Buletin Veteriner Udayana Volume 14 No. 3: 280-286 pISSN: 2085-2495; eISSN: 2477-2712 Juni 2022 Online pada: http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet DOI: 10.24843/bulvet.2022.v14.i03.p12 Terakreditasi Nasional Sinta 4, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi No. 158/E/KPT/2021 280 Gambaran Darah pada Babi yang Diinfeksi Streptococcus suis Secara Intranasal dan Intravena (BLOOD RESULTS IN PIGS INFECTED WITH STREPTOCOCCUS SUIS INTRANASALLY AND INTRAVENOUSLY) Putri Wiliantari 1 *, I Nengah Kerta Besung 2 , I Gusti Ngurah Kade Mahardika 3 1 Dokter Hewan Praktisi di Kota Denpasar, Bali; 2 Laboratorium Bakteri dan Mikologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jln. PB. Sudirman, Denpasar, Bali; 3 Laboratorium Biomedik dan Biomolekuler, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jl. Raya Sesetan Gang Markisa No. 6 Denpasar Selatan, Bali. Email: wiliantari@gmail.com Abstrak Penelitian dilakukan untuk mendeteksi perbedaan profil darah babi yang diinfeksi dengan isolat Streptococcus suis dari Bali dengan rute infeksi intravena dan intranasal. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, dengan melakukan uji biologis isolat S. suis dengan kode isolat PPB5 yang ditemukan di Denpasar terhadap enam ekor babi. Inokulasi secara intra vena maupun secara intra nasal dilakukan pada masing-masing tiga ekor babi. Babi yang digunakan dalam penelitian ini berumur 8 minggu. Pada infeksi intranasal sebelum inokulasi terlebih dahulu diberikan asam asetat 1% pada cavum nasal, kemudian disemprotkan cairan inokulum S. suis (2 x 10 6 ). Pada infeksi secara intravena, cairan inokulum disuntikan pada vena auricularis. Perubahan pada babi diamati sampai hari ke 15. Pengambilan sampel darah dilakukan saat sebelum diinokulasikan bakteri, hari ke 3 pasca inokulasi, dan sebelum dieuthanasia. Pada hari ke-tiga pasca inokulasi, jumlah eusinofil berbeda nyata pada kedua perlakuan, sementara profil darah yang lain tidak berbeda nyata. Semua indikator darah pada kedua perlakuan tidak berbeda nyata sebelum hewan coba dieuthanasia pada hari ke-15. Pada hari ke 15 terjadi peningkatan jumlah eritrosit dan monositosis pada infeksi intranasal. Terjadi hipohaemoglobinemia dan penurunan PCV pada infeksi intranasal dan intravena. Penelitian lanjut diperlukan dengan jumlah ulangan yang lebih banyak. Vaksin S. suis perlu segera dikembangkan untuk mengurangi ancaman Kesehatan masyarakat dan kerugian ekonomi peternak. Kata kunci: Babi; intravena; intranasal; profil darah; Streptococcus suis Abstract Research has been carried out to elucidate clinical, as well as differences in blood profiles in pigs infected with Streptococcus suis isolated from Bali by intravenous and intranasal infection routes. S.suis isolate of PPB5 were inoculated intranasally and intravenously to three pigs respectively. The pigs used in this study were 8 weeks old. In intranasal infection before inoculation, 1% acetic acid was first applied to the nasal cavity, then S. suis inoculum was sprayed (2 x 10 6 ). In intravenous infection, inoculum fluid is injected into the auricular vein. Clinical changes in pigs were observed until day 15. Blood samples were taken before being inoculated with bacteria, 3 rd day after inoculation, and before being euthanized. On the 3 rd day after inoculation, the number of eosinophils was significantly different in the two treatments, while the other blood profiles were not significantly different. All blood indicators in the two treatments were not significantly different before the animals were euthanized on day 15. The increase number of erythrocytes and monocytosis was found in intranasal infections at that day. Hypohaemoglobinemia and decreased PCV are seen in both intranasal and intravenous infections. Further research is needed with a greater number of replications. The S. suis vaccine needs to be developed immediately to reduce the threat to public health and economic losses for farmers. Keywords: Blood profile; intravenous; intranasal; pig; Streptococcus suis