PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI PAMALI SEBAGAI MEDIA INFORMASI MENGENAI BUDAYA BERNASEHAT DI MASYARAKAT SUNDA THE DESIGN OF ILLUSTRATION BOOK TITLED PAMALI AS MEDIA INFORMATION OF SUNDANESE VERBAL EXHORTATION CULTURE Fadil Erlangga 1 , Asep Kadarisman,S.Sn.,M.Sn 2 Prodi S1 Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Telkom 1 fdlerlangga@gmail.com, 2 asep@tcis.telkomuniversity.ac.id Abstrak Menurut Ajip Rosidi, melalui bukunya (2004) saat ini budaya daerah makin terkikis oleh jaman. Generasi muda saat ini tidak lagi mengenal nilai-nilai budaya nenek moyangnya, termasuk tidak mengenal adat- istiadat, filsafat, dan kesenian daerah. Faktor utama penyebab dari pergeseran budaya ini adalah kurangnya apresiasi masyarakat Sunda terhadap Budayanya sendiri. Budaya Sunda, terutama yang melingkup kota besar seperti Bandung juga tidak luput dari hantaman pergeseran budaya ini, termasuk didalamnya adalah pamali sebagai budaya bernasehat dan pendidikan disiplin orang Sunda. Pamali dapat diartikan sebagai pantangan, atau sesuatu yang tidak boleh dilakukan dan tidak boleh dilanggar. Secara etimologi, pamali berasal dari kata mali yang dalam bahasa sunda berarti bali dan dapat dipergunakan dalam arti lain yaitu balik dan malik (berbalik). Imbuhan pa- pada kata pamali ini merupakan imbuhan alat/perkakas, jadi pamali dapat diartikan sebagai alat untuk membalikkan. Secara filosofis pamali mengajarkan kepada masyarakat muda Sunda untuk tidak lupa dengan disiplin budaya Sunda, orang tua, serta kampung halaman (Mustapa, 2010). Maka dari itu, salah satu solusi yang dapat disuguhkan dari permasalahan terkikisnya budaya Sunda oleh hantaman pergeseran budaya ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat muda, terutama anak-anak terhadap pamali yang secara filosofis memiliki makna yang dalam tentang mengingat budaya Sunda. Kata kunci : budaya sunda terkikis, pamali, budaya bernasehat Abstrak According to Ajip Rosidi, through his book (2004) today local culture is increasingly eroded by the times. The current young generation is no longer familiar with the cultural values of its ancestors, including not knowing local customs, philosophy, and arts. The main factor causing this cultural shift is the lack of appreciation of the Sundanese people toward their own culture. Sundanese culture, especially those covering big city like Bandung also not escape from this current flow of cultural shift, including in it, is pamali as culture of education and Sundanese discipline. Pamali can be interpreted as taboo, or something that should not be done and should not be violated. Etymologically, pamali is derived from the word mali which in Sundanese means bali and can be interpreted as balik and malik (turned around). The prefix - pa in pamalimeans tools/instrument, so pamali can be described as a tools/instrumen for "turned around" . Philosophically pamali taught the young people of Sundanese not to forget the Sundanese cultural discipline, parents, and hometown (Mustapa, 2010). Therefore, one solution that can be served from the problem of the erosion of Sundanese culture by this hit in cultural shift is to provide information to young people, especially children to pamali, which philosophically has a deep meaning about remembering Sundanese culture. Key Word : Sundanese Culture Eroded, Pamali, Discipline Culture. ISSN : 2355-9349 e-Proceeding of Art & Design : Vol.5, No.1 Maret 2018 | Page 134