Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab ISSN: 2622-3570 Volume 6, Nomor 2, Februari 2024 E-ISSN:2621-394X Halaman : 11-17 DOI.210.35941/JATL Penentuan Status Hara Daun pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Determination of Leaf Nutrient Status in Smallholder Palm Oil Plantations WILDAN KAHFI SEMBIRING 1)* , HARIYADI 2 , EDI SANTOSA 3 , HERU SUKOCO 4 (1,2,3,) Program Studi Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Sekolah Pascasarjana, IPB University (4) Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dam Ilmu Pengetahuan Alam, IPB University Jl. Meranti, Babakan, Kec. Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat , Indonesia. *e-mail: wildankahfisembiring@apps.ipb.ac.id Manuscript received: 5 Juli 2023 Revision accepted: 26 Desember 2023 ABSTRACT Increasing the production of smallholder oil palm plantations still needs to be optimal. The nutrient availability is one of the limiting factors in supporting oil palm productivity. Fertilizer management can help to increase production. The digitization system in fertilization makes it easier to apply fertilizer to oil palm plants so that it is effective and appropriate. The research aimed to see the potential of images originating from the Sentinel-2A satellite to replace the LSU method or to verify the accuracy of using Sentinel-2A imagery for the precision application of fertilization in smallholder oil palm plantations. The leaf analysis showed N deficiency conditions at the four locations, optimum P conditions except for Kandis 2, and K deficiency conditions at Dayun and Kandis 2. Meanwhile, soil analysis results appeared very high N levels at Kandis 2, deficient P levels at Kandis 1 and very diverse soil K content conditions at the Dayun. Acidic soil pH conditions were detected at Dayun and Kandis 3 locations, while soil with very acid pH was found at Kandis 1 and Kandis 2 locations. The regressions (R 2 ) of NDVI values towards LSU for N, P and K were 0,0083, 0,0021 and 0,0622, respectively. Key word: smallholder plantations, LSU, precision, Sentinel-2A ABSTRAK Produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat masih belum optimal. Faktor ketersediaan hara menjadi salah satu pembatas dalam mendukung produktivitas kelapa sawit. Manajemen pengelolaan pemupukan dapat membantu meningkatkan produksi. Sistem digitalisasi dalam pemupukan memudahkan aplikasi pupuk pada tanaman kelapa sawit agar efektif dan sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi citra yang berasal dari satelit Sentinel-2A dapat menggantikan metode LSU atau verifikasi akurasi penggunaan citra Sentinel-2A untuk penerapan presisi dalam pemupukan pada perkebunan kelapa sawit rakyat. Hasil analisis daun yang telah dilakukan menunjukkan kondisi defisiensi unsur N pada empat lokasi penelitian, kondisi optimum P kecuali pada lokasi Kandis 2, serta kondisi defisiensi unsur K pada lokasi Dayun dan Kandis 2. Sementara itu hasil analisis tanah menunjukkan kadar N yang sangat tinggi pada lokasi Kandis 2, kadar P yang sangat rendah pada lokasi Kandis 1 dan kondisi kandungan K dalam tanah yang sangat beragam di lokasi Dayun. Kondisi pH tanah yang masam terdeteksi pada lokasi Dayun dan Kandis 3, sedangkan pH tanah yang sangat masam ditemukan di lokasi Kandis 1 dan Kandis 2. Regresi (R 2 ) nilai NDVI terhadap LSU untuk N, P, dan K masing-masing adalah 0,0083, 0,0021, dan 0,0622. Kata kunci : perkebunan rakyat, LSU, presisi, Sentinel-2A PENDAHULUAN Luas areal perkebunan kelapa sawit rakyat merupakan yang terbesar kedua pengusahaannya di Indonesia setelah perkebunan besar swasta, yaitu sebesar 6 379 937 ha (41,48%) dari total luas lahan perkebunan kelapa sawit 15 380 981 ha pada tahun 2022 (Dirjenbun 2021). Produksi total minyak kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2018 berasal dari perkebunan besar swasta (PBS) dengan total produksi 59,3%, disusul perkebunan rakyat sebesar 35,6%, dan perkebunan besar negara (PBN) sebesar 5% dari total produksi. Luas perkebunan kelapa sawit milik rakyat tidak diimbangi dengan produktivitas yang baik. Provinsi Riau merupakan wilayah yang memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia dengan luasan perkebunan kelapa sawit milik rakyat sebesar 1.7333.959 ha dan produksi sebesar 4.789.191 Mg (Dirjenbun 2019). Pertambahan luasan areal perkebunan kelapa sawit dari tahun 2013 hingga 2017 bertambah rata-rata sekitar 895.201 ha dengan produksi CPO rata-rata sebesar 2.407.701 Mg dengan status pengusahaan dari perkebunan rakyat, PBN, dan PBS (Dirjenbun 2017). Pengembangan luasan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak sejalan dengan peningkatan produksi CPO. Tidak terjadinya peningkatan produksi CPO disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor biotik, abiotik, teknologi, dan manajemen produksi pada pengusahaan perkebunan kelapa sawit. Faktor biotik dan abiotik dapat menyebabkan penurunan produksi kelapa sawit. Faktor abiotik yang menjadi pembatas yaitu ketersediaan hara. Faktor ketersediaan hara pada tanah memiliki dampak terhadap produksi kelapa sawit, defisiensi unsur hara dapat mengganggu