72 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNIPMA VERBALABUSE PADA POLA KOMUNIKASI BERPACARAN MELALUI CHATTING PADA REMAJA PEREMPUAN Rosita Ambarwati 1) , Dwi Rosita Sari 2) 1,2 FKIP, Universitas PGRI Madiun Email: 1 paramithagita@yahoo.co.id 2 rositasari_dwi@yahoo.com Abstrak Bentuk kekerasan dalam suatu hubungan ada berbagai bentuk salah satunya adalah kekerasan verbal. Berdasarkan data komnas perempuan sejak tahun 2010 terjadi kekerasan dalam pacaran. Hal ini diperkuat oleh data statistik yang mengindikasikan bahwa remaja memiliki resiko yang lebih besar untuk terlibat dalam kekerasan dalam hubungan pacaran dibandingkan dengan orang dewasa (Women of Color Network, 2008), remaja yang usianya lebih muda, akan lebih sering menjadi korban kekerasan dibandingkan dengan remaja dengan usia yang lebih tua. Artikel ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan wujud tuturan berbahasa remaja putri pada saat berpacaran dan berkomunikasi melalui chatting (2) Menggambarkan pelaksanaan prinsip kerja sama dan kesantunan pada komunikasi remaja putri pada saat berkomunikasi di media chatting, (3) Mendeskripsikan bentuk kekerasan verbal yang dialami remaja putri pada saat berpacaran lewat media chatting. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mengambil desain studi kasus. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode simak dan catat. Hasil penelitian ini berkontribusi pada dunia pendidikan khususnya sekolah serta pemegang kebijakan pembuat kurikulum sehingga dapat melindungi perempuan khususnya remaja putri dari kekerasan verbal. Kata Kunci: Verbal Abuse, Remaja Putri, Berpacaran, Chatting PENDAHULUAN Kekerasan verbal adalah kasus yang banyak dialami oleh remaja. Masa berpacaran yang merupakan tahap saling mengenal dan menjajaki antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Pada fase menjalani hubungan ini bisa dipastikan akan muncul banyak masalah. Banyak kasus yang dialami remaja khususnya pelajar SMP menjadikan semakin menguatnya dugaan bahwa dalam menjalani pacaran remaja sering mengalami kekerasan verbal. Hal diatas diperkuat oleh data statistik yang mengindikasikan bahwa remaja memiliki resiko yang lebih besar untuk terlibat dalam kekerasan dalam hubungan pacaran dibandingkan dengan orang dewasa (Women of Color Network, 2008), remaja yang usianya lebih muda, akan lebih sering menjadi korban kekerasan dibandingkan dengan remaja dengan usia yang lebih tua. Hal ini disebabkan harapan peran gender memainkan peranan penting dalam pembentukkan strategi remaja untuk mencocokkan diri dan agar mendapatkan penerimaan di lingkungannya terutama di masa awal remaja. Periode ini mengakibatkan perasaan tertekan pada remaja, sehingga remaja cenderung menggunakan taktik melukai.Dampak kekerasan verbal dalam berpacaran sering menimpa perempuan sebagai korbannya. Kasus seperti ini bisa terjadi karena adanya proses timbal balik pada saat pasangan berkomunikasi. Pada tahap inilah fungsi bahasa menjadi sangat penting. Secara umum kekerasan