Hutan Gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil dan Hutan Gambut PT Arara Abadi –Propinsi Riau; Vegetasi dan Kerusakannya (Peat Forest on Siak Kecil Wildlife Sanctuary and PT Arara Abadi, Riau Province; Vegetation within of Damages) Asep Sadili Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Email: asep.sadili@gmail.com Memasukkan: April 2015, Diterima: Juni 2015 ABSTRACT This study aims to determine state of forest vegetation stands within of damage level at the Giam Siak Kecil wildlife sanctuary (Tasik Betung area) and Conservation Forest PT Arara Abadi (Bukit Batu area) - Riau. Several plots of different vegetation types were used in this study. The number of plots develoved in Tasik Betung were 13 plots, while in Bukit Batu were 11 plots (50 x 20 m). The plots were conducted for trees (10 x 10 m) and belta (5 x 5 m). The two study sites were generally susceptible to interference, especially in Tasik Betung. The total number of trees and belta were recorded for 178 species, 91 genera and 43 families. The main trees species at Tasik Betung was dominated by Pandanus Artocarpus (IV=17,35%), while Bukit Batu was Gonystylus bancanus (IV=21,35%), The belta category at Tasik Betung was dominated by Gymnacanthera contracta (IV=19,31%), while in Bukit Batu was Mangifera parvifolia (IV=34,71%). Species protected of Endangered species found were Dillenia excelsa, Garcinia bancana, Shorea parvifolia, S. teysmaniana, S. uliginosa, Vatica rassak, and V. umbonata. Keywords: Bukit Batu, peat swamp forest, Riau, vegetation, Tasik Betung. ABSTRACT Penelitian ini bertujuan mengetahui keadaan tegakan vegetasi hutan tumbuhan gambut dan kerusakannya di Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil (Tasik Betung) dan Hutan Konservasi PT Arara Abadi (Bukit Batu) - Riau. Metode penelitian menggunakan plot di beberapa tipe vegetasi berbeda. Jumlah plot di Tasik Betung 13 buah dan di Bukit Batu 11 buah masing-masing berukuran 50 x 20 m (0,1 ha). Pada setiap plot dibuat anak plot 10 x 10 m untuk pohon (diameter > 10 cm), kemudian dibuat anak plot 5 x 5 m untuk belta (diameter 2 cm – 10 cm). Kondisi hutan di Tasik Betung telah mengalami gangguan, sedangkan di Bukit Batu masih baik. Jumlah jenis keseluruhan pohon dan belta 178 jenis, 91 marga dan 43 suku. Jenis pohon utama di Tasik Betung adalah Pandanus artocarpus (NP=17,35%), di Bukit Batu Gonystylus bancanus (NP=21,35%). Jenis utama belta di Tasik Betung Gymnacanthera contracta (NP=19,31%), di Bukit Batu Mangifera parvifolia (NP=34,71%). Jenis-jenis berstatus terancam kepunahan pada dua lokasi untuk pohon dan belta yaitu Dillenia excelsa, Garcinia bancana, Shorea parvifolia, S. teysmaniana, S. uliginosa, Vatica rassak, dan V. umbonata. Kata Kunci: Bukit Batu, Hutan gambut, Riau, Tasik Betung, vegetasi. PENDAHULUAN Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis basah bersifat biofisik unik dan khas dengan tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi, dan tipe ekosistem yang beragam. Salah satu tipe ekosistemnya yang rentan rusak dan sulit untuk pulih kembali adalah kawasan hutan rawa gambut. Hutan ini merupakan sumber plasma nutfah yang sangat penting untuk dilestarikan karena berfungsi untuk mengatur tata air dan sumber cadangan karbon dalam unsur gas rumah kaca, yang berperan penting dalam perubahan iklim global. Luas kawasan hutan rawa gambut Indonesia diperkirakan ± 26,3- 27 juta ha, tersebar di Papua, Sumatra dan Kalimantan. Di Sumatra lahan gambut terluas terdapat di Riau, diperkirakan mempunyai luas ±1,87 juta hektar (Mirmanto dkk 1993; Kehutanan 1997; Mansur 1999). Saat ini keberadaan ekosistem hutan gambut mengalami tekanan serius untuk dirubah menjadi penggunaan lain. Di beberapa lokasi banyak yang telah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan baik kelapa sawit, akasia, karet, dan kebutuhan infrastruktur lainnya, sehingga luasan hutan gambut alami Indonesia setiap tahunnya mengalami penurunan (Mirmanto dkk, 1999; Mudiyarso dkk. 2004). Menurut Miettinen & Liew (2010) hutan gambut Sumatra dan Kalimantan seluas ± 36% merupakan hutan alami dan ± 74% sudah terganggu. Kerusakan ekosistem hutan gambut Indonesia terus terjadi, sehingga menyebabkan hilangnya