E K U I L I B R I U M ISSN : 1412-9124 Vol. 12. No. 2. Halaman : 55 – 58 Juli 2013 55 DEKOMPOSISI PELEPAH PISANG MENJADI GLUKOSA SECARA TERMOKIMIA DALAM AIR PANAS BERTEKANAN (HOT COMPRESSED WATER) Bregas S.T. Sembodo*, Fais Hamdan Prayogi Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Jl.Ir. Sutami No. 36A Surakarta, Telp/Fax (0271)632112 *Email : bregas@uns.ac.id Abstract: There are huge numbers of waste biomass like banana bark. In this study, the banana bark was decomposed to be glucose with the hot compressed water using 5% Na2CO3 of the weight of biomass as catalyst. The instrument used 100 ml autoclave which was heated at 280˚C for several minutes on the tube furnace. The heating time was 25 minutes, 50 minutes; 75 minutes, 100 minutes, and 125 minutes. The results indicated that increasing of the length of warming time increasing degradation of glucose produced. Keywords : banana bark, decomposition, glucose, thermochemical PENDAHULUAN Limbah biomassa di Indonesia jumlahnya cukup besar, berasal dari rumah tangga, pertanian, dan industri. Limbah biomassa ini dapat menjadi pencemar lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Selama ini limbah biomassa umumnya hanya dibuang atau dibakar begitu saja dan belum dimanfaatkan secara optimal. Komponen utama tanaman biomassa adalah karbohidrat ±75% lignin ±25% dimana dalam beberapa tanaman komposisinya bisa berbeda-beda. Salah satu tanaman yang mengandung selulosa adalah tanaman Pisang (Musa Paradisiacal). (Rismunandar, 1990) Tanaman pisang yang jarang dimanfaatkan adalah pelepah pisang. Dalam pelepah pisang mengandungan selulosa diantara 63% – 64%, hemiselulosa 19%, dan kandungan lignin 5%. Jika pelepah pisang sudah menjadi serat, maka serat pelepah pisang mengandung 60% - 65% selulosa, 6% - 8% hemiselulosa, dan 5% - 10% lignin. Diameter serat pisang adalah 120 ± 5,8 μm. (Tarmansyah, 2007) Selulosa merupakan senyawa polisakarida yang terdapat banyak di alam. Berat molekulnya tinggi, strukturnya teratur berupa polimer yang linear terdiri dari unit ulangan β-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan glikosida pada posisi C1 dan C4. Selulosa umumnya terdapat dalam kayu bersama-sama dengan beberapa komponen antara lain, hemiselulosa, lignin, dan zat ekstraktif. Pelepah pisang berpotensi dikembangkan menjadi glukosa karena memiliki kandungan selulosa cukup tinggi.. (Anonim, 2011) Glukosa adalah suatu gula monosakarida, salah satu karbohidrat terpenting yang diganakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami D-glukosa disebut dekstrosa. Gambar struktur kimia glukosa dapat diliah padat gambar 2. (Anonim, 2011) Dekomposisi adalah proses pengdegradasian. Proses pengdegradasian yang dilakukan dalam penilitian ini menggunakan proses pengdegradasian secara hot compressed water, yaitu proses dekomposisi secara termokimia dalam air panas bertekanan, yang mana dimungkinkan terjadi degradasi yang cukup baik dibandingkan apabila dilakukan pada tekanan atmosferik. Mekanisme yang terjadi dalam proses dekomposisi selulosa dalam air panas bertekanan adalah sebagai berikut : 1. Dekomposisi selulosa dimulai pada suhu 200 o C. Sebagian besar glukosa diperoleh pada suhu 200 o C sampai 220 o C. Jumlah selulosa yang terdekomposisi terus meningkat sampai suhu 240 o C, menghasilkan produk-produk non-glukosa yang terlarut dalam air. 2. Di atas suhu 240 o C terjadi pembentukan minyak, arang dan gas-gas. Pada suhu yang semakin tinggi, makin banyak minyak yang terdekomposisi menjadi arang dan gas-gas. Peran katalis Sodium Karbonat (Na2CO3) adalah menekan terjadinya dekomposisi minyak menjadi arang dan gas-gas, sehingga akan memperbanyak produk minyak yang dihasilkan.