“Malin Kundang” ... WACANA ETNIK Vol. 1 No.1 - 13 “MALIN KUNDANG” KARYA WISRAN HADI: SEBUAH PERBANDINGAN Herry Nur Hidayat Abstract This research describes that readers can produce new works. There are differences between ‘Legenda Malin Kundang’ with “Drama Malin Kundang’. Those differences shows the intertextuality. The differences indicate that there is a readers reactions, respons, and interpretations which have different backgrounds and horizon expectations. Key words: Malin Kundang, drama, intertextuality, comparative approach Pendahuluan Sifat multiinterpretasi karya sastra memungkinkan pembaca bebas memberi tanggapan terhadap sebuah karya sastra. Seorang pembaca (penikmat) akan menanggapi dan menginterpretasi sebuah karya sastra berdasar atas pengalaman dan pemahaman yang dimilikinya. Teeuw (1988) mengungkapkan, setiap pembaca mempunyai horison harapan yang tercipta karena pembacaannya yang lebih dahulu dan pengalamannya selaku manusia budaya. Seorang pembaca, secara otomatis dalam proses pembacaannya, akan memberikan reaksi terhadap bahan bacaannya. Dalam proses tersebut, pembaca akan mengenali, mengamati, dan akhirnya memahami karya yang dibacanya. Pada pembaca tertentu, proses tersebut tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berlanjut pada tahap bereaksi dan berkreasi berdasarkan karya yang telah dibacanya tersebut. Menurut Aminuddin (2000), membaca (karya sastra) adalah kegiatan yang cukup kompleks WACANA ETNIK, Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. ISSN 2098-8746. Volume 1, Nomor 1, April 2010. Halaman 13 - 24. Padang: Pusat Studi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PSIKM) dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas