Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masayarakat Vol. 5, No. 1 (2020), Hal. 245-248 e-ISSN : 2580-3921 – p-ISSN : 2580-3913 USAHA PENGOLAHAN BUAH MANGROVE XYLOCARPUS SP ( NYIRIH ) MENJADI LULUR KECANTIKAN DI DESA BRENGKOK, KECAMATAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR Raka Nur Sukma¹*, Perdana Ixbal Spanton² 1,2 Prodi Ilmu Kelautan, Universitas PGRI Ronggolawe *Email: raka.sukma2385@gmail.com ABSTRAK Ekosistem mangrove memiliki keanekaragaman dan kegunaan, antara lain sebagai penghasil bahan organik, tempat pemijahan berbagai jenis udang, ikan dan moluska. Sementara masyarakat tidak begitu memahami dan mengetahui tentang pemanfaatan dari buah mangrove. Pemanfaatan buah mangrove ini sudah banyak dimanfaatkan di Semarang, khususnya didaerah pesisir pantai yang terdapat ekosistem mangrove. Bahkan diluar Jawa seperti didaerah Maluku sudah memanfaatkan buah mangrove tersebut. Sebagai contoh yaitu yang dilakukan oleh Dosen – dosen FPIK Universitas Khairun Ternate, Maluku Utara, Indonesia. Didalam pengabdiannya disebutkan kegunaan buah Xylocarpus Sp (Nyirih) adalah untuk mengatasi kulit kusam, karena didalam buah tersebut mengandung anti oksidan. Sehingga sudah ada beberapa produk lulur kecantikan dari buah Xylocarpus Sp (Nyirih). Pemanfaatan dari buah Xylocarpus Sp (Nyirih) yang dijadikan sebagai lulur kecantikan ternyata sudah banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan mangrove, berbentuk prodak (bubuk) dan dipasarkan. Pemasaran prodak tersebut melalui media online dan offline dengan harga per item Rp 25.000/100g. Hal tersebut dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat di Desa Brondong. Metode yang yang dilakukan yaitu dengan pendampingan bagi kelompok baru, memberikan pelatihan pengolahan prodak dan pemasaran via online dan offline. Secara kualitatif, hasil dari pelatihan memberikan skill dan pemahaman bagi kelompok, sehingga dapat diterapkan dan berguna bagi peningkatan pendapatan kelompok di Desa Brondong. Kata Kunci: Mangrove, Lulur,Nyirih, Pemanfaatan, Pengolahan. PENDAHULUAN ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN MITRA 1.1. Analisis Situasi Ekosistem mangrove sering sekali ditemukan di sepanjang pantai daerah subtropis dan tropis. Factor lingkungan yang mempengaruhi yaitu seperti aliran sungai dan laut yang bersuhu hangat, salinitas, gelombang laut, embun beku, dan lain – lain yang mempengaruhi keberadaan mangrove. Ekosistem mangrove sering disebut sebagai hutan payau atau hutan bakau. Pengertian ekosistem mangrove secara umum adalah merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Desa Brengkok yang berada di Kecamatan Brondong memiliki DAS (Daerah Aliran Sungai) yang banyak ditumbuhi mangrove jenis Bruguira Sp dan Xylocarpus Sp. Banyaknya buah nagrove yang tidak termanfaatkan, menjadikan suatu permasalahan yang perlu untuk diselesaikan. Pada (Gambar 1) adalah buah mangrove jenis Xylocarpus Sp yang belum termanfaatkan. Gambar 1. Buahnya yang belum termanfaatkan Jika buah mangrove jenis Xylocarpus Sp tidak termanfaatkan, maka tidak akan menjadi nilai ekonomis. Apabila buah mangrove jenis Xylocarpus Sp termanfaatkan dan menjadi suatu produk, maka akan terjadi peningkatan ekonomi dan termanfaatkan kegunaanya oleh masyarakat sekitar. Berbagai olahan produk mangrove telah berkembang di beberapa daerah