Abstrak Latar belakang : Puskesmas Rowosari adalah puskesmas dengan IR DBD tertinggi di Kecamatan Tembalang. Penderita DBD pada tahun 2014 sampai 2016 mengalami peningkatan dan sebagian besar terjadi pada anak sekolah. Berdasarkan data pemantauan jentik, ditemukan 8 sekolah positif jentik di bak mandi, ember, dan penampung limbah kulkas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui rancangan indikator Sekolah Tangguh DBD. Metode : Metode Research and Development pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah lembar checklist, lembar validasi, lembar angket dan pedoman wawancara. Analisis data yaitu analisis deskriptif dan analisis kualitatif. Hasil: Indikator telah divalidasi oleh ahli dengan rata-rata penilaian 82,58 % yang artinya telah teruji dan dapat dilanjutkan. Uji coba skala kecil dilakukan pada 2 sekolah dasar dengan rata-rata 90,62 % yang artinya layak digunakan sebagai instrumen penilaian Sekolah Tangguh DBD. Hasil menunjukkan dari 15 sekolah dasar rata-rata penilaian Sekolah Tangguh DBD sebesar 72,53 % (kategori rawan risiko rendah DBD). Temuan untuk masing- masing indikator yaitu sarana dan prasarana 73%, praktik PSN 54%, keberadaan jumantik 70,67 %, kebijakan sekolah 82%, dan dukungan operasional 78,33%. Simpulan : Rancangan indikator Sekolah Tangguh DBD dalam penelitian ini meliputi sarana dan prasarana, praktik PSN, keberadaan jumantik, kebijakan sekolah dan dukungan operasional .. Abstract Background: Rowosari Community Health Center has the highest incidence rate of Dengue Hemor- rhagic Fever (DHF) than any other community health centers in Tembalang District. DHF cases from 2014 until 2016 had increased and mostly occur to students. Based on larva monitoring data, there were 8 schools which had larvae observed in the bathtub, bucket, and container of refrigerator waste. Te purpose of this research was to develop indicators for Sekolah Tangguh DBD (DHF Tough School). Methods: Te type of research was Research and Development with qualitative descriptive approach. Te instruments were checklist, validation sheet, questionnaire, and interviews guide. Tis research used descriptive and qualitative analysis. Result: Te indicator had been validated by the expert with the average rating of 82.58% which means it had been tested and it could be continued. Small-scale trials were conducted in 2 primary schools with an average of 90.62%, which means it was appropriate to be used as an assessment instrument for DHF Tough School. Te results showed that the average score of DHF Tough School indicators was 72.53% (low risk category of DHF). Te fndings for each indicator are 73% of facilities and infrastruc- tures, 54% eradication of mosquito breeding practice, 70.67% larvae monitoring ofcer existence, 82% school policy, and operational support 78.33%. Conclusion: Te draf for DHF Tough School indicators in this study includes facilities and infrastruc- tures, eradication of mosquito breeding practices, larvae monitoring ofcer existence, school policy, and operational support. © 2018 Universitas Negeri Semarang ISSN 2527 - 4252 JHE 3 (1) (2018) Journal of Health Education https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jhealthedu PENGEMBANGAN INDIKATOR SEKOLAH TANGGUH DBD Rengganis Prisklatiwi , Rudatin Windraswara, Irwan Budiono Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima Desember 2017 Disetujui Februari 2018 Dipublikasikan April 2018 Keywords: DHF ; Indicator ; School Alamat korespondensi: Gedung F5 Lantai 2 FIK Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 Email : rengganisprisklatiwi@gmail.com 46