238 PSYCHOLOGYCAL FIRST AID (PFA) PADA ANAK-ANAK KORBAN GEMPA BUMI DI CAMP PENGUNGSIAN LAPANGAN PRAWATASI JOGLO CIANJUR Irfan Fahriza 1 , Nandang Rusmana 2 , Nandang Budiman 3 , Andre Julius 4 , Alfaiz 5 , Vina Dartina 6 , Syari Fitrah Rayaginansih 7 , Ananda Rachmaniar 8 1,4,5,6,7,8 Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ma'soem 2,3 Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Email: irfanfahriza@masoemuniversity.ac.id 1 Abstract. Disasters can trigger Post-Traumatic Disorder (PTSD). Children are highly vulnerable to these impacts, so they need psychological assistance. PFA activities aim to maintain the mental health of children affected by the earthquake so that they do not experience PTSD and increase understanding and psychological well-being. One of the services that can be provided is Psychological First Aid (PFA). This activity includes planning, training, implementation, evaluation, and follow-up stages. This PFA activity focused on dozens of children who were earthquake victims in the Joglo Prawatasi refugee camp, Cianjur. The activity implementation went smoothly, and other volunteer teams, BNPD and kitabisa.com, received appreciation. Impact of PFA on earthquake victim children 1) Reducing trauma symptoms; 2) Increased understanding of disasters; 3) Provide a sense of security and support; 4) Help children express emotions; and 5) Increasing empowerment and psychological recovery. Coordination, mental readiness, and competence of volunteers are supporting factors in carrying out activities properly. Keywords: Disaster events, Post-traumatic disorder (PTSD), Children, Psychological first aid (PFA), Volunteer Abstrak. Bencana dapat memicu munculnya Post-Traumatic Disorder (PTSD). Anak-anak memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap dampak ini, sehingga membutuhkan bantuan psikologis. Kegiatan PFA betujuan untuk menjaga Kesehatan mental anak-anak korban gempa sehingga tidak mengalami PTSD dan menignkatkan pemahaman dan kesejahtraan psikologi. Salah satu layanan yang dapat diberikan adalah Psychological First Aid (PFA). Kegiatan ini meliputi tahap perencanaan, pelatihan, implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. Kegiatan PFA ini difokuskan pada anak-anak yang menjadi korban gempa bumi di camp pengungsian Joglo Prawatasi, Cianjur, yang berjumlah puluhan. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan mendapatkan apresiasi dari tim relawan lain, BNPD, dan kitabisa.com. Dampak PFA pada anak-anak korban gempa bumi 1) Mengurangi gejala trauma; 2) Peningkatan pemahaman bencana; 3) Memberikan rasa aman dan dukungan; 4) Membantu anak-anak mengungkapkan emosi; dan 5) Meningkatkan keberdayaan dan pemulihan psikologi. Koordinasi, kesiapan mental, dan kompetensi relawan merupakan faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan dengan baik. Kata kunci : Kejadian bencana, PTSD, Anak-anak, Psychological first aid (PFA), Relawan. PENDAHULUAN Bencana alam adalah kejadian yang tidak dapat diprediksi dan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Indonesia memiliki keragaman geografi yang dipengaruhi oleh faktor geologi, termasuk aktivitas pergeseran lempeng tektonik yang aktif sekitar perairan Indonesia. Ini menyebabkan jalur gempabumi, serta rangkaian gunung api dan patahan yang aktif dan berpotensi menjadi sumber gempa (Rais & Somantri, 2021). Gempa bumi adalah peristiwa yang menyebabkan getaran tiba-tiba dan cepat pada permukaan bumi akibat pecahnya dan pergeseran batuan di bawah permukaan (Winarno, 2011). Pada Senin 21 November 2022 siang, berpusat di Cianjur, Jawa Barat, telah terjadi gempa bumi dengan maghnitude 5.6. Gempa berpusat di 10 km arah barat daya dari Kabupaten Cianjur dengan kedalaman gempa 10 km. Titik gempa berada di 6,84 Lintang Selatan dan 107,05 Bujur Timur. Gempa ini terjadi pada pukul 13.21 WIB. Gempa ini memiliki dampak yang sangat besar hingga menelan banyak korban. Bahkan, gempa terasa hingga Jakarta. Selain di Jakarta, gempa turut dirasakan di Sukabumi, Bogor, Bandung, hingga Depok. Gempa tersebut merusak ribuan rumah dan menelan korban jiwa hingga 600 orang.