Studi Perbaikan Sifat Kimia Tanah Lahan Pasca Tambang Konawe Selatan… : 91 - 95 Jurnal GEOSAPTA Vol. 7 No.2 Juli 2021 91 STUDI PERBAIKAN SIFAT KIMIA TANAH LAHAN PASCA TAMBANG KONAWE SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN SLAG SEBAGAI AMELIORAN Rina Rembah 1* , Usriadi 1 , Nurfasiha 1 , Zulfahmi 2 , Yuniar Siska Novianti 3 1 Teknik Pertambangan, Fakultas Sains dan Teknologi USN Kolaka 2 Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, UPRI, Makassar 3 Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat e-mail: * rina_mining02@yahoo.com ABSTRAK Penggunaan slag baja sebagai untuk memperbaiki sifat kimia tanah telah banyak dilakukan di negara Jepang, Jerman dan Amerika dan di Indonesai beberapa peneilitian juga telah dilakukan tentang pemanfaatan slag baja di bidang pertanian. Tapi penelitian penggunaan slag nikel masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbaikan sifat kimia tanah menggunakan slag sebagai amelioran. Melaui dua pendekatan yaitu pertama Rancang acak untuk mengetahui komposisi perbandingan penggunaan slag sebagai amelioran ini. Pendekatan kedua adalah indikator pertumbuhan tanaman uji. Dengan pengukuran dilakukan selama kurang lebih 1 bulan. Berdasarkan hasil rancangan acak diperoleh dua perbandingan komposis yaitu 1 :1 dan perbandingan 2 : 1. Dengan hasil pengukuran di indikator di peroleh adanya peningkatan tinggi pohon, lebar daun, disetiap minggu pengukuran. Peningkatan untuk perbandingan 1 : 1, tinggi pohon mulai minggu 0 – ke 4 : 25 cm, 26 cm, 26,6 cm, 27,3 cm, dan 28 cm. Peningkatan lebar daun mulai minggu 0- ke 4 : 3,09 cm, 3,11 cm, 3,18 cm, 3,18 cm, dan 3,19 cm. Sedangkan hasil dengan perbaNdingan 2 : 1 di peroleh hasil tinggi pohon mulai 0 ke 4 ; 34 cm, 36 cm, 37 cm, 38,1 cm, untuk lebar daun dari minggu 0 ke 4 ; 3,41 cm, 3,47 cm, 3, 52 cm, 3,58 cm, serta diameter daun darai minggu 0 ke 4 ; 0,5 cm, 0,52 cm, 0,53 cm, 0,55 cm. Diharapkan melalui penelitian diperoleh data yang scientific bahwa slag nikel memiliki nilai tambah yaitu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah pada lahan kritis pasca tambang. Kata-kata kunci: slag nikel, rancang acak, tanaman indikator. PENDAHULUAN Stell slag (terak baja) adalah produk sampingan yang terbentuk dalam proses pembuatan baja. Secara garis besar, proses pembuatan baja dibagi menjadi tiga proses, yaitu : proses pembuatan besi, proses pembuatan baja, dan proses pemberian bentuk produk. Berdasarkan proses tersebut steel slag di kelompokan atas blast furnace slag (BF slag) dan slag pembuatan baja (steel-making slag). Di Jepang, pada awalnya steel slag digunakan sebagai bahan pengapuran. Akan tetapi di Indonesia masih belum di manfaatkan sebagai bahan amelioran tanah karena bahan tersebut masih tergolong dalam limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 85 Tahun 1999, padahal hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa terak baja (electric furnace slag) Indonesia dapat meningkatkan pH tanah, Ca dan Mg dapat dipertukarkan, dan menurunkan Al dapat di pertukarkan dalam tanah [1]. Slag adalah salah satu jenis limbah peleburan bijih nikel setelah melalui proses pembakaran. Produksi dari terak nikel PT. Aneka Tambang Pomalaa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara selama kurung waktu priode 2011-2012 sekitar 1 juta ton terak, dengan kandungan nikel dalam pengolahan bijih nikel adalah antara 1,80% sampai 2,00%. Secara visual, bentuk fisik dari terak nikel ini menyerupai agregat baik yang halus menyerupai pasir maupun yang kasar menyerupai krikil. Terak terjadi akibat penggumpalan mineral silika, potas, dan soda dalam proses peleburan logam atau melelehnya mineral-mineral tersebut dari bahan wadah pelebur akibat proses panas yang tinggi. Di ketahui bahwa komposisi kimia slag pada PT.Aneka Tambang Pomalaa terdiri dari SiO2 (lebih dari 55%), MgO (kira-kira 30%), CaO (kira- kira 6%), Fe (kira-kira 4,5%) Al2O3 (lebih dari 2%), (Wayan Mustika, Juli 2016). Amelioran atau pembenah tanah adalah bahan alami atau bahan organik yang memperbaiki kerusakan fisik dan kimia tanah yang mengandung mineral-mineral yang berguna untuk memperbaiki struktur tanah serta menanggulangi kerusakan atau degradasi tanah. Untuk mengetahui fungsi slag sebagai amelioran maka dilakukan dengan pendekatan rancang acak yaitu untuk mendapat komposisi pemberian slag sebagai amlioran. Yaitu dengan perbandingan 1 : 1 dengan artian 1 kg tanah berbanding dengan 1 kg slag. Dan penilian dengan indikator laju tumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil Peningkatan untuk perbadingan 1 : 1, tinggi pohon mulai minggu 0 – ke 4 : 25 cm, 26 cm, 26,6 cm, 27,3 cm, dan 28 cm. Peningkatan lebar daun mulai minggu 0- ke 4 : 3,09 cm, 3,11 cm, 3,18 cm, 3,18 cm, dan 3,19 cm. Sedangkan hasil dengan perbadingan 2 : 1 di peroleh hasil tinggi pohon mulai 0 ke 4 ; 34 cm, 36 cm, 37 cm, 38,1 cm, untuk lebar daun dari minggu 0 ke 4 ; 3,41 cm, 3,47 cm, 3, 52 cm, 3,58 cm, serta diameter daun darai minggu 0 ke 4 ; 0,5 cm, 0,52 cm, 0,53 cm, 0,55 cm.. METODOLOGI Dalam Penelitian ini menggunakan slag hasil pemurnian pabrik ferronikel. Slag ini digunakan sebagai bahan amelioran, dan tanah overburden bekas pasca tambang. kemudian untuk indikator fungsi menggunakan tanaman biti sebagai tanaman indikator untuk melihat fungsi slag sebagai pembenah tanah dalam memrepbaiki sifat kimia lahan pasca tambang. Pencampuran slag digunakan dengan pendekatan rancang acak dengan erbadingan 1 : 1. Setelah media tanam siap selanjutnya tanaman indikator ditanam dan pengukuran dengan siklus pengukuran yaitu per minggu selama 1 bulan, indikator pengukuran yaitu tinggi pohon dan lebar daun.