Jurnal SISFOKOM (Sistem Informasi dan Komputer), Volume 12, Nomor 03, PP 477-484
p-ISSN 2301-7988, e-ISSN 2581-0588
DOI : 10.32736/sisfokom.v12i3.1730, Copyright ©2023
Submitted : May 17, 2023, Revised : July 5, 2023, Accepted : October 17, 2023, Published : November 9, 2023
477
Identifikasi PenipuanKartu Kredit Pada Transaksi
Ilegal Menggunakan Algoritma Random Forest
dan Decision Tree
Indah Werdiningsih
[1]
, Endah Purwanti
[2]
, Gede Rangga Wira Aditya
[3]
, Auliya Rakhman Hidayat
[4]
, R. Sulthan
Rafi Athallah
[5]
, Virda Adisty Sahar
[6]
, Tio Satrio Wibisono
[7]
, Darren Febriand Nura Somba
[8]
Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
indah-w@fst.unair.ac.id
[1]
, endahpurwanti@fst.unair.ac.id
[2]
, gede.rangga.wira-2020@fst.unair.ac.id
[3]
,
auliya.rakhman.hidayat-2020@fst.unair.ac.id
[4]
, raden.sulthan.rafi-2020@fst.unair.ac.id
[5]
,
virda.adisty.sahar-2020@fst.unair.ac.id
[6]
, tio.satrio.wibisono-2020@fst.unair.ac.id
[7]
,
darren.febriand.nura-2020@fst.unair.ac.id
[8]
Abstract— The use of credit cards is increasing in today's
digital era. This increase has resulted in many cases of fraud
which have had a negative impact on credit card owners. To
overcome this, many financial institutions have developed credit
card fraud detection systems that can identify suspicious
transactions. This study uses a classification method, namely
random forest and decision tree to identify illegal transactions
using a credit card, which then compares the results and attempts
to create a model that can be useful for detecting fraud using a
credit card that is more accurate and effective. The result of this
study is that the accuracy provided by the Decision Tree Classifier
is 0.98, while the accuracy provided by the Random Forest
Classification is also 0.975. The conclusion obtained that the
decision tree has a higher level of accuracy compared to the
Random Forest Classification Algorithm, which is 98%. On the
other hand, the Random Forest classification algorithm has a
slightly lower level of accuracy compared to the Decision Tree
classification algorithm, with an accuracy rate of 97.5%
Keywords—Credit Card, Classification, Decision Tree,
RandomForest
Abstrak— Penggunaan kartu kredit semakin meningkat
dalam era digital saat ini. Peningkatan tersebut berdampak
padabanyaknya kasus penipuan yang berdampak buruk bagi
pemilik kartu kredit. Untuk mengatasinya, banyak lembaga
keuangan telah mengembangkan sistem deteksi penipuan
menggunakan kartu kredit yang dapat mengidentifikasi
transaksi yang mencurigakan. Penelitian ini menggunakan
metode klasifikasiyaitu random forest dan decision tree dalam
mengidentifikasi transaksi ilegal menggunakan kartu kredit
yang kemudian dibandingkan hasilnya dan berusaha untuk
membuat model untuk mendeteksi penipuan menggunakan
kartu kredit yang lebih akurat dan efektif. Hasil dari penelitian
ini adalah akurasi yang diberikan oleh Decision Tree Classifier
sebesar 0.98, sementara akurasi yang diberikan oleh Random
Forest Classification juga sebesar 0.975. Kesimpulan yang
didapat bahwa decision tree memiliki tingkat akurasi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan Algoritma Klasifikasi
Random Forest yaitu 98%. Kemudian, algoritma klasifikasi
Random Forest memiliki tingkat akurasi yang sedikit lebih
rendah dengan algoritma klasifikasi Decision Tree dengan
tingkat akurasi 97,5%.
Kata Kunci—Kartu Kredit, Klasifikasi, Decision Tree,
Random Forest
I. PENDAHULUAN
Dalam era digital saat ini, penggunaan kartu kredit
semakin meluas dan telah menjadi salah satu metode
pembayaran yang paling populer di seluruh dunia. Kredit
biasanya digunakan untuk merujuk pada transaksi keuangan
elektronik yang dilakukan tanpa penggunaan kas fisik [1].
Namun, peningkatan penggunaan kartu kredit juga diikuti
dengan peningkatan kasus penipuan yang menggunakan
kartu kredit. Penipuan ini dapat berdampak buruk bagi
pemilik kartu kredit dan lembaga keuangan yang terkait
sehingga perlu adanya upaya untuk mengidentifikasi dan
mencegah transaksi ilegal yang menggunakan kartu kredit
[2].
Untuk mengatasi masalah ini, banyak lembaga keuangan
telah mengembangkan sistem deteksi penipuan
menggunakan kartu kredit yang dapat membantu
mengidentifikasi transaksi yang mencurigakan atau ilegal.
Namun, sebuah transaksi tidak dapat secara murni
diklasifikasikan sebagai penipuan atau secara asli pada
sistem, mereka hanya mencari kemiripan dan kemungkinan
transaksi menjadi penipuan berdasarkan studi ekstensif
perilaku pelanggan, kebiasaan belanja mereka dan juga
menganalisis penipuan yang dilakukan sebelumnya, yang
kemudian akan diamati pola mereka [3]. Selain itu, masalah
yang sering muncul adalah kurangnya akurasi dalam
mengklasifikasikan transaksi sebagai legal atau ilegal
sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan dalam
menolak transaksi yang sebenarnya legal atau menerima
transaksi yang seharusnya ditolak.
Penyelesaian masalah terkait klasifikasi/prediksi
menggunakan machine learning saat ini menjadi acuan yang