21 Karakterisasi dan Resiliensi Tanah Terdegradasi di Lahan Kering Kalimantan Tengah Characterization and Resilience of Upland Degraded Soils of Central Kalimantan M.A. FIRMANSYAH 1 , SUDARSONO 2 , H. PAWITAN 3 , S. DJUNIWATI 4 , DAN G. DJAJAKIRANA 4 ABSTRAK Degradasi tanah merupakan isu penting karena terkait dengan pengelolaan lahan dan kualitas lingkungan berkelanjutan. Pemulihan tanah degradasi lebih tepat dilakukan, jika diketahui karakteristik atau resiliensinya. Tujuan utama penelitian ini adalah karakterisasi dan klasifikasi tanah terdegradasi di lahan kering di Kalimantan Tengah berdasarkan kualitas lahan (LQ) yang menentukan kelas kesesuaian lahan pada tipe penggunaaan lahan (LUT). Kualitas lahan yang digunakan terdiri atas ketersediaan air (w), ketersediaan hara (n), toksisitas Al (t), ketahanan tanah terhadap erosi (e), dan deteriorasi tanah antropogenik (d). Tipe penggunaan lahan yang digunakan antara lain padi lokal, padi- padi-kedelai, karet, dan kelapa sawit pada tiga pola A, B, dan C. Tujuan lainnya adalah karakterisasi dan klasifikasi degradasi dan resiliensi tanah berdasarkan indeks lahan dan kelas kesesuaian lahan. Pengkelasan kesesuaian lahan secara parametrik didasarkan indeks lahan yang berasal dari pendugaan produksi komoditas masing-masing LUT berdasarkan kualitas lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alfisols memiliki daya dukung tertinggi ditunjukkan dengan indeks lahan yang lebih tinggi dari tanah lainnya pada LUT kelapa sawit. Indikator utama degradasi dan resiliensi tanah adalah LQ ketersediaan hara, ketersediaan air, dan toksisitas Al. Potensi tanah yang tinggi tidak menunjukkan kemampuan resiliensi, begitu pula sebaliknya bahwa potensi tanah yang rendah tidak menjamin rentan degradasi. Resistensi tanah di lokasi penelitian relatif tinggi. Lahan pertanian yang terdegradasi umumnya sulit untuk pulih kembali melalui masa revegetasi alami yang dikenal sebagai lahan tidur. Resiliensi alami maupun resiliensi antropogenik tidak banyak berbeda di tanah- tanah lahan kering Kalimantan Tengah. Taksa tanah tidak mampu menunjukkan perbedaan terjadinya degradasi dan resiliensi di lahan kering Kalimantan Tengah. Kata kunci : Degradasi, Resiliensi, Lahan kering ABSTRACT In relation to land management and sustainable environment quality, soil degradation is considered as important issue. Soil degradation could be appropriately overcome when the characteristics of restoration or its resilience are recognized. The main purpose of this research is to characterize and classify upland degraded soils in Central Kalimantan based on land quality (LQ) that determine land suitability classification within land utilization type (LUT). The parameters of LQ involve water availability (w), nutrient availability (n), Al toxicity (t), soil resistance to erosion (e), and antropogenic soil deterioration (d). While, for LUT, there are several types i.e. rice; rice-rice-soybean; rubber; and oil palm within three patterns A, B, C. The other purpose is to characterize and classify degraded soils and soil resilience based on land index and land suitability classification. The parametric reffering to land index taken from production of commodity estimation within each LUT based on land quality is used to classify land suitability. Research result shows that Alfisols has the highest soil capability. It is indicated by land index that is higher than the other soils. The main indicators of soil degradation and resilience involve LQ of nutrient availability, water availability, and Al toxicity. The high soil potency does not show the ability of resilience. On the other hand, the low soil potency cannot be able to keep sensitivity of degradation. The resistency of soils at study area is relatively high. Generally, degraded agricultural land region is difficult to be conserve through natural revegetation period known as bare land. Both natural and antropogenic resilience are not quite different at upland soils in Central Kalimantan. Soil taxa cannot reflect the difference of degradation process and resilience at upland soils in Central Kalimantan. Keywords : Degradation, Resilience, Upland PENDAHULUAN Konsep pengelolaan lahan berkelanjutan terkait dengan degradasi dan resiliensi tanah. Menurut FAO (1997), degradasi tanah merupakan proses penurunan kemampuan tanah untuk memproduksi barang dan jasa. Umumnya, untuk mengetahui tingkat degradasi tanah disusun klasifikasi degradasi tanah. Klasifikasi degradasi tanah di tingkat global (GLASOD) dan tingkat regional di Asia Selatan dan Asia Tenggara (ASSOD) lebih menekankan pada faktor eksternal erosi, serta faktor internal memburuknya sifat kimia dan fisik tanah akibat ulah manusia (Oldeman 1994; Lynden and Oldeman 1997), sedangkan klasifikasi degradasi tanah di Indonesia beragam. Menurut Suwardjo et al. (1996) klasifikasi degradasi tanah di sektor kehutanan 1. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Palangkaraya. 2. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. 3. Guru Besar pada Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, IPB, Bogor. 4. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. ISSN 1410 – 7244