Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN 1693-4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta, 12 April 2018 Jurusan Teknik Kimia, FTI, UPN “Veteran” Yogyakarta B4 - 1 Mekanisasi Pengaduk Adonan Bahan Baku Wingko Babat Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Produk Luqman Buchori 1 *, Didi Dwi Anggoro 2 dan Dyah Hesti Wardhani 3 Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto, SH, Tembalang, Semarang, 50275, Telp/Fax: (024)7460058 * E-mail : luqman.buchori@che.undip.ac.id Abstract One of the typical food souvenir of Semarang City is wingko babat. This food is much hunted by the tourists both local and foreign. The production process of the wingko babat includes the preparation of raw material dough, molding, cooking, cooling and packaging. The process of making raw material dough is still manual that is using human power so it takes a long time. As a result the production process of wingko babat become inefficient. The quality of wingko babat produced is also not good, unhygienic, the tenderness of the dough is not homogeneous, the texture of wingko looks rough and requires a lot of labor. Consequently, consumer interest also declined. This constraint can be overcome by improving the dough making system of raw material wingko babat that is by changing the process of making the dough from the manual to the modern way that is by mechanization of dough mixer equipment. This equipment consists of six main parts: (1) mixing bath, (2) mixer, (3) as, (4) mounting table, (5) driving motor, and (6) speed regulator. The result of this mixer application shows the process of making the dough faster. This results in an increase in the quantity and quality of production. Production capacity increased 40% per day. Production turnover rose to almost 33% and UKM profits increased almost 1.5-fold due to rising production levels. The quality of the wingko babat product produced also increases. The texture of the product becomes soft so it attracts consumers. Increased productivity can meet market demand especially in tourist season. Keywords: raw material dough; mixer; wingko babat Pendahuluan Wingko babat merupakan salah satu oleh-oleh makanan khas Kota Semarang. Oleh sebab itu keberadaan industri wingko babat ini tidak dapat diabaikan sebagai suatu unit usaha kecil komersial. Terdapat beberapa UKM wingko babat di kota ini, diantaranya adalah UKM INDRA dan UKM PRATAMA yang terletak di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. UKM INDRA (pemilik Bapak Maryanto) dan UKM PRATAMA (pemilik Bapak Yoko Setiyo) merupakan dua wirausaha wingko babat yang bekerja secara sinergis. UKM INDRA menempati areal seluas 600 m2 dengan tempat produksi seluas 200 m2. Sedangkan UKM PRATAMA menempati areal seluas 500 m2 dengan tempat produksi seluas 150 m2. Pada kondisi normal, UKM INDRA memproduksi wingko babat per harinya mencapai 4500 biji dengan bahan baku sebanyak 80 kg. Sedangkan produksi wingko babat UKM PRATAMA sebanyak 3000 biji/hari dengan kebutuhan bahan baku sebanyak 40 kg. Penjualan wingko babat dilakukan per paket. Dalam satu paket berisi 20 biji. Wingko babat ini dijual dengan berbagai rasa, yaitu rasa original (kelapa), rasa nangka, rasa durian dan rasa coklat (http://id.wikipedia.org/wiki/Wingko_babat). Rasa original dijual di pasaran dengan harga Rp. 12.000/paket, sedangkan rasa campuran (kelapa, durian, nangka, coklat) dijual dengan harga Rp. 16.000/paket. Total omset UKM INDRA sebesar Rp 3.080.000,-/hari. Keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi biaya bahan, operasional untuk listrik, tenaga kerja, dan lain-lain (Rp 2.350.000,-), sebesar Rp 730.000,-/hari. UKM PRATAMA mempunyai omset per hari mencapai Rp 2.040.000,-/hari. Setelah dikurangi biaya bahan, operasional untuk listrik, tenaga kerja, dan lain-lain (Rp 1.600.000,-), keuntungan yang diperoleh sebesar yaitu Rp 440.000,-/hari. Keuntungan per hari yang diperoleh kedua UKM masih tergolong kecil. Dengan kondisi seperti ini, pengembangan usaha ke arah yang lebih besar dan jangkauan pemasaran yang luas menjadi terkendala. Padahal, kedua UKM ini cukup potensial bagi pengembangan ekonomi wilayahnya terutama dari sisi penyerapan tenaga kerja lokal. Sebagai contoh tenaga kerja yang terlibat dalam kedua UKM ini adalah mereka yang berdomisili di sekitar lokasi dengan jumlah rata-rata 16 orang terdiri dari tenaga produksi 5 orang, tenaga serabutan 4 orang, transportasi 2 orang dan tenaga pemasaran sebanyak 5 orang. Kendala yang dihadapi oleh kedua UKM wingko babat ini adalah pada proses pembuatan adonan bahan baku yang masih manual. Proses pembuatan adonan bahan baku masih dilakukan dengan tenaga manusia sehingga