JURNAL TRANSFORMATIKA, Volume 13, Nomor 2, Januari 2016 59 DESAIN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN GIZI BURUK DI KOTA SEMARANG Bambang Agus Herlambang 1 Program Studi Informatika Fakultas Teknik Universitas PGRI Semarang Vilda Ana Veria Setyawati 2 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang AbstractSevere Protein Energy Malnutrition (PEM) are four major problems in the nutrition world. Such as iodine deficiency disorders, and lack of vitamin A. It also often called malnutrition caused by shortages associated poor dietary intake in terms of quality and quantity. Based on data from Semarang Health Office in 2013, the scope of severe PEM in children under five with BGM (Down Red Lines) of 1,502 (1.7%) and children with severe malnutrition by 32 (0.04%). The number of infants with BGM (Down Red Lines) in Semarang in 2013 was 1,502 or 1.7%. Geographical Information Systems (GIS) is one of the information technology that was designed to use spatial and non spatial data. The system could report information and summarize the malnutrition data thus help to process analysis of the causes of malnutrition in the region. Geographic information systems development method used waterfall method with Unified Modeling tools laguage (UML). System testing was done by white box method for testing complexity groove siklomatis on system design and black box to test the input and output. Keywords - Design, Geographic Information Systems, Severe Protein Energy Malnutrition, Semarang I. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan suatu bangsa berhubungan erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Sumber daya yang dibutuhkan tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga dari kualitas. Salah satu yang menentukkan kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan yang ditandai dengan beberapa parameter yaitu rendahnya angka kematian balita. Beberapa hal menjadi penyebab kematian balita mulai dari kekurangan gizi dan menderita suatu penyakit. Kekurangan gizi merupakan empat masalah besar di bidang gizi selain anemia, gangguan kekurangan yodium, dan kekurangan vitamin A. Gizi buruk juga sering disebut malnutrisi yang berhubungan disebabkan oleh kekurangan asupan makanan yang buruk dari segi kualitas dan kuantitas. Program gizi yang sudah dilaksanakan pada dasarnya mampu menurunkan angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk pada balita belum mencapai target yang diharapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010-2014, yaitu 15% dan Millenium Develpoment Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu 15,5% bahkan di beberapa daerah prevalensinya diatas angka nasional. Data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) menunjukkan prevalensi gizi kurang pada balita tahun 2010 adalah 17,9% turun dari 18,4% tahun 2007. Kondisi gizi kurang dan buruk ini menyebabkan risiko balita menderita penyakit infeksi meningkat karena daya tahan tubuh yang rendah.Bahkan kondisi ini dapat menyebabkan kematian. WHO menyatakan kematian balita di negara berkembang 60%-nya disebabkan gizi buruk. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang 2013, cakupan gizi buruk balita dengan BGM ( Bawah Garis Merah ) sebanyak 1.502 (1,7%) dan balita dengan gizi buruk sebanyak 32 (0,04%). Cakupan balita yang berat badannya naik di kota Semarang tahun 2013 belum mencapai target yang telah ditetapkan di dalam Standar Pelayanan Minimal Propinsi Jawa Tengah sebesar 80%. BGM (Bawah Garis Merah) merupakan hasil penimbangan dimana berat badan balita berada dibawah garis merah pada KMS. Jumlah balita dengan BGM (Bawah Garis Merah) di Kota Semarang tahun 2013 adalah 1.502 atau 1,7%. [1] Perkembangan teknologi untuk peningkatan kualitas kesehatan banyak dimanfaatkan di beberapa wilayah secara global. Kota Semarang merupakan salah satu kota memiliki literasi tinggi terhadap kemajuan teknologi. Namun, penggunaan sistem informasi geografis masih jarang ditemukan. Bebapa hal melatar belakangi penggunaan sistem informasi geografi ini. Prevalensi penyakit berhubungan dengan aspek lingkungan/ geografi/spasial/keruangan. Sehingga perlu dibuat sebuah sistem informasi yang dapat melaporkan dan merangkum data-data yang ada sehingga membantu untuk proses analisis penyebab gizi buruk di suatu wilayah. a. SIG (Sistem Informasi Geografis) Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) merupakan salah satu teknologi informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain sistem