KERAGAMAN PRANATA AGAMA DAN BUDAYA SERTA IMPLIKASINYA BAGI PENGUATAN KEGIATAN EKONOMI MASYARAKAT DESA Ahmad Imron Rozuli, (0341) 714177, Hp. 08155096809, Jl. Bandara palmerah XVII/Q15 Perum Villa Gunung Buring Malang e-mail: imron_unibraw@yahoo.com ABSTRACT The focus of this study was to map out how the dimensions of religious diversity in a rural area of environment has implications for community economic empowerment process. These dynamics is an interesting study, where the level of religious institutions as a symbol of a part in accelerating economic activity. The diversity of religious institutions, it becomes an attractive tourist icons that further increase the income of people in the village. The results of this study obtained data related to how the diverse aspects of religious institutions to support capacity for the process of strengthening community economic activities. Village Wonosari, Wonosari district, Malang regency is a tourist icon with the diversity of religious rituals such as Islam, Confucianism, as well as the ethnic diversity of Java, Madura and Tionghoa. Tourist icons is supported by the harmonization of diverse religious and social institutions that build a positive image in which the symbols of the religious activities are not separate, as well as limitless. This unique example ‡PDNDP .\DL =DNDULD(\DQJ -XJR· is an Islamic scholar but also the Confucian pilgrimage. This of course can not be separated from the stigma that continues to grow in some communities that ‡QJDODS EHUNDK· and Gunung Kawi as a place for "Pesugihan". Key words: diversity, religious and social institutions, community economic empowerment. PENDAHULUAN Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa selama ini tata kemasyarakatan bergerak dengan dinamika kultur dan tradisi kebersamaan sesuai dengan kebiasaan lokal, sedangkan tata pemerintahan seringkali berjalan dengan logikanya sendiri tanpa berupaya membangun basis dan legitimasi di dalam relasi kemasyarakatan. Mendasarkan pada pengalaman tersebut, bahwa interaksi yang terbentuk dimasyarakat merupakan proses antara individu dan struktur/sistem yang dinamis. Dinamisasi tersebut seiring dengan perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat. Dalam konteks inilah diperlukan penciptaan pranata dan akses pada sumber-sumber ekonomi. Dimensi budaya, agama dan SROD UHODVL \DQJ PHQ\DWX DNDQ PHQMDGL VXDWX NHXQLNDQ VHNDOLJXV ELVD PHQMDGL ‡SDVDU· atau terciptanya transaksi dalam kegiatan ekonomi Konteks keragaman/pluralitas yang muncul di kaki Gunung Kawi sangat menarik, dimana dimensi simbol agama yang relatif menyatu misalkan tempat ibadah sekaligus DGDQ\D PDNDP ·(\DQJ -XJR· \DQJ PHQMDGL WLWLN VHQWUDO SH]LDUDK \DQJ EHUDQJNDW GDUL berbagai lapisan sosial masyarakat dan agama. Sebagai tujuan para wisatawan, terutama pada Malam Jum,at Legi atau saat bulan Muharram (1 Suro), kawasan wisata ini ramai dipadati oleh pengunjung yang memiliki beragam motivasi baik kehendak ziarah, beribadah (di klenteng/kuil), melaksanakan tasyakuran karena hajatnya terpenuhi maupun kepentingan ekonomi misalkan berdagang/berjualan. Sinergisitas ini menjalin suatu harmoni antara kepentingan ritual yang berimplikasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Kerekatan ini tampak terjalin dari hasil observasi bahwa masyarakat lokal maupun pendatang memiliki jalinan interaksi yang secara langsung memiliki implikasi bagi proses penguatan kegiatan ekonominya. Hal utama dalam upaya penguatan ekonomi