p-ISSN 2477-2798|e-ISSN 2614-1787 JURNAL ILMIAH FLASH Vol. 4 No. 2, Halaman: 105 - 112 Desember 2018 RANCANG BANGUN PENDETEKSI GAS CO DAN H2S SEBAGAI EARLY WARNING SYSTEM (EWS)DI KAWAH GUNUNG IJEN Subono 1) , Alfin Hidayat 2) , Akhmad Afandi 3) 1 Teknik Informatika, Politeknik Negeri Banyuwangi, Jl. Raya Jember KM 13 Kabat, Banyuwangi, 68461 2 Teknik Informatika, Politeknik Negeri Banyuwangi, Jl. Raya Jember KM 13 Kabat, Banyuwangi, 68461 3 Teknik Mesin, Politeknik Negeri Banyuwangi, Jl. Raya Jember KM 13 Kabat, Banyuwangi, 68461 subono@poliwangi.ac.id, alfin.hidayat@poliwangi.ac.id, akhmad.afandi@poliwangi.ac.id Abstrak Gunung Ijen di Banyuwangi merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia dengan ketinggian 2443 mdpl. Gunung ijen terkenal dikalangan wisatawan domestik maupun luar negeri karena fenomena alam api biru dan penambang belerang tradisional. Permasalahan utama adalah munculnya gas beracun secara mendadak. Gas beracun yang muncul dari kawah dalam konsentrasi tinggi sangat berbahaya. Berdasarkan keterangan dari Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, gas beracun gunung ijen telah menelankorban sekitar 70 orang sampai tahun 2013. Kondisi wilayah kawah terjal, berbatu, licin, curam dengan kemiringan hingga 45 0 , sehingga diperlukan sistem peringatan dini (Early Warning System) untuk mendeteksi kandungan gas beracun konsentrasi tinggi melalui perangkat sensor. Perangkat sensor yang digunakan sesuai kondisi geografis dari kawah ijen yaitu mudah dalam penempatan, dapat dipindah sesuai kebutuhan keadaan dan mampu saling komunikasi dengan perangkat sensor yang lain termasuk berkomunikasi dengan server melalui jaringan sensor nirkabel (Wireless Sensor Network). Sistem komunikasi antar sensor node menggunakan singlehop. Daya jangkau perangkat zigbee sampai 200 meter tanpa halangan. Tingkat efisiensi konsumsi arus listrik maksimal 35 mA dibutuhkan untuk mengirim data gas beracun CO dan H2S dari sensor MQ-9 dan MQ-136. Peringatan dini munculnya gas beracun dapat dideteksi dengan baik maka timbulnya korban jiwa dapat berkurang. Kata Kunci :EWS, WSN Zigbee, pro S2, MQ-9 sensor, MQ-136 sensor. PENDAHULUAN Kondisi lingkungan dengan potensi keberadaan gas beracun yang dapat keluar secara tiba-tiba harus mendapat monitoring terus-menerus. Indonesia merupakan daerah rawan bencana dari aktifitas vulkanologi, salah satu aspek dari kegiatan vulkanologi adalah keluarnya gas beracun secara tiba-tiba [3][7]. Jalur lalu lintas yang padat juga dapat menimbulkan gas beracun dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Industri kimia juga mempunyai peluang terjadinya kebocoran gas beracun, sehingga dalam konsentrasi tertentu dapat membahayakan jiwa manusia[3][4][5]. Berdasarkan tingkat konsentrasi serta dampak paling berbahaya terhadap tubuh manusia maka gas karbon monoksida (CO) dan Hidrogen Sulfida H2S [ ] memiliki tingkat paling tinggi [2][6][7]. Jenis gas CO merupakan senyawa yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna, tidak berbau dan sangat berbahaya bagi tubuh manusia karena dapat dengan mudah diikat oleh haemoglobin darah HbCO [1][4][5][6]. Gas Hidrogen Sulfida(H2S) merupakan senyawa kimia yang paling banyak dikeluarkan oleh aktifitas geothermal bumi. Penyerapan gas H2S oleh darah dapat mengurangi jumlah gas oksigen dalam darah. Pada jumlah tertentu gas H2S terlarut dalam darah dapat menganggu kinerja otak dan syaraf serta fungsi kontrol pada paru- paru[1][8][9]. Penggunaan jaringan sensor nirkabel (WSN) dengan transceiverzigbee pro S2 standart IEEE 802.15.4 diterapkan pada penelitian ini. Teknologi WSN dapat diterapkan utamanya pada daerah- daerah yang sulit dilalui manusia, berbahaya dan terbatasnya sumber daya energi listrik[2]. Penentuan topologi jaringan dapat disesuaikan dengan keadaan wilayah atau lingkungan yang dihadapi. Kondisi wilayah yang terjal dan curam dapat digunakan sebagai contoh untuk monitoring gas beracun pada kawah gunung