EKO-REGIONAL, Vol.5, No.1, Maret 2010 43 ANALISIS PERMINTAAN PANGAN RUMAH TANGGA MENURUT TINGKAT KETAHANAN PANGAN DI PROPINSI JAWA TENGAH (Analisis Data Susenas 2008) Oleh: Yunastiti Purwaningsih 1 Slamet Hartono 2 Masyhuri 2 Jangkung Handoyo Mulyo 2 1 Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta 2 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ABSTRACT The phenomenon of rising food’s prices trend lead to lower of the purchasing power of society and so on have an impact on decreasing household’s demand for food. On the other hand, increase of food prices also have an impact toward household’s food accessibility, that household difficult to access food and the subsequent impact at household’s food security. Based on this phenomenon, hence this research estimates the demand of household’s food related to the level of food security in Central Java province. The source of data is the Panel of SUSENAS Consumption Module in March 2008 of the Central Bureau of Statistics, in the form of raw data. A systemic approach to the Almost Ideal Demand System (AIDS) in the form of linear approximation (LA/AIDS) was applied to analysis the data. The results of analysis show that all of the food commodities are non giffen goods, and is inelastic, except tobacco which is elastic as well as noodles for food-insecure households are unitary. Instant foods and beverages are the substitution food of rice for the food-secure, food-insecure, and food-vulnerable household, while at food-insecure households; noodles become the substitution food of rice. Most of the food commodities are the goods of daily needs, and tobacco is a luxury item. The recommended suggestions are the need of efforts to chase the total consume of tobacco, otherwise to reduce the total number of smokers, to control the quality and security of food in the food industry and to make innovation on producing noodles using local raw material (other than flour). Key words: household’s demand for food, Panel of SUSENAS, Almost Ideal Demand System PENDAHULUAN Dewasa ini pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia terkonsentrasi pada beras di mana tingkat konsumsi beras hampir 139 kg per kapita per tahun atau secara keseluruhan mencapai 35 juta ton per tahun, dibandingkan dengan India hanya 70% dari Indonesia, sedangkan di Malaysia sekitar 80 kg per kapita per tahun, sementara Jepang justru lebih rendah lagi yakni hanya 50 kg per kapita per tahun (Anonimous, 2009a). Hasil analisis dengan menggunakan data runtut waktu Susenas yang dilakukan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian serta Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian menunjukkan (Ariani, 2008) : (i) Semua propinsi di Indonesia pada tahun 1979 mempunyai pola pangan pokok utama beras, dan pada tahun 2005 posisi tersebut masih tetap, kalaupun berubah hanya terjadi pada pangan kedua, antara jagung dan umbi-umbian, (ii) Di KTI (Kawasan Indonesia Timur) pola pangan tunggal berupa beras pada tahun 1979 hanya terjadi di satu propinsi (Kalsel), namun pada tahun 1996 sudah menjadi 8 propinsi (Kalsel, Kalbar, Kalteng, Kaltim, NTB, Sulsel, Sulut dan Sulteng), (iii) Pada tahun 1993, sebagian besar propinsi mempunyai pola pangan pokok yang sudah mengarah ke pola tunggal yaitu beras. Kecenderungan ini terjadi pada masyarakat kaya dan miskin, dan (iv) Pada tahun 2002, pangan pokok kedua masyarakat sudah tidak dari umbi-umbian atau jagung, tetapi dari mie. Perubahan ini semakin signifikan pada tahun 2005, semua masyarakat di kota atau desa dan kaya atau miskin hanya mempunyai satu pola pangan pokok yaitu beras dan mie. Senada dengan hasil tersebut, penelitian Saliem dan Ariningsih (2008) mengenai perubahan pola konsumsi dan pengeluaran rumah rangga di pedesaan Indonesia dengan data Susenas 1999, 2002 dan 2005 juga menunjukkan terjadinya perubahan konsumsi dan pengeluaran pangan yang mengarah pada mie/terigu, serta meningkatnya konsumsi dan pengeluaran untuk makanan jadi dan rokok (tembakau dan sirih). Sementara itu fenomena yang terjadi menunjukkan kecenderungan meningkatnya harga pangan. Berdasar data menunjukkan harga pangan mulai menunjukkan kenaikan sejak tahun 2006 dan diprediksi akan tetap tinggi di masa yang akan datang. Berdasarkan indeks harga pangan FAO, pada tahun 2006 harga pangan naik sekitar 8% dibanding tahun 2005. Tahun 2007 kenaikan mencapai 24%, dan untuk periode tiga bulan pertama 2008, kenaikan harga pangan