Perjalanan Dewi Durga Mahisasuramardini: India, Jawa, dan Bali Penulis: Ni Wayan Pasek Ariati, PhD Institusi: World Learning, SIT Study Abroad Indonesia: Arts, Religion, and Social Change Email: ariati.wayan@sit.edu and wayan.ariati@gmail.com ABSTRAK Durga di India pada awalnya digambarkan sebagai Dewi Perang yang cantik dengan banyak lengan, dimana masing-masing lengannya memegang senjata yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa dan dewa- dewa lain selama penciptaannya sebagai Dewi Perang dan Pelindung bagi para dewa untuk mengalahkan musuhnya yang sangat sakti yaitu, Mahisasura, raja raksasa yang berkepala kerbau (Mookerjee, 1988:8). Deskripsi wujud Durga ini ditemukan dalam syair-syair suci India seperti Devi Mahatmya, subbagian penting dari ensiklopedia Markandeya Purana (disusun sekitar abad ke-6 M). Setelah dapat mengalahkan musuhnya, Durga diberi sebutan Durga Mahasisasuramardini yang berarti, “Durga yang telah berhasil membunuh Mahisasura”. Penggambaran Durga sebagai Mahisasuramardini-lah yang mempengaruhi ajaran Hindu aliran Siwaisme yang menyebar di Indonesia mulai awal abad millennium sampai runtuhnya kerajaan Majapahit. Namun, penggambaran Durga Mahisasuramardini di Nusantara terutama di Jawa dan Bali mengalami proses evolusi perubahan radikal. Durga Mahasisasuramardini sebagai Dewi Perang dan Pelindung masih digambarkan sama seperti wujud asal mulanya di India pada jaman kerajaan Hindu di Jawa Tengah (abad ke-6 sampai ke-10 M), tetapi setelah kekuatan kerajaan Hindu pindah ke Jawa Timur (sekitar abad ke-10 sampai abad ke-15 M), penggambaran Durga Mahisasuramardini telah mengalami