JURNAL FARMASI SAINS DAN KOMUNITAS, November 2014, hlm. 81-85 Vol. 11 No. 2 ISSN: 1693-5683 HUBUNGAN PROCALSITONIN DAN GAMBARAN MORFOLOGI LEUKOSIT PADA INFEKSI BAKTERIAL Fenty, Dita Maria Virginia Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Abstract: Bacterial sepsis increases morbidity and mortality in all ages. Early detection has been shown to be crucial for the improved outcome of patients with sepsis. Till now there is no routine test for screening. Procalcitonin and morphology of leukocytes are biomarkers of bacterial sepsis. The aim of this study was to determine the relationship between procalcitonin and morphology of leukocytes as marker in bacterial infection. This study was analytical observational with cross sectional design and data collected prospectively.This study measured simultaneously the value of procalcitonin and morphology of leukocytes examination in patients with suspected bacterial infection in hospital X of Yogyakarta. Data were analysed by statistics. The results showed immature granulocytes and vacuolization of neutrophils in the leucocytes morphology has a significant correlation with level of procalcitonin. Keywords: bacterial infection, procalcitonin, morphology of leukocytes 1. Pendahuluan Sepsis bakterial merupakan kondisi respon sistemik terhadap infeksi oleh agen mikrobia bakterial yang akan mengikutsertakan mediator proinflamatori seperti TNF-α dan IL-6 (James et al., 2010, Jin&Khan, 2010). Penegakan diagnosis awal yang lebih cepat pada keadaan sepsis dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas serta ketepatan pemberian antibiotik. Berikut merupakan beberapa penanda sepsis karena infeksi bakterial seperti kultur darah, procalsitonin (PCT), C- reactive protein, IL-6, parameter hemogram dan gambaran morfologi leukosit (Rowther et al., 2009, Khair et al., 2010). Dari berbagai marker infeksi bakterial, PCT merupakan penanda spesifik infeksi bakterial berat dan dapat membedakan antara sepsis dengan SIRS (systemic inflammatory respons syndromes) (Pangalila, 2014). Procalcitonin (PCT) merupakan prekursor hormon calcitonin yang terdapat pada sel C kelenjar tiroidal dan pada sel neurohormon extratiroidal. Pada saat awal terjadinya sepsis akan terjadi peningkatan konsentrasi PCT dan peningkatan tersebut hanya terjadi pada infeksi yang disebabkan oleh bakterial bukan oleh virus. Pada kondisi normal tanpa ada infeksi, PCT hanya terdapat pada sel C di kelenjar tiroid, namunpada saat terjadi infeksi bakterial akan terjadi peningkatan konsentrasi PCT. Hal ini terjadi karena bila tidak terjadi infeksi transkripsi CALC-I gen dari extratiroidal akan ditekan. Saat terjadi infeksi bakterial, ion CALC-I gen dari CT-RNA messager akan diekspresikan dari berbagai sel neuroendokrine extratiroidal (jaringan parenkim) di dalam tubuh sehingga seluruh molekul PCT akan menyebar secara sistemik (Linscheid et al., 2003, Christ-Crain and Muller, 2007). Konsentrasi PCT pada subjek sehat kurang dari 0,5 μg/L dan akan meningkat sampai dengan 100 μg/L selama infeksi bakterial akut, parasit, dan atau jamur yang disertai dengan manifestasi sistemik, bahkan bila tidak terdapat kelenjar tiroid. Hal ini mendukung pernyataan sebelumnya bahwa pada saat terjadi inflamasi, PCT juga akan diproduksi oleh sel ekstratiroidal (Reinhart, Karzai, and Meisner, 2000). Salah satu keuntungan PCT yaitu spesifik terhadap endotoxin bakterial sehingga konsentrasi PCT tidak akan meningkat apabila terjadi infeksi oleh virus. Hal ini berarti PCT dapat membedakan apakah pasien terinfeksi bakterial atau virus (Rowther et al., 2009). Pengukuran PCT juga bermanfaat dalam efisiensi penggunaan antibiotik yang dapat dilihat dari menurunnya masa tinggal di rumah sakit.