDAHULUAN Jeruk merupakan komoditas buah yang cukup menguntungkan untuk diusahakan saat ini dan mendatang. Buah jeruk dapat tumbuh dan diusahakan petani dengan varietas atau spesies komersial yang berbeda dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah hingga yang berpenghasilan tinggi. Pada sepuluh tahun terakhir (1998-2008) luas panen dan produksi buah jeruk di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat dengan total produksi sebesar 2.565.543 ton, sekaligus menempatkan posisi Indonesia sebagai negara penghasil utama jeruk dunia (BPS, 2010). Sebagian besar buah jeruk yang dihasilkan dari seluruh sentra produksi diperdagangkan dan dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Produksi jeruk nasional pada tahun 2008 telah mencapai 2.565.543 ton. Harga buah jeruk sangat bervariasi dan berfluktuasi terutama pada saat beberapa sentra produksi panen bersamaan waktunya yaitu dipasaran berkisar antara Rp. 7.000 sampai dengan Rp 8.000 per kilogram dengan berbagai jenis jeruk lokal seperti Jeruk Medan, Jeruk Pontianak dan Jeruk Sulawesi Selatan (Deptan, 2010) Jeruk manis lokal dalam bentuk buah segar sangat bersaing dengan jeruk manis impor terutama jeruk manis dari china seperti jeruk phonkam. Hal ini merupakan tantangan bagi petani dan pedagang jeruk Indonesia agar harga tetap stabil dan keuntungan yang diperoleh khususnya petani meningkat. Di lihat dari sisi ekonomi, China merupakan salah satu raksasa ekonomi dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi 1 Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Batanghari dan relatif stabil. Negara-negara ASEAN (termasuk Indonesia) dan China adalah negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang paling dinamis di Kawasan Asia. Namun krisis ekonomi tahun 1997 telah menyebabkan kemerosotan ekonomi sebagian besar negara-negara ASEAN. Pertumbuhan ekonomi ASEAN pada tahun 1998 mengalami penurunan yang sangat tajam, sementara ekonomi china relatif tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi tersebut. Melihat kemajuan dan kestabilan ekonomi China, ASEAN menaruh harapan besar sehingga dibentuklah kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Area (FTA) ASEAN- China dalam waktu sepuluh tahun mendatang. Dilihat dari sisi jumlah konsumen, FTA ASEANChina apabila terwujud, akan tercatat sebagai blok perdagangan bebas regional terbesar di dunia (ASEAN, secretariat, 2001 dalam Prabianto Mukti Wibowo, 2009). Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian di negara- negara ASEAN dan China. Hal ini juga terjadi pada produk pertanian hortikultura yaitu jeruk manis lokal asal Indonesia dengan jeruk impor dari China dengan jenis jeruk Phonkam. Pada tahun 2009 volume jeruk ponkam dari China yang diimpor ke Indonesia mencapai 1.664.728 kg atau sekitar 1664,728 ton dan sumbangsih untuk GDP China sekitar $301,488,542 (comtrade.org). Kemungkinan setiap tahun volume impor jeruk ponkam ke Indonesia akan terus bertambah apalagi dengan adanya ACFTA. Sejak ACFTA dibuka yakni 1 Januari 2010 pengaruh kedatangan buah-buahan khususnya jeruk asal Cina cukup mempengaruhi harga jeruk lokal. Awal Januari 2010, harga jual petani anjlok antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram dan DAMPAK ACFTA (ASEAN-CHINA FREE TRADE AREA) TERHADAP PERDAGANGAN BUAH JERUK LOKAL DI INDONESIA (Impact of ACFTA (Asean-China Free Trade Area) On Trade Local Citrus Indonesia) Rizki Gemala Busyra 1 Abstract Indonesia is one of the central of oranges in the world. In 2010 the government issued the reduction in import tariffs on oranges fruits in Indonesia. This reduction will affect the sales of the local oranges fruit Indonesia. The purpose of this study is to identify the factors that affect the import, productivity, consumtion, area and the price of orange in Indonesia, and to analyze the impact of ACFTA on oranges fruit sales in Indonesia. This study employs an econometric model consisting of 5 structural equations and 2 identity equations. This study uses secondary data is structured as time series data, starting 1986 until 2010. The result of this study shows the reduction of import tarrif will increase import oranges in Indonesia, and the consumption the local oranges will be decrease. Keywords: Econometric Model, Citrus, Indonesia 83