Se m ina r Na sio na l Te kno lo g i Info rm a si d a n Multim e d ia 2014 STMIK AMIKO M Yo g y a ka rta , 8 Fe b rua ri 2014 ISSN : 2302-3805 2.07-77 STRATEGI “BRING YOUR OWN DEVICES” PADA PERUSAHAAN SEBAGAI TANTANGAN PENYELARASAN BISNIS DAN TI UNTUK MEMENUHI SASARAN FINANSIAL Restiadi Bayu Taruno 1) , Wing Wahyu Winarno 2) , Dani Adhipta 3) 1), 2), 3) Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Jl Grafika 2 Yogyakarta 55281, Telp/Fax:0274 547506 Email : bayu.taruno.cio.8b@mail.ugm.ac.id 1) , wingwahyuwinarno@gmail.com 2) , dani@te.ugm.ac.id 3) Abstrak Konsumerisme dan trivialisme telah merubah wajah TI dalam dunia bisnis. Organisasi dalam perusahaan tengah merancang sebuah kebijakan yang mengizinkan “Bring Your Own Devices” (BYOD) kedalam lingkungan pekerjaan demi peningkatan produktivitas, kolaborasi dan mobilitas pekerja. Dengan menggeser kepemilikan perangkat kepada karyawan, kontraktor dan bahkan departemen, IT meringankan beban secara proses bisnis dan finansial dalam hal pengadaan perangkat, end point procurement dan manajemen. Meskipun memiliki isu besar soal keamanan, kebijakan BYOD bukan lagi tentang kemauan organisasi dalam perusahaan untuk penerapannya, namun tentang kapan kebijak tersebut akan diterapkan. Kata kunci: konsumerisme; produktifitas; finansial; keamanan; (key words) 1. Pengertian Bring Your Own Devices (BYOD) Konsumerisasi adalah sebuah kecenderungan yang berkembang untuk teknologi informasi baru agar muncul pertama di pasar konsumen dan kemudian menyebar ke organisasi bisnis dan pemerintah [1]. Munculnya pasar konsumen sebagai pendorong utama inovasi teknologi informasi dipandang sebagai pergeseran industri TI utama, sebagai organisasi bisnis dan pemerintah besar mendominasi dekade awal penggunaan komputer dan pengembangan.Bring Your Own devices (BYOD) (juga disebut membawa teknologi sendiri (Bring Your Own Technology : BYOT), membawa telepon Anda sendiri (Bring Your Own Phone : BYOP), dan membawa PC Anda sendiri (Bring Your Own PC : BYOPC)) adalah sebuah kebijakan yang mengizinkan karyawan untuk membawa perangkat mobile milik pribadi (laptop, tablet, dan smartphone) ke tempat kerja mereka, dan menggunakan alat-alat tersebut untuk mengakses informasi perusahaan dan aplikasi khusus perusahaan[2][3]. istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan praktik serupa yang diterapkan kepada siswa, yaitu menggunakan perangkat pribadi yang dimiliki dalam dunia pendidikan[4]. Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan media sosial dan internet di masyarakat, menimbulkan gejala baru pada trend teknologi yaitu konsumerisme dan trivialisme IT. Tentunya hal ini menimbulkan tantangan baru bagi setiap organisasi baik pemerintah maupun sektor swasta. Di masa kini dengan semakin berkembangnya industri Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat jamak ditemui karyawan sebuah perusahaan atau pegawai-pegawai pemerintah yang menggunakan alat komunikasi, laptop dan berbagai piranti lainnya ke dalam lingkungan pekerjaan. Bahkan hasil riset dari sebagian besar bursa di seluruh dunia memberikan nilai 70% pengguna smartphone lebih memilih mengakses data-data bisnis dan personalnya melalui piranti-nya sendiri, tanpa dipusingkan dengan kesulitan atau masalah-masalah tentang masih kaburnya batasan diantara keduanya [13]. 2. Strategi TI terhadap strategi bisnis Strategi sangat penting bagi perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan pasar. Strategi merupakan arahan dan ruang lingkup dari perusahaan dalam jangka panjang yang akan memberikan keuntungan bagi perusahaan melalui penggunaan sumber daya yang ada dalam lingkungan yang mendukung untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memenuhi harapan dari para stakeholder. Strategi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan akan membedakannya dengan perusahaan – perusahaan lain. Perusahaan dapat memberikan performa yang lebih baik dari para pesaing hanya jika perusahaan dapat menentukan perbedaan yang dimilikinya dan mempertahankannya. Karena perbedaan ini, maka setiap perusahaan tentunya akan memerlukan penggunaan IT secara berbeda sesuai dengan strategi yang diterapkan. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan, pertama proses bisnis perlu dilakukan modifikasi agar sesuai dengan IT yang digunakan, atau kedua melakukan penyesuaian atau kustomisasi terhadap IT. IT memegang peranan penting dalam mewujudkan strategi bisnis. Sebuah organisasi yang telah mengadopsi teknologi informasi ke dalam proses bisnis yang dilakukannya, tentunya akan ikut memikirkan peranan yang akan dilakukan oleh IT. Beberapa perusahaan ada yang menggunakan IT untuk menjalankan operasi sehari – hari agar dapat berjalan dengan baik dan efisien. Ada juga perusahaan yang menggunakan IT sebagai enabler untuk menciptakan kesempatan – kesempatan baru yang mungkin tidak akan dapat dilakukan tanpa dukungan IT. Serta IT juga digunakan sebagai cara baru untuk